Remaja Masjid Raya At- Taqwa
Kota Cirebon

Home

Dahulukan Allah SWT

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on January 9, 2012 at 9:15 AM Comments comments (2)

Suatu ketika di saat ada seorang ibu yang menemukan putranya sakit, ia bergegas mengangkat telephon dan menelepon sebuah balai pengobatan untuk mendaftarkan anaknya agar mendapatkan antrian terdepan. Begitu juga seorang pedagang yang dengan kecerdasannya membidik tempat-tempat strategis dan saat yang tepat untuk berdagang. Atau seorang ustadz yang begitu disiplin membuat program da'wah dengan membuat beberapa sarana media da'wah. Dari semua yang dilakukan oleh seorang ibu, pedagang dan ustadz adalah suatu hal yang amat dibenarkan dalam sebuah usaha. Akan tetapi disaat kita hadapkan kepada nilai keimanan dan kerinduan kepada Allah SWT, usaha-usaha itu akan menjadi tidak ada maknanya jika tidak dibarengi dengan sebuah kesadaran akan kelemahannya dalam mencapai sebuah keberhasilan. Dan dengan penuh kerendahan hati memohon kepada Allah SWT agar memberikan kesembuhan kepada sang putra, memajukan usahanya, memberikan ilmu manfaat kepada para santri dan umat.

 

Akan tetapi alangkah seringnya kita tertipu oleh akal kita sehingga sering kali kita melupakan Allah SWT dalam segala usaha. Siapa di antara kita yang di saat hendak membuka toko lalu mendahulukan wudhu, kemudian shalat dua raka'at dan memohon agar dimudahkan usahanya oleh Allah SWT? Siapa diantara kita yang di saat mengajak orang kepada kebaikan, mendahulukan shalat dua raka'at atau bangun di tengah malam, memohon kepada Allah SWT demi kebaikan orang yang diajak?

 

Sungguh seorang ustadz disaat giat mengajar atau memberi pengajian, ketulusanya amat diragukan jika ia tidak pernah memohon kepada Allah SWT untuk umat dan santri. Sungguh dikhwatirkan kekeroposan iman seorang ibu jika ternyata yang di matanya hanya usaha dhahir sementara Allah SWT tidak pernah hadir di hatinya. Sungguh seorang pedagang amat dikhwatirkan akan maksud yang tersembunyi dibalik usahanya jika dalam usahanya tidak pernah hadir kerinduan kepada bantuan Allah SWT.

 

Yang menyeru kepada Allah SWT tanpa sebuah ketulusan akan menghadirkan kemunafikan. Yang mencari kekayaan tanpa maksud yang baik akan mengantarkan kepada kesombongan. Yang berobat dan mencari kesehatan tanpa dibarengi rasa ketergantungannya kepada Allah SWT akan mengikis ketawakalan dan kesabaran.

 

Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on December 25, 2011 at 2:45 AM Comments comments (0)

Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.

 

Beliau rahimahullah pernah ditanya,

“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”

 

Beliau rahimahullah menjawab:

Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-

 

Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

 

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

 

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)

 

Allah Ta’ala juga berfirman,

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)

Wallahu'alam bissawwab...

Melintas Kesunyian

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on December 24, 2011 at 10:05 AM Comments comments (0)

Malam hujan turun rintik-rintik. Angin bertiup dingin menusuk tulang. Di penghujung ruang yang sempit kelihatan seseorang sedang menunaikan solat. Dalam solat terlihat begitu khusyuk. Air matanya mengalir membasahi baju. Terdengar isak tangis yang membuat hati terasa pilu. Solat itu menjadi terasa begitu indah. Selesai salam memanjatkan doa tak putus-putus. Seusai solat, tak lama hanya ada kesunyian dan tarikan nafas sambil duduk bersimpuh di atas tikar sejadah yang selama ini di gunakan. Bersebelah diri, seseorang sedang menanti…

 

” Pernah marah ALLOH?’ tanya seseorang itu.

 

Terdengar suara istighfar tak putus-putus. Air matanya masih terus saja mengalir. Beberapa tangannya mengusap pipi yang basah.

 

” Pernah.. tapi itu dulu, sekarang tidak lagi ”

 

” Kenapa? ”

 

” Kerana Dia tidak adil, aku menerima hanya penderitaan yang selalu Dia berikan. Bertahun-tahun aku menjauh, melupakanNya, aku kecewa padaNya ”

 

Kesunyian kembali menempa.. tiada lagi kata-kata terucap seketika.. detik-detik itu berlalu sepi.. terus menerus mengundang sepi…

 

” Lantas untuk apa kamu solat malam ini? ”

 

Di tatap wajah temannya yang sedang terdiam. Seumur hidup dirinya solat tidak pernah sehingga menitiskan air mata bahkan menangis terisak-isak sekalipun. Dirinya teringat bagaimana Rasulullah senantiasa menangis setiap solat malam. Malam ini dia melihat sahabatnya menunaikan sholat dengan menangis terisak-isak, begitu menyayat hatinya.

