|
|
comments (2)
|
Suatu ketika di saat ada seorang ibu yang menemukan putranya sakit, ia bergegas mengangkat telephon dan menelepon sebuah balai pengobatan untuk mendaftarkan anaknya agar mendapatkan antrian terdepan. Begitu juga seorang pedagang yang dengan kecerdasannya membidik tempat-tempat strategis dan saat yang tepat untuk berdagang. Atau seorang ustadz yang begitu disiplin membuat program da'wah dengan membuat beberapa sarana media da'wah. Dari semua yang dilakukan oleh seorang ibu, pedagang dan ustadz adalah suatu hal yang amat dibenarkan dalam sebuah usaha. Akan tetapi disaat kita hadapkan kepada nilai keimanan dan kerinduan kepada Allah SWT, usaha-usaha itu akan menjadi tidak ada maknanya jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran akan kelemahannya dalam mencapai sebuah keberhasilan. Dan dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Allah SWT agar memberikan kesembuhan kepada sang putra, memajukan usahanya, memberikan ilmu manfaat kepada para santri dan umat.
Akan tetapi alangkah seringnya kita tertipu oleh akal kita sehingga sering kali kita melupakan Allah SWT dalam segala usaha. Siapa di antara kita yang di saat hendak membuka toko lalu mendahulukan wudhu, kemudian shalat dua raka'at dan memohon agar dimudahkan usahanya oleh Allah SWT? Siapa diantara kita yang di saat mengajak orang kepada kebaikan, mendahulukan shalat dua raka'at atau bangun di tengah malam, memohon kepada Allah SWT demi kebaikan orang yang diajak?
Sungguh seorang ustadz disaat giat mengajar atau memberi pengajian, ketulusanya amat diragukan jika ia tidak pernah memohon kepada Allah SWT untuk umat dan santri. Sungguh dikhwatirkan kekeroposan iman seorang ibu jika ternyata yang di matanya hanya usaha dhahir sementara Allah SWT tidak pernah hadir di hatinya. Sungguh seorang pedagang amat dikhwatirkan akan maksud yang tersembunyi dibalik usahanya jika dalam usahanya tidak pernah hadir kerinduan kepada bantuan Allah SWT.
Yang menyeru kepada Allah SWT tanpa sebuah ketulusan akan menghadirkan kemunafikan. Yang mencari kekayaan tanpa maksud yang baik akan mengantarkan kepada kesombongan. Yang berobat dan mencari kesehatan tanpa dibarengi rasa ketergantungannya kepada Allah SWT akan mengikis ketawakalan dan kesabaran.
|
|
comments (0)
|
Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.
Beliau rahimahullah pernah ditanya,
“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”
Beliau rahimahullah menjawab:
Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-
Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)
Allah Ta’ala juga berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)
Wallahu'alam bissawwab...
|
|
comments (0)
|
Malam hujan turun rintik-rintik. Angin bertiup dingin menusuk tulang. Di penghujung ruang yang sempit kelihatan seseorang sedang menunaikan solat. Dalam solat terlihat begitu khusyuk. Air matanya mengalir membasahi baju. Terdengar isak tangis yang membuat hati terasa pilu. Solat itu menjadi terasa begitu indah. Selesai salam memanjatkan doa tak putus-putus. Seusai solat, tak lama hanya ada kesunyian dan tarikan nafas sambil duduk bersimpuh di atas tikar sejadah yang selama ini di gunakan. Bersebelah diri, seseorang sedang menanti…
” Pernah marah ALLOH?’ tanya seseorang itu.
Terdengar suara istighfar tak putus-putus. Air matanya masih terus saja mengalir. Beberapa tangannya mengusap pipi yang basah.
” Pernah.. tapi itu dulu, sekarang tidak lagi ”
” Kenapa? ”
” Kerana Dia tidak adil, aku menerima hanya penderitaan yang selalu Dia berikan. Bertahun-tahun aku menjauh, melupakanNya, aku kecewa padaNya ”
Kesunyian kembali menempa.. tiada lagi kata-kata terucap seketika.. detik-detik itu berlalu sepi.. terus menerus mengundang sepi…
” Lantas untuk apa kamu solat malam ini? ”
Di tatap wajah temannya yang sedang terdiam. Seumur hidup dirinya solat tidak pernah sehingga menitiskan air mata bahkan menangis terisak-isak sekalipun. Dirinya teringat bagaimana Rasulullah senantiasa menangis setiap solat malam. Malam ini dia melihat sahabatnya menunaikan sholat dengan menangis terisak-isak, begitu menyayat hatinya.
