|
|
comments (1)
|
Sebelum menjelaskan valentine day kita harus mengetahui hakikat valentine day dan hakikat tahun baru masehi. Sebab syi’ar valentine adalah syi’ar cinta atau hari kasih sayang yang juga sangat dijarkan oleh Islam. Sehingga dalam hal ini banyak kerancauan atau kesalah pahaman hingga banyak dari kaum muslimin tergesa-gesa menerima .Bahkan bukan hanya menerima saja akan tetapi mengokohkan dan membela dan ikut memeriahkanya.. Padahal kalau kita mencerna dengan tenang dan kita renungi permasalahannya maka akan sangat gamblang dan jelas hukumnya.
Dikatakan oleh para ulama “alhukmu ala syaiin far'un an tasowwurihi ” artinya menghukumi sesuatu itu harus tahu terlebih dahulu gambaran dari permasalahan sesuatu tersebut maqsudnya" Jikalau orang ingin menghukumi sesuatu maka tentunya ia harus tahu benar akan sesuatu yang akan dihukumi supaya tidak salah. Gambaran sederhananya adalah, seseorang yang menjelaskan hukum halal dan haram diharuskan tahu dua hal pertama tahun hakikat halal dan haram. Halal adalah sesuatu yang direstui atau diizinkan oleh Allah SWT sedangkan haram adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT . kedua tahu hakekat sesatu yang di hukumi halal atau haram.
Valentine day adalah perayaan kejadian yang asal-usulnya sangat bertentangan dengan aqidah islam. Sebelum orang nasrani merayakanya valentine adalah hari memperingati kelahiran tuhan di Rumania yang mereka yakini. Kemudian didalam sebagian masyakat nasrani valentine adalah hari untuk mengenang seorang tokoh nasrani santo Valentino yang mati di hari itu yang akhirnya di rayakan sebagai hari valentine.Asal usul valentine banyak perbedaan hingga sebagian kaum nasrani itali menolak peryaan hari valentine . Lebh dari itu valentinee day itu sudah menjadi tradisi dan budaya yang dibesarkan oleh sekelompok orang dengan acara yang diwarnai dengan hal yang bertentangan dengan syariat Islam mulai dari hura-hura, teriak-teriak,mabuk-mabukan dan bercampurnya laki-laki dan perempuan dan mungkin lebih dari itu semua yang semuanya adalah syiarnya orang fasik. Budaya semacam ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam maka merayakan valentine day adalah tidak lepas dari budaya itu semua dan budaya semacam itu berada diluar rambu-rambu ajaran Islam. Jadi jika ada orang islam yang mengikuti budaya itu berarti hukumnya adalah haram dengan dua keharaman. Pertama mengagungkan tokoh kafir santo valentine kedua membesarkan syiarnya orang fasiq. Semoga Alloh memberi kepada kesadaran untuk menjauhi segala yang haram. wallohu a’lam bishshowab.
|
|
comments (2)
|
Suatu ketika di saat ada seorang ibu yang menemukan putranya sakit, ia bergegas mengangkat telephon dan menelepon sebuah balai pengobatan untuk mendaftarkan anaknya agar mendapatkan antrian terdepan. Begitu juga seorang pedagang yang dengan kecerdasannya membidik tempat-tempat strategis dan saat yang tepat untuk berdagang. Atau seorang ustadz yang begitu disiplin membuat program da'wah dengan membuat beberapa sarana media da'wah. Dari semua yang dilakukan oleh seorang ibu, pedagang dan ustadz adalah suatu hal yang amat dibenarkan dalam sebuah usaha. Akan tetapi disaat kita hadapkan kepada nilai keimanan dan kerinduan kepada Allah SWT, usaha-usaha itu akan menjadi tidak ada maknanya jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran akan kelemahannya dalam mencapai sebuah keberhasilan. Dan dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Allah SWT agar memberikan kesembuhan kepada sang putra, memajukan usahanya, memberikan ilmu manfaat kepada para santri dan umat.