 

” Aku menerima musibah, aku tidak tahu cara berdoa. Hanya solat dapat aku lakukan untuk menenangkan hati ini ”

 

Alloh Berfirman,

 

”Jika Seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku akan mendekatkan diriKu sehasta. Jika dia mendekatkan diri kepadaKu sehasta maka Aku akan mendekatkan diriKu sedepa. Jika dia datang kepadaKu berjalan kaki maka Aku akan datang kepadanya berlari.’ (HR. Bukhari & Muslim).

Penjelasan Tentang Wanita Pergi Sendiri

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on December 22, 2011 at 1:15 AM Comments comments (0)

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :


saya pernah membaca hadis dalam buku sahih Bukhari Muslim :

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- katanya : Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : "Haram bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat mushafir, di mana perjalanannya melebihi dari tiga hari melainkan bersama ayah, anak lelaki, suami, saudara lelaki atau siapa saja mahramnya yang lain."

 

Riwayat yang menyatakan tentang larangan wanita bepergian kecuali tanpa mahram sangatlah banyak. seperti yang anda cantumkan yang menyebutkan batasan 3 hari. ada pula yang menyebutkan larangan bepergian 2 hari, ada pula yang satu hari, ada pula larangan secara mutlak wanita bepergian tanpa mahram.

 

FatwaUlama tentang Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on November 30, 2011 at 6:50 AM Comments comments (0)

Segala puji bagi Allah, shalawatserta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad kepada keluarganya, parasahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.Ammaba’du:

Para pembaca yang dirahmati Allah,

Di bawah ini kami mengutip beberapafatwa ulama besar dalam seputar tahun baru:

1. Syaikh Abdul Aziz Bin AbdullahBin Baz rahimahullah

 

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

Kami pada permulaan tahun baruhijriyah, dan sebagian orang saling bertukar ucapan selamat tahun baruhijriyah, mereka mengucapkan: (setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan), makaapa hukum syar’i terkait ucapan selamat ini?

Syaikh Bin Baz menjawab sbb:

Ucapan  selamat tahun baruhijriyah kami tidak mengetahui dasarnya dari para Salafus Shalih, dan sayatidak mengetahui satupun dalil dari sunnah maupun Kitabullah yang menunjukkanpensyariatannya, tetapi siapa saja yang memulaimu dengan ucapan itu maka tidakmengapa kamu menjawabnya seperti itu, jika dia mengatakan: setiap tahun semogaanda dalam kebaikan maka tidak mengapa kamu menjawabnya semoga anda seperti itukami memohon kepada Allah bagi kami dan bagimu setiap kebaikan atau semacamnya,adapun memulainya maka saya tidak mengetahui dasarnya.

 

2. Syaikh Muhammad bin ShalihAl-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan 1:

Syaikh Utsaimin pernah ditanya mengenaiucapan selamat tahun baru hijriyah dengan pertanyaan sbb:

Syaikh yang mulia, apa hukummengucapkan selamat tahun baru hijriyah? Dan apa kewajiban kita kepada orangyang mengucapkan selamat tahun baru hijriyah kepada kita?

Syaikh Utsaimin menjawab sbb:

Jika seseorang mengucapkan selamatkepadamu maka jawablah, tapi jangan kamu memulainya. Inilah pendapat yang benardalam masalah ini. Seandainya seseorang mengucapkan mengucapkan selamat tahunbaru kepadamu, maka jawablah: semoga Allah menyampaikan selamat kebaikanuntukmu dan menjadikannya tahun kebaikan dan keberkahan.

Tetapi ingat, jangan kamu memulainyakarena saya tidak mengetahui adanya riwayat dari para Salafus Shalih bahwamereka dahulu mengucapkan selamat tahun baru hijriyah. Bahkan para Salaf belummenjadikan bulan Muharram sebagai awal tahun baru kecuali pada masa khilafahUmar bin Khatthab radhiyallahu anhu. (dikutip dari pertemuan bulanan ke-44 diakhir tahun 1417 H).

 

Pertanyaan 2:

Syaikh Utsaimin juga pernah ditanya:Syaikh yang mulia, apa pendapat anda mengenai tukar menukar ucapan selamat padaawal tahun baru hijriyah?

Maka Syaikh Utsaiminmenjawab sbb:

Aku  berpendapat bahwa memulaiucapan selamat pada awal tahun baru hijriyah tidak mengapa, namun tidakdisyariatkan. Artinya, kami tidak menyatakan sunnahnya saling menyampaikanucapan selamat tahun baru hijriyah.