” Aku menerima musibah, aku tidak tahu cara berdoa. Hanya solat dapat aku lakukan untuk menenangkan hati ini ”
Alloh Berfirman,
”Jika Seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku akan mendekatkan diriKu sehasta. Jika dia mendekatkan diri kepadaKu sehasta maka Aku akan mendekatkan diriKu sedepa. Jika dia datang kepadaKu berjalan kaki maka Aku akan datang kepadanya berlari.’ (HR. Bukhari & Muslim).
|
|
comments (0)
|
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :
saya pernah membaca hadis dalam buku sahih Bukhari Muslim :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- katanya : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : "Haram bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat mushafir, di mana perjalanannya melebihi dari tiga hari melainkan bersama ayah, anak lelaki, suami, saudara lelaki atau siapa saja mahramnya yang lain."
Riwayat yang menyatakan tentang larangan wanita bepergian kecuali tanpa mahram sangatlah banyak. seperti yang anda cantumkan yang menyebutkan batasan 3 hari. ada pula yang menyebutkan larangan bepergian 2 hari, ada pula yang satu hari, ada pula larangan secara mutlak wanita bepergian tanpa mahram.
|
|
comments (0)
|
Segala puji bagi Allah, shalawatserta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, parasahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.Ammaba’du:
Para pembaca yang dirahmati Allah,
Di bawah ini kami mengutip beberapafatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:
1. Syaikh Abdul Aziz Bin AbdullahBin Baz rahimahullah
Syaikh Bin Baz pernah ditanya:
Kami pada permulaan tahun baruhijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baruhijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), makaapa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?
Syaikh Bin Baz menjawab sbb:
Ucapan selamat tahun baruhijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan sayatidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkanpensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidakmengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semogaanda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itukami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya,adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.
2. Syaikh Muhammad bin ShalihAl-Utsaimin rahimahullah
Pertanyaan 1:
Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenaiucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:
Syaikh yang mulia, apa hukummengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orangyang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?
Syaikh Utsaimin menjawab sbb:
Jika seseorang mengucapkan selamatkepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benardalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahunbaru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikanuntukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.
Tetapi ingat, jangan kamu memulainyakarena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwamereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belummenjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafahUmar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 diakhir tahun 1417 H).
Pertanyaan 2:
Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya:Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat padaawal tahun baru hijriyah?
Maka Syaikh Utsaiminmenjawab sbb:
Aku berpendapat bahwa memulaiucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidakdisyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikanucapan selamat tahun baru hijriyah.
Tetapi jika mereka melakukannyatidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun barudengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dankeberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah iniyang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.
(Disampaikan pada pertemuan terbukake-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).
Pertanyaan 3:
Pada kesempatan lainnya, beliau jugapernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?
Maka beliau menjawab: Ucapan selamatatas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan paraSalafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkanselamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengahmanusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudahmemahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka salingbertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.
Pertanyaan 4:
Pertanyaan lainnya kepada SyaikhUtsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?
Beliau menjawab: yaitu merekamengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allahmengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikanpertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.
Pertanyaan 5:
Syaikh Utsaimin ditanya: Apakahdiucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”
Beliau menjawab: Tidak, setiap tahunsemoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitriatau di tahun baru.
(Disampaikan pada pertemuan terbukake-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).
3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin AbdillahAl-Fauzanhafizhahullah
Beliau pernah ditanya: Syaikh yangmulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapanselamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah,misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiaptahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?
Syaikh menjawab sbb:
”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah danmenyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan inisesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyahadalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untukpenanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya danmereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabatmenjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalatsaja”.
4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir
Doa kepada sesama muslim dengan doaumum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatanseperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapanselamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dankeceriaan pada wajah muslim lain.
Imam Ahmad rahimahullah berkata:“Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapanselamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib.Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan jugabukan termasuk perkara yang dilarang.