Akan tetapi alangkah seringnya kita tertipu oleh akal kita sehingga sering kali kita melupakan Allah SWT dalam segala usaha. Siapa di antara kita yang di saat hendak membuka toko lalu mendahulukan wudhu, kemudian shalat dua raka'at dan memohon agar dimudahkan usahanya oleh Allah SWT? Siapa diantara kita yang di saat mengajak orang kepada kebaikan, mendahulukan shalat dua raka'at atau bangun di tengah malam, memohon kepada Allah SWT demi kebaikan orang yang diajak?
Sungguh seorang ustadz disaat giat mengajar atau memberi pengajian, ketulusanya amat diragukan jika ia tidak pernah memohon kepada Allah SWT untuk umat dan santri. Sungguh dikhwatirkan kekeroposan iman seorang ibu jika ternyata yang di matanya hanya usaha dhahir sementara Allah SWT tidak pernah hadir di hatinya. Sungguh seorang pedagang amat dikhwatirkan akan maksud yang tersembunyi dibalik usahanya jika dalam usahanya tidak pernah hadir kerinduan kepada bantuan Allah SWT.
Yang menyeru kepada Allah SWT tanpa sebuah ketulusan akan menghadirkan kemunafikan. Yang mencari kekayaan tanpa maksud yang baik akan mengantarkan kepada kesombongan. Yang berobat dan mencari kesehatan tanpa dibarengi rasa ketergantungannya kepada Allah SWT akan mengikis ketawakalan dan kesabaran.
|
|
comments (0)
|
Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.
Beliau rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab:
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)
Allah Ta’ala juga berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)
Wallahu'alam bissawwab...
|
|
comments (0)
|
Malam hujan turun rintik-rintik. Angin bertiup dingin menusuk tulang. Di penghujung ruang yang sempit kelihatan seseorang sedang menunaikan solat. Dalam solat terlihat begitu khusyuk. Air matanya mengalir membasahi baju. Terdengar isak tangis yang membuat hati terasa pilu. Solat itu menjadi terasa begitu indah. Selesai salam memanjatkan doa tak putus-putus. Seusai solat, tak lama hanya ada kesunyian dan tarikan nafas sambil duduk bersimpuh di atas tikar sejadah yang selama ini di gunakan. Bersebelah diri, seseorang sedang menanti…
” Pernah marah ALLOH?’ tanya seseorang itu.
Terdengar suara istighfar tak putus-putus. Air matanya masih terus saja mengalir. Beberapa tangannya mengusap pipi yang basah.
” Pernah.. tapi itu dulu, sekarang tidak lagi ”
” Kenapa? ”
” Kerana Dia tidak adil, aku menerima hanya penderitaan yang selalu Dia berikan. Bertahun-tahun aku menjauh, melupakanNya, aku kecewa padaNya ”
Kesunyian kembali menempa.. tiada lagi kata-kata terucap seketika.. detik-detik itu berlalu sepi.. terus menerus mengundang sepi…
” Lantas untuk apa kamu solat malam ini? ”
Di tatap wajah temannya yang sedang terdiam. Seumur hidup dirinya solat tidak pernah sehingga menitiskan air mata bahkan menangis terisak-isak sekalipun. Dirinya teringat bagaimana Rasulullah senantiasa menangis setiap solat malam. Malam ini dia melihat sahabatnya menunaikan sholat dengan menangis terisak-isak, begitu menyayat hatinya.
” Aku menerima musibah, aku tidak tahu cara berdoa. Hanya solat dapat aku lakukan untuk menenangkan hati ini ”
Alloh Berfirman,
”Jika Seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku akan mendekatkan diriKu sehasta. Jika dia mendekatkan diri kepadaKu sehasta maka Aku akan mendekatkan diriKu sedepa. Jika dia datang kepadaKu berjalan kaki maka Aku akan datang kepadanya berlari.’ (HR. Bukhari & Muslim).
|
|
comments (0)
|
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
saya pernah membaca hadis dalam buku sahih Bukhari Muslim :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- katanya : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : "Haram bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat mushafir, di mana perjalanannya melebihi dari tiga hari melainkan bersama ayah, anak lelaki, suami, saudara lelaki atau siapa saja mahramnya yang lain."