Tetapi jika mereka melakukannyatidak mengapa, namun sepatutnya juga apabila dia mengucapkan selamat tahun barudengan memohon kepada Allah supaya menjadikannya sebagai tahun kebaikan dankeberkahan, lalu orang lain menjawabnya. Inilah pendapat kami dalam masalah iniyang merupakan perkara kebiasaan dan bukan termasuk perkara ibadah.

(Disampaikan pada pertemuan terbukake-93 hari Kamis, 25 bulan Dzulhijjah tahun 1415H).

 

Pertanyaan 3:

Pada kesempatan lainnya, beliau jugapernah ditanya: Apakah boleh mengucapkan selamat awal tahun baru?

Maka beliau menjawab: Ucapan selamatatas kedatangan tahun baru hijriyah tidak ada dasarnya dari perbuatan paraSalafus Shalih. Maka kamu jangan memulainya, tetapi jika seseorang mengucapkanselamat kepadamu jawablah, karena ini sudah menjadi kebiasaan di tengah-tengahmanusia, meskipun fenomena ini sekarang berkurang, karena sebagian orang sudahmemahaminya, alhamdulillah. Padahal sebelumnya mereka salingbertukar kartu ucapan selamat tahun baru hijriyah.

 

Pertanyaan 4:

Pertanyaan lainnya kepada SyaikhUtsaimin: Apa bunyi ucapan yang saling disampaikan manusia?

Beliau menjawab: yaitu merekamengucapkan selamat atas datannya tahun baru, dan kami memohon kepada Allahmengampuni yang telah berlalu pada tahun kemarin, dan supaya memberikanpertolongan kepadamu untuk menghadapi masa depan atau semacam itu.

 

Pertanyaan 5:

Syaikh Utsaimin ditanya: Apakahdiucapkan “Setiap tahun semoga kalian dalam kebaikan?”

Beliau menjawab: Tidak, setiap tahunsemoga kalian dalam kebaikan tidak diucapkan dalam Idul Adha maupun Idul Fitriatau di tahun baru.

(Disampaikan pada pertemuan terbukake-202 pada hari Kamis, 6 Muharram tahun 1420H).

 

3. Syaikh Shalih bin Fauzan bin AbdillahAl-Fauzanhafizhahullah

Beliau pernah ditanya: Syaikh yangmulia semoga Allah memberikan anda taufik. Kebanyakan manusia saling mengucapanselamat tahun baru hijriyah. Apa hukum ucapan selamat tahun baru hijriyah,misalnya: ‘Semoga menjadi tahun bahagia,’ atau ucapan: ‘Semoga kalian setiaptahun dalam kebaikan.’ Apakah ucapan ini disyariatkan?

Syaikh menjawab sbb:

”Ini adalah bid’ah. Ini bid’ah danmenyerupai ucapan selamat orang-orang Kristen dengan tahun baru Masehi, dan inisesuatu yang tidak pernah dilakukan para Salaf. Selain itu, tahun baru hijriyahadalah istilah para shahabat radhiyallahu anhum untukpenanggalan muamalat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hari raya danmereka mengucapkan selamat atasnya karena ini tidak ada dasarnya. Para shahabatmenjadikan tahun hijriyah untuk penanggalan muamalat dan mengatur muamalatsaja”.

 

4. Syaikh Abdul Karim Al-Khidhir

Doa kepada sesama muslim dengan doaumum yang lafalnya tidak diyakini sebagai ibadah dalam beberapa peringatanseperti hari-hari raya tidak mengapa, apalagi apabila maksud dari ucapanselamat ini untuk menumbuhkan kasih sayang, menampakkan kegembiraan dankeceriaan pada wajah muslim lain.

Imam Ahmad rahimahullah berkata:“Aku tidak memulai ucapan selamat, tapi jika seseorang memulai dengan ucapanselamat maka aku suka menjawabnya karena menjawab ucapan selamat itu wajib.Adapun memulai ucapan selamat tidak ada sunnah yang diperintahkan dan jugabukan termasuk perkara yang dilarang.

 

KESIMPULAN:

1. Dari beberapa fatwa di atas dapatdipahami bahwa sebagian ulama besar membolehkan menjawab ucapan selamat sajatidak untuk memulainya, namun tidak menganggapnya perkara bid’ah yang besarkarena itu adalah adat kebiasaan, bukan diyakini sebagai ibadah yangdisyariatkan.

2. Sebaiknya kita menjelaskan kepadaumat bahwa hal itu tidak ada dasarnya sehingga mereka tidak berlebih-lebihandalam ucapan selamat tahun baru hijriyah. Karena hal itu dikhawatirkan bisaterjatuh dalam perkara bid’ah dan menyerupai kaum Nasrani sebagaimana fatwaSyaikh Shalih Al-Fauzanhafizhahullah.