KESIMPULAN:
1. Dari beberapa fatwa di atas dapatdipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat sajatidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besarkarena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yangdisyariatkan.
2. Sebaiknya kita menjelaskan kepadaumat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihandalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisaterjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwaSyaikh Shalih Al-Fauzanhafizhahullah.
3. Kita tidak disyariatkan untukmerayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaansebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lambis-shawab.
Diketik ulang oleh : Zian ([email protected])/FB
Tanggal / waktu : 30, November 2011
|
|
comments (0)
|
Oleh: Abu Muawiah Al-Makassari
Pentingnya Mengetahui Makna Kalimat Tauhid
Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada akidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya, serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah berfirman :
“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf: 86)
Dan Rasulullah telah menegaskan dalam hadits Utsman bin Affan :
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk surga”. (HR. Muslim no. 26)
05 november 2011
|
|
comments (0)
|
Assalamualaikum...
Maaf ya baru ngisi artikel lagi...!!! ![]()
Syekh Atha’ as-Silmi dikenal sebagaiguru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yangpandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya kepasar untuk dijual. Syekh Atha’ as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangatapik dan tak ada cacat.
Di tengah hiruk-pikuk keramaianpasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit. Kemudian, orang itu berkata, “Baju inicukup bagus. Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini.”
Dengan tanpa kata, Syekh Atha’menyahut pakaiannya dari tangan orang itu. Kemudian, dia duduk dan menangisterisak-isak. Orang itu bingung melihat Syekh Atha’ menangis. Namun, penyesalantampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadimelukai hati. Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.
Kemudian, Syekh Atha’ berkata,“Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira. Aku telahbersungguh-sungguh menenun baju ini. Tenunan baju ini tidak seperti baju-bajulain yang telah aku buat. Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian akutambahkan keindahan di dalamnya. Setelah itu, aku periksa dengan amat telitiuntuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.
Tapi, ketika hasil tenunanku inidiperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidakmenyadarinya. Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkaladiperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti? Berapa banyakcacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kitasadari!”
Kisah di atas menggambarkan bahwaorang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan. Apa yang terjadi dihadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dankekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepadaAllah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama initerdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan. Hal itu, dapat menyebabkanberkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan. Jika ituterjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.
Imam Ibnu Jauzi menuturkan,“Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwayang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malammengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semimengilhami untuk mencari rezeki yang halal.”
Ketajaman mata hati hanya dapatdiasah dengan taqarrub, mujahadah, dan bertawakal kepada Allah. Maka, tidakheran jika ada beberapa alim ulama yang mampu menguak rahasia di balikperistiwa karena mereka memiliki mata hati yang tajam.
Sumber : http://tarbiyahislamiyah.com/2010/mata-hati-yang-tajam/
By Zian ([email protected])
|
|
comments (0)
|
Assalamualaikum. Wr, wb.
Tiga peristiwa penting terjadi dalam bulan Agustus tahun ini. Puasa, merdeka, dan menang (fitri). Ini benar-benar langka. Peristiwa spiritual, peristiwa kebebasan dari penjajahan, dan terakhir, peristiwa keberhasilan.
Setiap orang mungkin akan mengalami hal berbeda. Artinya kemungkinan ada yang hanya mengalami satu peristiwa saja, atau dua peristiwa saja atau ketiganya, bahkan mungkin tidak ketiganya. Bisa jadi seseorang yang puasa saja tetapi tidak mengalami kemerdekaan dan kemenangan. Seorang lainnya mengalami peristiwa puasa dan kemerdekaan, namun tidak menang. Atau bahkan tidak mengalami puasa, merdeka serta kemenangan.
Mengalami ketiga hal di atas merupakan harapan semua orang. Namun, seperti biasanya, sesuatu yang sangat istimewa tidak mungkin akan dialami orang yang biasa juga. Artinya peristiwa istimewa tentunya akan dialami oleh orang yang istimewa.
Setiap peristiwa sebenarnya akan berbeda bagi individu. Seseorang beranggapan bahwa yang sedang terjadi merupakan suatu hal sangat penting, tapi menjadi kurang penting bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Pendapat lain justru bukan peristiwanya yang penting, tetapi lebih pada akibat yang ditimbulkan-lah yang sebenarnya lebih penting. Artinya jika peristiwa penting tidak menimbulkan bekas dan perubahan, maka berarti itu tidak penting.