Riwayat yang menyatakan tentang larangan wanita bepergian kecuali tanpa mahram sangatlah banyak. seperti yang anda cantumkan yang menyebutkan batasan 3 hari. ada pula yang menyebutkan larangan bepergian 2 hari, ada pula yang satu hari, ada pula larangan secara mutlak wanita bepergian tanpa mahram.
|
|
comments (0)
|
Segala puji bagi Allah, shalawatserta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, parasahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.Ammaba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah,
Di bawah ini kami mengutip beberapafatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:
1. Syaikh Abdul Aziz Bin AbdullahBin Baz rahimahullah
Syaikh Bin Baz pernah ditanya:
Kami pada permulaan tahun baruhijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baruhijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), makaapa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?
Syaikh Bin Baz menjawab sbb:
Ucapan selamat tahun baruhijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan sayatidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkanpensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidakmengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semogaanda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itukami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya,adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.
2. Syaikh Muhammad bin ShalihAl-Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan 1:
Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenaiucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:
Syaikh yang mulia, apa hukummengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orangyang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?
Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Jika seseorang mengucapkan selamatkepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benardalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahunbaru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikanuntukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.
Tetapi ingat, jangan kamu memulainyakarena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwamereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belummenjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafahUmar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 diakhir tahun 1417 H).
Pertanyaan 2:
Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya:Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat padaawal tahun baru hijriyah?
Maka Syaikh Utsaiminmenjawab sbb:
Aku berpendapat bahwa memulaiucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidakdisyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikanucapan selamat tahun baru hijriyah.
Tetapi jika mereka melakukannyatidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun barudengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dankeberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah iniyang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.
(Disampaikan pada pertemuan terbukake-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).
Pertanyaan 3:
Pada kesempatan lainnya, beliau jugapernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?
Maka beliau menjawab: Ucapan selamatatas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan paraSalafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkanselamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengahmanusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudahmemahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka salingbertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Pertanyaan 4:
Pertanyaan lainnya kepada SyaikhUtsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?
Beliau menjawab: yaitu merekamengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allahmengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikanpertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.
Pertanyaan 5:
Syaikh Utsaimin ditanya: Apakahdiucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”
Beliau menjawab: Tidak, setiap tahunsemoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitriatau di tahun baru.
(Disampaikan pada pertemuan terbukake-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).
3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin AbdillahAl-Fauzanhafizhahullah
Beliau pernah ditanya: Syaikh yangmulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapanselamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah,misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiaptahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?
Syaikh menjawab sbb:
”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah danmenyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan inisesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyahadalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untukpenanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya danmereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabatmenjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalatsaja”.
4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir
Doa kepada sesama muslim dengan doaumum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatanseperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapanselamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dankeceriaan pada wajah muslim lain.
Imam Ahmad rahimahullah berkata:“Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapanselamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib.Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan jugabukan termasuk perkara yang dilarang.
KESIMPULAN:
1. Dari beberapa fatwa di atas dapatdipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat sajatidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besarkarena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yangdisyariatkan.
2. Sebaiknya kita menjelaskan kepadaumat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihandalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisaterjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwaSyaikh Shalih Al-Fauzanhafizhahullah.
3. Kita tidak disyariatkan untukmerayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaansebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lambis-shawab.
Diketik ulang oleh : Zian ([email protected])/FB
Tanggal / waktu : 30, November 2011
|
|
comments (0)
|
Oleh: Abu Muawiah Al-Makassari
Pentingnya Mengetahui Makna Kalimat Tauhid
Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada akidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya, serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah berfirman :
“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf: 86)
Dan Rasulullah telah menegaskan dalam hadits Utsman bin Affan :
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk surga”. (HR. Muslim no. 26)
05 november 2011
|
|
comments (0)
|
Assalamualaikum...
Maaf ya baru ngisi artikel lagi...!!! ![]()
Syekh Atha’ as-Silmi dikenal sebagaiguru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yangpandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya kepasar untuk dijual. Syekh Atha’ as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangatapik dan tak ada cacat.