3. Kita tidak disyariatkan untukmerayakan tahun baru hijriyah seperti perayaan hari raya (ied), karena perayaansebagai bentuk ibadah dan ibadah sifatnya tauqifiyah. Wallahu a’lambis-shawab.


Diketik ulang oleh : Zian ([email protected])/FB
Tanggal / waktu : 30, November 2011

 

 

Makna dan Keutamaan Kalimat Tauhid

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on November 5, 2011 at 12:05 AM Comments comments (0)

Oleh: Abu Muawiah Al-Makassari

Pentingnya Mengetahui Makna Kalimat Tauhid

Mengetahui makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar pada akidah seorang muslim. Bagaimana tidak, karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa maknanya, serta dia tidak akan mendapatkan berbagai keutamaan kalimat yang mulia ini sampai dia mengetahui apa maknanya, mengamalkannya dan meninggal di atasnya. Allah berfirman :

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa`at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dalam keadaan mereka mengetahui(nya)”. (QS. Az-Zukhruf: 86)

Dan Rasulullah telah menegaskan dalam hadits Utsman bin Affan :

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengatahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah maka akan masuk surga”. (HR. Muslim no. 26)


05 november 2011

Mata Hati yang Tajam

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on September 27, 2011 at 9:45 AM Comments comments (0)

Assalamualaikum...
Maaf ya baru ngisi artikel lagi...!!!  :)

Syekh Atha’ as-Silmi dikenal sebagaiguru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yangpandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya kepasar untuk dijual. Syekh Atha’ as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangatapik dan tak ada cacat.

Di tengah hiruk-pikuk keramaianpasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit. Kemudian, orang itu berkata, “Baju inicukup bagus. Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini.”

Dengan tanpa kata, Syekh Atha’menyahut pakaiannya dari tangan orang itu. Kemudian, dia duduk dan menangisterisak-isak. Orang itu bingung melihat Syekh Atha’ menangis. Namun, penyesalantampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadimelukai hati. Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.

Kemudian, Syekh Atha’ berkata,“Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira. Aku telahbersungguh-sungguh menenun baju ini. Tenunan baju ini tidak seperti baju-bajulain yang telah aku buat. Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian akutambahkan keindahan di dalamnya. Setelah itu, aku periksa dengan amat telitiuntuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.

Tapi, ketika hasil tenunanku inidiperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidakmenyadarinya. Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkaladiperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti? Berapa banyakcacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kitasadari!”

Kisah di atas menggambarkan bahwaorang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan. Apa yang terjadi dihadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dankekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepadaAllah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama initerdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan. Hal itu, dapat menyebabkanberkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan. Jika ituterjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.

Imam Ibnu Jauzi menuturkan,“Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwayang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malammengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semimengilhami untuk mencari rezeki yang halal.”

Ketajaman mata hati hanya dapatdiasah dengan taqarrub, mujahadah, dan bertawakal kepada Allah. Maka, tidakheran jika ada beberapa alim ulama yang mampu menguak rahasia di balikperistiwa karena mereka memiliki mata hati yang tajam.

Sumber  : http://tarbiyahislamiyah.com/2010/mata-hati-yang-tajam/

By Zian ([email protected])

 

 


Puasa, Merdeka, dan Menang...!!!

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on August 25, 2011 at 10:55 PM Comments comments (0)

Assalamualaikum. Wr, wb.


Tiga peristiwa penting terjadi dalam bulan Agustus tahun ini. Puasa, merdeka, dan menang (fitri). Ini benar-benar langka. Peristiwa spiritual, peristiwa kebebasan dari penjajahan, dan terakhir, peristiwa keberhasilan.

Setiap orang mungkin akan mengalami hal berbeda. Artinya kemungkinan ada yang hanya mengalami satu peristiwa saja, atau dua peristiwa saja atau ketiganya, bahkan mungkin tidak ketiganya. Bisa jadi seseorang yang puasa saja tetapi tidak mengalami kemerdekaan dan kemenangan. Seorang lainnya mengalami peristiwa puasa dan kemerdekaan, namun tidak menang. Atau bahkan tidak mengalami puasa, merdeka serta kemenangan.

Mengalami ketiga hal di atas merupakan harapan semua orang. Namun, seperti biasanya, sesuatu yang sangat istimewa tidak mungkin akan dialami orang yang biasa juga. Artinya peristiwa istimewa tentunya akan dialami oleh orang yang istimewa.

Setiap peristiwa sebenarnya akan berbeda bagi individu. Seseorang beranggapan bahwa yang sedang terjadi merupakan suatu hal sangat penting, tapi menjadi kurang penting bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Pendapat lain justru bukan peristiwanya yang penting, tetapi lebih pada akibat yang ditimbulkan-lah yang sebenarnya lebih penting. Artinya jika peristiwa penting tidak menimbulkan bekas dan perubahan, maka berarti itu tidak penting.