Kesempatan langka ini sangat rugi jika tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi tidak menimbulkan bekas penting dalam kehidupan keseharian. Sebagai orang yang, semoga, memiliki kesempatan mendapat tiga kesempatan langka tersebut seharusnya dan sudah semestinya mempunyai kewajiban untuk bersyukur, tidak hanya dalam bentuk kata semata, melainkan dengan sikap, dan terutama, kepedulian.
Puasa yang dilakukan seharusnya menjadi kesempatan untuk mengolah rasa, sehingga kepedulian terhadap sesama menjadi tertanam dan beranak-pinak dalam hati dan bergelora untuk disampaikan kepada berbagai pihak.
Kesempatan mengenang peristiwa perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan negara seharusnya akan lebih hikmat lagi karena lebih dijiwai rasa perjuangan memerangi berbagai nafsu. Kemerdekaan yang terjadi tidak datang sendiri, melainkan hasil kerja keras. Seharusnya yang merdeka bukan hanya negara semata, melainkan setiap individu. Mana mungkin akan terjadi kemerdekaan yang berskala besar jika secara individu manusianya belum merdeka. Bangsa Indonesia tidak akan mengalami kemerdekaan jika masayarakatnya belum merdeka.
Sekarang saatnya untuk setiap orang agar peduli untuk memerdekakan masyarakat dari ruang kemiskinan dan kebodohan serta ketertinggalan.
Peristiwa kemenangan sebenarnya peristiwa yang diharapkan akan terjadi pada setiap perjuangan. Tidak ada pejuang yang menginginkan kekalahan setelah melakukan perjuangan. Artinya, kemenangan yang diharapkan merupakan sebuah tuntutan sederhana setiap kali menghadapi tantangan. Kemenangan mengalahkan kecurangan dan berganti dengan kejujuran, kemenangan dari ketidakberdayaan berganti menjadi berdaya, kemenangan dari ketidakpedulian menjadi sikap peduli dan membantu, kemenangan untuk keluar dari kemiskinan dan ketidakmampuan.
Berbuat dalam proses peningkatan kesejahteraan warga miskin seharusnya semakin meningkat dengan hadirnya bulan yang memiliki tiga peristiwa penting ini. Konsultan pemberdayaan warga miskin seharusnya mampu menjadikan bulan ini sebagai proses mempercepat terjadinya perubahan dalam masyarakat, terutama untuk menjadikan masyarakat miskin sebagai pemenang dalam pertarungan melawan kemiskinan.
Peristiwa puasa, merdeka, dan menang, adalah sebuah peristiwa membersihkan, menyatakan dan menikmati. Seorang yang beruntung karena diberikan kelebihan oleh yang Maha Pengatur, seharusnya mensyukuri kelebihan dengan berbagai bentuk syukur. Proses peningkatan kemampuan dan perubahan perilaku harus di mulai dari individu dalam membersihkan diri. Artinya perilaku yang akan disampaikan merupakan perilaku baik, yang secara sadar akan dilihat dan menjadi contoh bagi orang lain. Karena untuk menjadi pemenang harus dimulai dengan pembrsihan diri dan jiwa yang merdeka selama melakukan perubahan.
Perilaku yang baik harus dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan sikap, tidak mungkin orang akan mengetahui sesuatu itu baik dan layak dicontoh jika kita memiliki sikap tertutup dan tidak pernah melakukan atau mencontohkan. Proses pembersihan diri dan diwujudkan dalam sebuah perbuatan nyata tentu akan berujung pada sebuah kepuasan, terlepas berhasil atau tidaknya dalam mencapai tujuan.
Puasa, sebuah peristiwa menahan diri dari berbagai hal yang tidak baik, bisa berarti sebagai upaya pembersihan diri. Merdeka adalah kemampuan seseorang untuk melakukan segala sesuatunya secara sadar. Kemenangan adalah sebuah pengharapan dari sebuah tindakan yang dilakukan, mampu mencapai tujuan dan mampu mengungguli.