Di tengah hiruk-pikuk keramaianpasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit. Kemudian, orang itu berkata, “Baju inicukup bagus. Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini.”
Dengan tanpa kata, Syekh Atha’menyahut pakaiannya dari tangan orang itu. Kemudian, dia duduk dan menangisterisak-isak. Orang itu bingung melihat Syekh Atha’ menangis. Namun, penyesalantampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadimelukai hati. Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.
Kemudian, Syekh Atha’ berkata,“Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira. Aku telahbersungguh-sungguh menenun baju ini. Tenunan baju ini tidak seperti baju-bajulain yang telah aku buat. Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian akutambahkan keindahan di dalamnya. Setelah itu, aku periksa dengan amat telitiuntuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.
Tapi, ketika hasil tenunanku inidiperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidakmenyadarinya. Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkaladiperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti? Berapa banyakcacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kitasadari!”
Kisah di atas menggambarkan bahwaorang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan. Apa yang terjadi dihadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dankekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepadaAllah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama initerdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan. Hal itu, dapat menyebabkanberkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan. Jika ituterjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.
Imam Ibnu Jauzi menuturkan,“Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwayang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malammengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semimengilhami untuk mencari rezeki yang halal.”
Ketajaman mata hati hanya dapatdiasah dengan taqarrub, mujahadah, dan bertawakal kepada Allah. Maka, tidakheran jika ada beberapa alim ulama yang mampu menguak rahasia di balikperistiwa karena mereka memiliki mata hati yang tajam.
Sumber : http://tarbiyahislamiyah.com/2010/mata-hati-yang-tajam/
By Zian ([email protected])
|
|
comments (0)
|
Assalamualaikum. Wr, wb.
Tiga peristiwa penting terjadi dalam bulan Agustus tahun ini. Puasa, merdeka, dan menang (fitri). Ini benar-benar langka. Peristiwa spiritual, peristiwa kebebasan dari penjajahan, dan terakhir, peristiwa keberhasilan.
Setiap orang mungkin akan mengalami hal berbeda. Artinya kemungkinan ada yang hanya mengalami satu peristiwa saja, atau dua peristiwa saja atau ketiganya, bahkan mungkin tidak ketiganya. Bisa jadi seseorang yang puasa saja tetapi tidak mengalami kemerdekaan dan kemenangan. Seorang lainnya mengalami peristiwa puasa dan kemerdekaan, namun tidak menang. Atau bahkan tidak mengalami puasa, merdeka serta kemenangan.
Mengalami ketiga hal di atas merupakan harapan semua orang. Namun, seperti biasanya, sesuatu yang sangat istimewa tidak mungkin akan dialami orang yang biasa juga. Artinya peristiwa istimewa tentunya akan dialami oleh orang yang istimewa.
Setiap peristiwa sebenarnya akan berbeda bagi individu. Seseorang beranggapan bahwa yang sedang terjadi merupakan suatu hal sangat penting, tapi menjadi kurang penting bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Pendapat lain justru bukan peristiwanya yang penting, tetapi lebih pada akibat yang ditimbulkan-lah yang sebenarnya lebih penting. Artinya jika peristiwa penting tidak menimbulkan bekas dan perubahan, maka berarti itu tidak penting.
Kesempatan langka ini sangat rugi jika tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi tidak menimbulkan bekas penting dalam kehidupan keseharian. Sebagai orang yang, semoga, memiliki kesempatan mendapat tiga kesempatan langka tersebut seharusnya dan sudah semestinya mempunyai kewajiban untuk bersyukur, tidak hanya dalam bentuk kata semata, melainkan dengan sikap, dan terutama, kepedulian.
Puasa yang dilakukan seharusnya menjadi kesempatan untuk mengolah rasa, sehingga kepedulian terhadap sesama menjadi tertanam dan beranak-pinak dalam hati dan bergelora untuk disampaikan kepada berbagai pihak.