Kesempatan langka ini sangat rugi jika tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin. Apalagi tidak menimbulkan bekas penting dalam kehidupan keseharian. Sebagai orang yang, semoga, memiliki kesempatan mendapat tiga kesempatan langka tersebut seharusnya dan sudah semestinya mempunyai kewajiban untuk bersyukur, tidak hanya dalam bentuk kata semata, melainkan dengan sikap, dan terutama, kepedulian.

Puasa yang dilakukan seharusnya menjadi kesempatan untuk mengolah rasa, sehingga kepedulian terhadap sesama menjadi tertanam dan beranak-pinak dalam hati dan bergelora untuk disampaikan kepada berbagai pihak.

Kesempatan mengenang peristiwa perjuangan para pahlawan dalam memerdekakan negara seharusnya akan lebih hikmat lagi karena lebih dijiwai rasa perjuangan memerangi berbagai nafsu. Kemerdekaan yang terjadi tidak datang sendiri, melainkan hasil kerja keras. Seharusnya yang merdeka bukan hanya negara semata, melainkan setiap individu. Mana mungkin akan terjadi kemerdekaan yang berskala besar jika secara individu manusianya belum merdeka. Bangsa Indonesia tidak akan mengalami kemerdekaan jika masayarakatnya belum merdeka.

Sekarang saatnya untuk setiap orang agar peduli untuk memerdekakan masyarakat dari ruang kemiskinan dan kebodohan serta ketertinggalan.

Peristiwa kemenangan sebenarnya peristiwa yang diharapkan akan terjadi pada setiap perjuangan. Tidak ada pejuang yang menginginkan kekalahan setelah melakukan perjuangan. Artinya, kemenangan yang diharapkan merupakan sebuah tuntutan sederhana setiap kali menghadapi tantangan. Kemenangan mengalahkan kecurangan dan berganti dengan kejujuran, kemenangan dari ketidakberdayaan berganti menjadi berdaya, kemenangan dari ketidakpedulian menjadi sikap peduli dan membantu, kemenangan untuk keluar dari kemiskinan dan ketidakmampuan.

Berbuat dalam proses peningkatan kesejahteraan warga miskin seharusnya semakin meningkat dengan hadirnya bulan yang memiliki tiga peristiwa penting ini. Konsultan pemberdayaan warga miskin seharusnya mampu menjadikan bulan ini sebagai proses mempercepat terjadinya perubahan dalam masyarakat, terutama untuk menjadikan masyarakat miskin sebagai pemenang dalam pertarungan melawan kemiskinan.

Peristiwa puasa, merdeka, dan menang, adalah sebuah peristiwa membersihkan, menyatakan dan menikmati. Seorang yang beruntung karena diberikan kelebihan oleh yang Maha Pengatur, seharusnya mensyukuri kelebihan dengan berbagai bentuk syukur. Proses peningkatan kemampuan dan perubahan perilaku harus di mulai dari individu dalam membersihkan diri. Artinya perilaku yang akan disampaikan merupakan perilaku baik, yang secara sadar akan dilihat dan menjadi contoh bagi orang lain. Karena untuk menjadi pemenang harus dimulai dengan pembrsihan diri dan jiwa yang merdeka selama melakukan perubahan.

Perilaku yang baik harus dinyatakan dalam bentuk perbuatan dan sikap, tidak mungkin orang akan mengetahui sesuatu itu baik dan layak dicontoh jika kita memiliki sikap tertutup dan tidak pernah melakukan atau mencontohkan. Proses pembersihan diri dan diwujudkan dalam sebuah perbuatan nyata tentu akan berujung pada sebuah kepuasan, terlepas berhasil atau tidaknya dalam mencapai tujuan.

Puasa, sebuah peristiwa menahan diri dari berbagai hal yang tidak baik, bisa berarti sebagai upaya pembersihan diri. Merdeka adalah kemampuan seseorang untuk melakukan segala sesuatunya secara sadar. Kemenangan adalah sebuah pengharapan dari sebuah tindakan yang dilakukan, mampu mencapai tujuan dan mampu mengungguli.