Sumber : http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=3912&catid=2&
Di ketik ulang oleh : zian (zian kzi cherbondt/FB)
|
|
comments (0)
|
UntukMu
Oleh : Segelintir Debu
Selisih hari makin kian tak terasa
Melangkah tiada henti mencari diri
Demi peroleh serangkaian kisah dan cerita
Untuk perbaharui detik-detik dalam hidup ini
Terus…
Menapak alurkehidupan demi sebuah
Harap yang takterukur
Sehelai demidehelai
Kian menumpukdalam pandangan
Berjuang menguak rahasia
Tiada letih terhadap titah
Yang terbayang hanya
Lorong itu. Hijau, tentram
Dengan alunan merdu bisikan angin
Perlahan…
Waktu berjalanpenuh berkejar-kejaran
Tanda umur taklagi muda
Tapi. Asa dandaya tetap bersua
Tak keluh kata
Tak fikir raga
Demi merendasekeping hati. Dalam nauangannya]
Pengetik ulang : Zian ([email protected])
|
|
comments (0)
|
Suhbat Mawlana Shaykh MuhammadHisham Kabbani
Rue Boyer 20 Paris, Minggu, 19 Maret 2006
Diambil dari www.m evlanasufi.blogspot.com
( Dalam Rangka Peringatan MawlidNabi Muhammad
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam
Allah Allah Allah Allah Allah Allah‘Aziiz Allah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah
Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah
Allah SWT Huwa Sulthan, Dia-lah SangSulthan.
A’uudzu billahi minasysyaithanirrajiim,
Bismillahirrahmanirrahiim. Nawaytul Arba’in Nawaytul
I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur
Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii
hadzal masjid.
Sangatlah penting untuk mengetahuibahwa Allah SWT
adalah Sang Sulthan, lihatlah apa yang tertulis di
sana [Mawlana Shaykh Hisham menunjuk ke kaligrafi
“Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok]
Allah dan di sampingnya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam -. Artinya, tak seorang pun akan
ditanya melainkan ia yang disisi Sang Pencipta.
Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian
tak akan langsung ditanyai, melainkan yang akan
ditanyai adalah ia yang bertanggung jawab atas sang
terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya
langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada
orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, Allah SWT
telah meninggikan derajat beliau – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – untuk ditanyai mewakili
keseluruhan ummat.
Para Sahabah ra, keseluruhan darimereka tahu akan
hirarki mereka. Artinya, hirarki itu ada, dan mereka
tidak melangkahi batas hirarki mereka, setiap orang
mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai
Sayyidina Abu Bakar ra, dan kemudian dari Sayyidina
Abu Bakar ra untuk mencapai Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Sayyidina
‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat
ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita
datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam
perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita
tersebut, ketika sayyidina ‘Ali – karramAllahu wajah -
berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar, apa yang
kau lakukan?”
Mereka saling mendengarkan pada satusama lainnya,
tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau
[‘Umar] tahu hal ini bahwa Nabi – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – pernah bersabda, “Ana madinatul
‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota
Pengetahuan dan ‘Ali adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar]
tahu akan hirarki yang ada, “Ya, ‘Aliy, apa yang mesti
kulakukan?” ‘Ali pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan
bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah
bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa
yang akan kau lakukan [atasnya]”.
Ini menunjukkan pada kita betapamereka, para Sahabat,
saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan
pula bahwa mereka memahami akan hirarki. Sayyidina
‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah – berkata, “’Ali
telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang
pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina
tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah
tentang sahabat Uwais al-Qarani. Saya akan menjelaskan
tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal
tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar
al-Aswad].
Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa
semua orang yang ada di sini adalah bagaikan
bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga
memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga
memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur
pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan
warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah,
jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian
akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan
setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak
akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun
tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu
bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja,
itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal.
Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi
wasallam -, Allah SWT telah membusanai beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – dengan
Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia SWT
telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui
Nama-Nama- dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Allah ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia SWT
berfirman [dalam suatu hadits qudsi, red.], “Kuntu
Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul
khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin
Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah
ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu
ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa
keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan
ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang
Allah Ta’ala akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga
[sebagaimana difirmankan Allah SWT], “Allahu Nurus
Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS.
An-Nuur 24:35], Allah-lah Cahaya Lelangit dan Bumi
[untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan
Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan
berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan
berbagai warna pelangi yang demikian beragam.