Kesempatan mengenang peristiwa perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan negara seharusnya akan lebih hikmat lagi karena lebih dijiwai rasa perjuangan memerangi berbagai nafsu. Kemerdekaan yang terjadi tidak datang sendiri, melainkan hasil kerja keras. Seharusnya yang merdeka bukan hanya negara semata, melainkan setiap individu. Mana mungkin akan terjadi kemerdekaan yang berskala besar jika secara individu manusianya belum merdeka. Bangsa Indonesia tidak akan mengalami kemerdekaan jika masayarakatnya belum merdeka.
Sekarang saatnya untuk setiap orang agar peduli untuk memerdekakan masyarakat dari ruang kemiskinan dan kebodohan serta ketertinggalan.
Peristiwa kemenangan sebenarnya peristiwa yang diharapkan akan terjadi pada setiap perjuangan. Tidak ada pejuang yang menginginkan kekalahan setelah melakukan perjuangan. Artinya, kemenangan yang diharapkan merupakan sebuah tuntutan sederhana setiap kali menghadapi tantangan. Kemenangan mengalahkan kecurangan dan berganti dengan kejujuran, kemenangan dari ketidakberdayaan berganti menjadi berdaya, kemenangan dari ketidakpedulian menjadi sikap peduli dan membantu, kemenangan untuk keluar dari kemiskinan dan ketidakmampuan.
Berbuat dalam proses peningkatan kesejahteraan warga miskin seharusnya semakin meningkat dengan hadirnya bulan yang memiliki tiga peristiwa penting ini. Konsultan pemberdayaan warga miskin seharusnya mampu menjadikan bulan ini sebagai proses mempercepat terjadinya perubahan dalam masyarakat, terutama untuk menjadikan masyarakat miskin sebagai pemenang dalam pertarungan melawan kemiskinan.
Peristiwa puasa, merdeka, dan menang, adalah sebuah peristiwa membersihkan, menyatakan dan menikmati. Seorang yang beruntung karena diberikan kelebihan oleh yang Maha Pengatur, seharusnya mensyukuri kelebihan dengan berbagai bentuk syukur. Proses peningkatan kemampuan dan perubahan perilaku harus di mulai dari individu dalam membersihkan diri. Artinya perilaku yang akan disampaikan merupakan perilaku baik, yang secara sadar akan dilihat dan menjadi contoh bagi orang lain. Karena untuk menjadi pemenang harus dimulai dengan pembrsihan diri dan jiwa yang merdeka selama melakukan perubahan.
Perilaku yang baik harus dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan sikap, tidak mungkin orang akan mengetahui sesuatu itu baik dan layak dicontoh jika kita memiliki sikap tertutup dan tidak pernah melakukan atau mencontohkan. Proses pembersihan diri dan diwujudkan dalam sebuah perbuatan nyata tentu akan berujung pada sebuah kepuasan, terlepas berhasil atau tidaknya dalam mencapai tujuan.
Puasa, sebuah peristiwa menahan diri dari berbagai hal yang tidak baik, bisa berarti sebagai upaya pembersihan diri. Merdeka adalah kemampuan seseorang untuk melakukan segala sesuatunya secara sadar. Kemenangan adalah sebuah pengharapan dari sebuah tindakan yang dilakukan, mampu mencapai tujuan dan mampu mengungguli.
Sumber : http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=3912&catid=2&
Di ketik ulang oleh : zian (zian kzi cherbondt/FB)
|
|
comments (0)
|
UntukMu
Oleh : Segelintir Debu
Selisih hari makin kian tak terasa
Melangkah tiada henti mencari diri
Demi peroleh serangkaian kisah dan cerita
Untuk perbaharui detik-detik dalam hidup ini
Terus…
Menapak alurkehidupan demi sebuah
Harap yang takterukur
Sehelai demidehelai
Kian menumpukdalam pandangan
Berjuang menguak rahasia
Tiada letih terhadap titah
Yang terbayang hanya
Lorong itu. Hijau, tentram
Dengan alunan merdu bisikan angin
Perlahan…
Waktu berjalanpenuh berkejar-kejaran
Tanda umur taklagi muda
Tapi. Asa dandaya tetap bersua
Tak keluh kata
Tak fikir raga
Demi merendasekeping hati. Dalam nauangannya]
Pengetik ulang : Zian ([email protected])