Sumber                     : http://www.p2kp.org/wartadetil.asp?mid=3912&catid=2&;

Di ketik ulang oleh  : zian (zian kzi cherbondt/FB)


UntukMu (puisi)

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on August 8, 2011 at 8:30 AM Comments comments (0)

UntukMu

 

Oleh : Segelintir Debu

Selisih hari makin kian tak terasa

Melangkah tiada henti mencari diri

Demi peroleh serangkaian kisah dan cerita

Untuk perbaharui detik-detik dalam hidup ini

 

Terus…

Menapak alurkehidupan demi sebuah

Harap yang takterukur

Sehelai demidehelai

Kian menumpukdalam pandangan

 

Berjuang menguak rahasia

Tiada letih terhadap titah

Yang terbayang hanya

Lorong itu. Hijau, tentram

Dengan alunan merdu bisikan angin

 

Perlahan…

Waktu berjalanpenuh berkejar-kejaran

Tanda umur taklagi muda

Tapi. Asa dandaya tetap bersua

Tak keluh kata

Tak fikir raga

Demi merendasekeping hati. Dalam nauangannya]


Pengetik ulang : Zian ([email protected])

Hakikat Nama Allah swt dan Hakikat Nur Muhammad

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on August 6, 2011 at 1:10 PM Comments comments (0)

Suhbat Mawlana Shaykh MuhammadHisham Kabbani

Rue Boyer 20 Paris, Minggu, 19 Maret 2006

Diambil dari www.m evlanasufi.blogspot.com

( Dalam Rangka Peringatan MawlidNabi Muhammad

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam

Allah Allah Allah Allah Allah Allah‘Aziiz Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah SWT Huwa Sulthan, Dia-lah SangSulthan.

A’uudzu billahi minasysyaithanirrajiim,

Bismillahirrahmanirrahiim. Nawaytul Arba’in Nawaytul

I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur

Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii

hadzal masjid.

Sangatlah penting untuk mengetahuibahwa Allah SWT

adalah Sang Sulthan, lihatlah apa yang tertulis di

sana [Mawlana Shaykh Hisham menunjuk ke kaligrafi

“Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok]

Allah dan di sampingnya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam -. Artinya, tak seorang pun akan

ditanya melainkan ia yang disisi Sang Pencipta.

Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian

tak akan langsung ditanyai, melainkan yang akan

ditanyai adalah ia yang bertanggung jawab atas sang

terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya

langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada

orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, Allah SWT

telah meninggikan derajat beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – untuk ditanyai mewakili

keseluruhan ummat.

Para Sahabah ra, keseluruhan darimereka tahu akan

hirarki mereka. Artinya, hirarki itu ada, dan mereka

tidak melangkahi batas hirarki mereka, setiap orang

mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai

Sayyidina Abu Bakar ra, dan kemudian dari Sayyidina

Abu Bakar ra untuk mencapai Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat

ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita

datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam

perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita

tersebut, ketika sayyidina ‘Ali – karramAllahu wajah -

berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar, apa yang

kau lakukan?”

Mereka saling mendengarkan pada satusama lainnya,

tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau

[‘Umar] tahu hal ini bahwa Nabi – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – pernah bersabda, “Ana madinatul

‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota

Pengetahuan dan ‘Ali adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar]

tahu akan hirarki yang ada, “Ya, ‘Aliy, apa yang mesti

kulakukan?” ‘Ali pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan

bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah

bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa

yang akan kau lakukan [atasnya]”.

Ini menunjukkan pada kita betapamereka, para Sahabat,

saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan

pula bahwa mereka memahami akan hirarki. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah – berkata, “’Ali

telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang

pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina

tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah

tentang sahabat Uwais al-Qarani. Saya akan menjelaskan

tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal

tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar

al-Aswad].

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa

semua orang yang ada di sini adalah bagaikan

bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga

memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga

memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur

pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan

warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah,

jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian

akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan

setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak

akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun

tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu

bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja,

itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal.

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam -, Allah SWT telah membusanai beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – dengan

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia SWT

telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Allah ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia SWT

berfirman [dalam suatu hadits qudsi, red.], “Kuntu

Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul

khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin

Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah

ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu

ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa

keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan

ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang

Allah Ta’ala akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga

[sebagaimana difirmankan Allah SWT], “Allahu Nurus

Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS.

An-Nuur 24:35], Allah-lah Cahaya Lelangit dan Bumi

[untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan

Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan

berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan

berbagai warna pelangi yang demikian beragam.

Sebenarnya, tadinya saya hendakmenceritakan tentang

Sayyidina ‘Umar ra dan ‘Ali ra untuk menjelaskan hal

tertentu, tapi saya pikir mereka mengalihkan

[pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar dan ‘Ali

yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Shaykh Nazim qs

[semoga Allah melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan

mengaruniakan beliau panjang umur]… Saya akan

kembali ke topik tersebut, tapi beliau sedikit

mengalihkan [pembicaraan kita].