Sebenarnya, tadinya saya hendakmenceritakan tentang
Sayyidina ‘Umar ra dan ‘Ali ra untuk menjelaskan hal
tertentu, tapi saya pikir mereka mengalihkan
[pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar dan ‘Ali
yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Shaykh Nazim qs
[semoga Allah melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan
mengaruniakan beliau panjang umur]… Saya akan
kembali ke topik tersebut, tapi beliau sedikit
mengalihkan [pembicaraan kita].
Saat Allah SWT adalah suatu ‘HartaTersembunyi’,
artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui,
yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala,
Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat
memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat
memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah Ta’ala ingin
agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia SWT pun
‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk
mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara
berkesinambungan tanpa ada henti. Dan
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta
Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak
mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali
Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan
diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di
zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna
Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi
wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr
59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka
berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada
hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat
dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat
tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu
pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat
mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun
dapat mendeskripsikan air ini [Mawlana menunjuk ke
suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu
gelas, tapi kalian jika kalian tak mencicipi air
tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat
kelezatan air yang menyegarkan itu.
Allah SWT ingin untuk diketahui.Maka, untuk
diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu
ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah SWT
Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah Ta’ala mengetahui
Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah Ta’ala tahu akan
Diri-Nya, Allah tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya,
Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang
Indah tahu akan Dzat, tapi tak setiap Nama tahu satu
bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu
Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama
memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat
mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah.
Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah,
kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li
l-Asma’ was Sifat.”
“Allah” adalah Nama yang meliputikeseluruhan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan
Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami
Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan
haruslah muncul agar rahmat Allah SWT ini, yang berupa
suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau
dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda
ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah
ciptakan pertama-tama. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – menjawab, “Ia SWT pertama-tama
menciptakan cahayaku” untuk mengenakan
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah Ta’ala ini. Jadi, cahaya tersebut
diciptakan dengan tujuan untuk mengemban
manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad
tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi
dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam
Muhammad, dalam an-Nur Muhammad tersebut, Cahaya dari
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
Cahaya Muhammadaniyyah.
Nur Muhammadi yang memantulkanCahaya dari Nama-Nama
dan Sifat-Sifat Indah Allah tersebut, memantulkan ke
siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan
cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya
matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, An Nuur
Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi
suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia
pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang
dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena
itulah salah satu nama beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – adalah Muhammad, karena esensi/dzat
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – tak
dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat
digambarkan, kecuali hanya melalui
manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah Ta’ala.
Jadi, Nabi Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi
wasallam – pun harus memanifestasikan diri beliau pada
sesuatu. Maka, Allah Ta’ala pun menciptakan dari
Cahaya beliau, Adam ‘alayhissalam untuk muncul melalui
diri beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam, karena
itu Allah SWT menciptakan Adam dari manifestasi
nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, melalui
manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat
Indah Allah SWT. Ia SWT menciptakan Adam dari Cahaya
itu. Dan, karena itu pula, beliau – sallaLlahu ‘alayhi
wa aalihi wasallam – bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam
bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang Nabi
ketika Adam masih di antara tanah liat dan air”,
karena Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
telah mengetahui siapa dirinya.
Karena manifestasi dari Nama-Namadan Sifat-Sifat
Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar
suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar,
berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi,
dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi,
hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah
generator. Suatu generator jika diputar amat cepat,
akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran
listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat
menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu
pula, Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini
dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
Hakikat Sayydina Muhammad –sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam -, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah
Ta’ala pun mencelupkan cahaya Muhammad dengan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya
[literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat
beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun
berputar, dan berputar, berdasarkan Hadits Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di atas
[tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – berputar, dan
berputar, memancarkan energi, yang dari energi
tersebut, Adam muncul.
Jadi, karena itulah Adam‘alayhissalam diciptakan dan
dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Saat Allah
berkehendak menciptakannya, Ia SWT memerintahkan
Jibril ‘alayhissalam untuk pergi ke Bumi dan mengambil
segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya,
sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, “Wa laqad
karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr,
wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum
‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS.
Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan
manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di
Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari
hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka
dari sekalian ciptaan Kami lainnya”.