Saat Allah SWT adalah suatu ‘HartaTersembunyi’,

artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui,

yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala,

Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat

memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat

memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah Ta’ala ingin

agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia SWT pun

‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk

mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara

berkesinambungan tanpa ada henti. Dan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta

Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak

mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali

Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan

diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di

zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna

Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi

wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr

59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka

berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada

hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat

dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat

tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu

pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat

mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun

dapat mendeskripsikan air ini [Mawlana menunjuk ke

suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu

gelas, tapi kalian jika kalian tak mencicipi air

tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat

kelezatan air yang menyegarkan itu.

Allah SWT ingin untuk diketahui.Maka, untuk

diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu

ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah SWT

Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah Ta’ala mengetahui

Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah Ta’ala tahu akan

Diri-Nya, Allah tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya,

Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang

Indah tahu akan Dzat, tapi tak setiap Nama tahu satu

bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu

Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama

memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat

mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah.

Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah,

kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li

l-Asma’ was Sifat.”

“Allah” adalah Nama yang meliputikeseluruhan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan

Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami

Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan

haruslah muncul agar rahmat Allah SWT ini, yang berupa

suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau

dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda

ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah

ciptakan pertama-tama. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – menjawab, “Ia SWT pertama-tama

menciptakan cahayaku” untuk mengenakan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala ini. Jadi, cahaya tersebut

diciptakan dengan tujuan untuk mengemban

manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad

tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi

dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam

Muhammad, dalam an-Nur Muhammad tersebut, Cahaya dari

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Cahaya Muhammadaniyyah.

Nur Muhammadi yang memantulkanCahaya dari Nama-Nama

dan Sifat-Sifat Indah Allah tersebut, memantulkan ke

siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan

cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya

matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, An Nuur

Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi

suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia

pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang

dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena

itulah salah satu nama beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – adalah Muhammad, karena esensi/dzat

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – tak

dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat

digambarkan, kecuali hanya melalui

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala.

Jadi, Nabi Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – pun harus memanifestasikan diri beliau pada

sesuatu. Maka, Allah Ta’ala pun menciptakan dari

Cahaya beliau, Adam ‘alayhissalam untuk muncul melalui

diri beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam, karena

itu Allah SWT menciptakan Adam dari manifestasi

nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, melalui

manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah SWT. Ia SWT menciptakan Adam dari Cahaya

itu. Dan, karena itu pula, beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam

bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang Nabi

ketika Adam masih di antara tanah liat dan air”,

karena Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

telah mengetahui siapa dirinya.

Karena manifestasi dari Nama-Namadan Sifat-Sifat

Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar

suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar,

berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi,

dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi,

hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah

generator. Suatu generator jika diputar amat cepat,

akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran

listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat

menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu

pula, Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini

dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Hakikat Sayydina Muhammad –sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah

Ta’ala pun mencelupkan cahaya Muhammad dengan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya

[literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat

beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun

berputar, dan berputar, berdasarkan Hadits Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di atas

[tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – berputar, dan

berputar, memancarkan energi, yang dari energi

tersebut, Adam muncul.

Jadi, karena itulah Adam‘alayhissalam diciptakan dan

dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Saat Allah

berkehendak menciptakannya, Ia SWT memerintahkan

Jibril ‘alayhissalam untuk pergi ke Bumi dan mengambil

segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya,

sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, “Wa laqad

karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr,

wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum

‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS.

Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan

manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di

Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari

hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka

dari sekalian ciptaan Kami lainnya”.

Allah Ta’ala memuliakan sayyidinaAdam dengan membawa

tubuhnya, Ia Ta’ala membawa tubuhnya dari Bumi ke

mana? Ke Langit! Allah SWT membawa dari Bumi, tubuh

Adam, realitas Adam, Hakikat Adam, tubuh dari Adam

dibawa dari Bumi, dan Allah Ta’ala memuliakan manusia

dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam

‘alayhissalam. Di sana, Ia SWT membentuknya dengan

nama-nama dan sifat-sifat mulia dari sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di

dahi Adam. Dan saat cahaya Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – tersebut muncul di

dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi.

Iblis demikian marahnya karena iamengharap untuk

menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud,

Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah SWT

pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, melalui cahaya tersebut. Iblis

menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah

dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal

Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap

jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah.

Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tapi

akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan

mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi

Adam ‘alayhissalam dengan membisikkan [was-was] ke

telinganya untuk membuatnya turun.

Kita akan berbicara tentang masalahini, tentang Iblis

dan Adam, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan

dengan sesuatu yang lain. Jadi, ketika cahaya

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – tersebut tengah berputar, dan bagaikan

sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan

yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi

tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber

asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan

dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual

tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah

disiapkan oleh Allah SWT. Karena itulah Allah SWT

berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi”[QS.

As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam, dari Ruh-Ku,

Cahaya-Ku, atau dari Ruh, dari Manifestasi-manifestasi

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah

dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – dan muncul keluar sebagai

suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam, dengan cara

itulah Adam bergerak dan ruh itu keluar.