Allah Ta’ala memuliakan sayyidinaAdam dengan membawa
tubuhnya, Ia Ta’ala membawa tubuhnya dari Bumi ke
mana? Ke Langit! Allah SWT membawa dari Bumi, tubuh
Adam, realitas Adam, Hakikat Adam, tubuh dari Adam
dibawa dari Bumi, dan Allah Ta’ala memuliakan manusia
dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam
‘alayhissalam. Di sana, Ia SWT membentuknya dengan
nama-nama dan sifat-sifat mulia dari sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di
dahi Adam. Dan saat cahaya Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – tersebut muncul di
dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi.
Iblis demikian marahnya karena iamengharap untuk
menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud,
Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah SWT
pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -, melalui cahaya tersebut. Iblis
menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah
dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal
Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap
jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah.
Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tapi
akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan
mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi
Adam ‘alayhissalam dengan membisikkan [was-was] ke
telinganya untuk membuatnya turun.
Kita akan berbicara tentang masalahini, tentang Iblis
dan Adam, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan
dengan sesuatu yang lain. Jadi, ketika cahaya
Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – tersebut tengah berputar, dan bagaikan
sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan
yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi
tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber
asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan
dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual
tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah
disiapkan oleh Allah SWT. Karena itulah Allah SWT
berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi”[QS.
As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam, dari Ruh-Ku,
Cahaya-Ku, atau dari Ruh, dari Manifestasi-manifestasi
Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah
dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – dan muncul keluar sebagai
suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam, dengan cara
itulah Adam bergerak dan ruh itu keluar.
Karena Adam dibentuk pada suatutempat tertentu, dan
para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang,
melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”
“Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari
bentuk fisik Adam, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk
ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak
dengan cahaya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -, An-Nuuru Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam -. Sumber dari ciptaan yang Allah SWT
menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru
l-Muhammadi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Jadi, apakah rahasia di balik NuuriMuhammadi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – yang membuat
Adam ‘alayhissalam bergerak?
Setiap malam kalian mencatu energitelepon selular
kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di
tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi
komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun
mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu.
Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti.
Saat Adam ‘alayhissalam dicatu energi dengan Nur
Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia
berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan
manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum,
hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang
dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin
dan Mawlana tertawa].
Setiap kalinya ada 500 juta sperma.Dan salah satu
dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan
terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah!
Lihat, lottere/undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun
ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam
Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa].
Apakah kalian bermain lottere? Kita semua bermain
lottere.
Saya mendengar dari Grandshaykh,semoga Allah
merahmati ruhnya, Mawlana Shaykh ‘Abdullah
ad-Daghestani, dan dihadiri pula oleh Mawlana Shaykh
Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, Sulthanul Awliya’;
pada saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan dari
Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa
Allah SWT kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’
Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang
kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di
buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah SWT
ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di hari Kiamat
nanti dan betapa besar Ummah beliau – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -. Ia berkata bahwa Awliya’
Allah baru saja [di masa Grandshaykh saat itu]
menerima ilham pada Awliya’Allah dari qalbu Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
bahwa Allah SWT untuk menunjukkan betapa besar Ummatun
Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dari
setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian
melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak
ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak
sperma yang keluar, Allah Ta’ala akan menciptakan
manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi
anak-anak kalian.
Allah SWT untuk menunjukkankeagungan Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
kata Grandshaykh (semoga Allah melimpahkan barakah
pada ruhnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya,
apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa
banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta,
Allah pun akan menciptakan 500 juta manusia yang
mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan
mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku,
Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan mereka
akan menjadi bagian dari Ummatun Nabi – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -. Karena itulah Ummah ini
di Hari Pembalasan nanti akan menjadi Ummah terbesar,
yang meliputi setiap tempat.
Marilah kita kembali ke kisah Adam‘alayhissalam Kita
mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon
selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita
mencatu energinya. Jadi, Allah SWT pun memerintahkan
Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk
termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – sebagai
Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah
tersebut. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam – adalah manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah SWT ingin untuk
memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia SWT pun akan memandang pada
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.
Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan
Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini
menjadi milik Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi
wasallam -.
Allah menghiasi diri beliau denganNama-Nama Indah dan
apa pun yang Allah SWT inginkan untuk membusanai dan
menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – pun memanifestasikan hal
tersebut pada Adam melalui Cahaya itu, yang bergerak
ke dalam [tubuh] Adam dan mulai membuatnya
bergerak…. Tapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat
penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula
mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh
ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung
Sayyidina Nabi Adam as, mereka pun dicatu (oleh Cahaya
itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu
energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma
tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma
(atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur
kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya
lewat Cahaya itu.
Karena itulah, kalian melihat padaorang-orang, untuk
suatu sperma yang mungkin cuma dicatu/ditetapkan
selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yang
setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu
mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun,
yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50
tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun…
Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah
dicatukan atau ditetapkan pada sperma-sperma ini dari
Cahaya tersebut.
Jadi, Cahaya tersebut, Energitersebut, saat ia
berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat
baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang,
kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan
kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata
pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat
seseorang mati, karena energinya, baterainya telah
habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai
baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan
energinya pun berbeda untuk hal ini.
Jadi, karena itulah, kekuatan atauenergi itu, saat
diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu
tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak
dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari
jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak,
bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya
pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi
kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang
kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut,
atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang
memiliki kekuatan/daya.
Dan siapakah yang memberikannya padaAdam
‘alayhissalam? Allah, dari Allah pada Sayyidina
Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,
dan dari Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – kepada Sayyidina Adam ‘alayhissalam
Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS
Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh
Allah, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya
Sayyidina Adam, cahaya Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan Cahaya dari Allah
SWT. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa
inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156]
“Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kepada
Allah-lah kita akan kembali”.
Cahaya itu harus kembali keSumbernya. Dan karena itu
pula Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -
bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku
mengamati ‘amal Ummat-ku, jika aku mendapati kebaikan
padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah, dan jika aku
melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili
mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau -
sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – adalah
seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan
ditanya tentangnya. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa
aalihi wasallam – haruslah memelihara cahaya itu dan
mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni
seperti keadaan awalnya, saat Allah SWT mengirimkannya
ke Muhammad, dan Muhammad ke Adam.
Karena itu Nabi – sallaLlahu ‘alayhiwa aalihi
wasallam – bersabda dalam hadits tersebut, “Tu’radhu
‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran
hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik
fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda, “Aku mengamati
amal Ummat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu
mendampingi Ummah. Dan Ummah beliau tidaklah hanya
ummah [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga
ke masa Adam ‘alayhissalam.
Karena itulah, pada Adam, Allah SWTmemberikan padanya
nama Adam yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan
Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah, apa
itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama
Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf
Dal. Artinya, Allah, huruf pertama pada “Adam” adalah
dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf
terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal,
jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh
ciptaan. Jadi dari Allah SWT menciptakan suatu
ciptaan, memberikannya pada Muhammad – sallaLlahu
‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan itulah Adam. Sesuatu
yang diwakili oleh Adam ‘alayhissalam
Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi
wasallam – adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang
Pencipta, mewakili seluruh Ummah. Kita, keseluruhan
diri kita, adalah pengikut dari Shaykh kita, dan
Syaikh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad
- sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, tentang
keseluruhan diri kita.Setiap malam, beliau ditanya,
Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah melimpahkan
barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat
Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salatun
Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang,
semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan
mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa
pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban
mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah.
Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal
ini.
Saya pikir sudah cukup apa yang kitaperbincangkan.
Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani
esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya
disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin
di antara satu sama lain, disiplin di antara murid.
Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat
Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu
disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin.
[Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur
berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri…
dan berusaha untuk… Mereka melihatnya sebagai suatu
jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus,
ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda,
berbagai cara untuk menggambar garis, …dan
orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas
darinya.
Saya akan mengulas tentang hal ini,insya Allah. Ada
disiplin linear, ada disiplin circular. Dan insya
allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan
apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu
teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi. Dan
kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syaikh
Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya,
Abdallah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di
sini… Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna
Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh.. [Dilanjutkabn Dzikir
Khatm Khawajagan]
Wa min Allah at tawfiq
Wassalam, (arief hamdani)
Pengetik Ulang : yansen(de[email protected])
Sumber : Berbagai sumber