Karena Adam dibentuk pada suatutempat tertentu, dan

para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang,

melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”

“Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari

bentuk fisik Adam, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk

ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak

dengan cahaya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, An-Nuuru Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -. Sumber dari ciptaan yang Allah SWT

menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru

l-Muhammadi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Jadi, apakah rahasia di balik NuuriMuhammadi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – yang membuat

Adam ‘alayhissalam bergerak?

Setiap malam kalian mencatu energitelepon selular

kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di

tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi

komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun

mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu.

Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti.

Saat Adam ‘alayhissalam dicatu energi dengan Nur

Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia

berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan

manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum,

hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang

dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin

dan Mawlana tertawa].

Setiap kalinya ada 500 juta sperma.Dan salah satu

dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan

terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah!

Lihat, lottere/undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun

ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam

Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa].

Apakah kalian bermain lottere? Kita semua bermain

lottere.

Saya mendengar dari Grandshaykh,semoga Allah

merahmati ruhnya, Mawlana Shaykh ‘Abdullah

ad-Daghestani, dan dihadiri pula oleh Mawlana Shaykh

Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, Sulthanul Awliya’;

pada saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan dari

Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa

Allah SWT kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’

Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang

kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di

buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah SWT

ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di hari Kiamat

nanti dan betapa besar Ummah beliau – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Ia berkata bahwa Awliya’

Allah baru saja [di masa Grandshaykh saat itu]

menerima ilham pada Awliya’Allah dari qalbu Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bahwa Allah SWT untuk menunjukkan betapa besar Ummatun

Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dari

setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian

melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak

ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak

sperma yang keluar, Allah Ta’ala akan menciptakan

manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi

anak-anak kalian.

Allah SWT untuk menunjukkankeagungan Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

kata Grandshaykh (semoga Allah melimpahkan barakah

pada ruhnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya,

apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa

banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta,

Allah pun akan menciptakan 500 juta manusia yang

mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan

mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku,

Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan mereka

akan menjadi bagian dari Ummatun Nabi – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Karena itulah Ummah ini

di Hari Pembalasan nanti akan menjadi Ummah terbesar,

yang meliputi setiap tempat.

Marilah kita kembali ke kisah Adam‘alayhissalam Kita

mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon

selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita

mencatu energinya. Jadi, Allah SWT pun memerintahkan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk

termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – sebagai

Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah

tersebut. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah SWT ingin untuk

memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia SWT pun akan memandang pada

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini

menjadi milik Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -.

Allah menghiasi diri beliau denganNama-Nama Indah dan

apa pun yang Allah SWT inginkan untuk membusanai dan

menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – pun memanifestasikan hal

tersebut pada Adam melalui Cahaya itu, yang bergerak

ke dalam [tubuh] Adam dan mulai membuatnya

bergerak…. Tapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat

penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula

mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh

ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung

Sayyidina Nabi Adam as, mereka pun dicatu (oleh Cahaya

itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu

energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma

tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma

(atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur

kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya

lewat Cahaya itu.

Karena itulah, kalian melihat padaorang-orang, untuk

suatu sperma yang mungkin cuma dicatu/ditetapkan

selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yang

setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu

mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun,

yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50

tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun…

Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah

dicatukan atau ditetapkan pada sperma-sperma ini dari

Cahaya tersebut.

Jadi, Cahaya tersebut, Energitersebut, saat ia

berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat

baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang,

kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan

kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata

pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat

seseorang mati, karena energinya, baterainya telah

habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai

baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan

energinya pun berbeda untuk hal ini.

Jadi, karena itulah, kekuatan atauenergi itu, saat

diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu

tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak

dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari

jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak,

bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya

pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi

kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang

kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut,

atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang

memiliki kekuatan/daya.

Dan siapakah yang memberikannya padaAdam

‘alayhissalam? Allah, dari Allah pada Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

dan dari Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – kepada Sayyidina Adam ‘alayhissalam

Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS

Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh

Allah, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya

Sayyidina Adam, cahaya Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan Cahaya dari Allah

SWT. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa

inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156]

“Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kepada

Allah-lah kita akan kembali”.

Cahaya itu harus kembali keSumbernya. Dan karena itu

pula Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku

mengamati ‘amal Ummat-ku, jika aku mendapati kebaikan

padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah, dan jika aku

melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili

mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – adalah

seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan

ditanya tentangnya. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – haruslah memelihara cahaya itu dan

mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni

seperti keadaan awalnya, saat Allah SWT mengirimkannya

ke Muhammad, dan Muhammad ke Adam.

Karena itu Nabi – sallaLlahu ‘alayhiwa aalihi

wasallam – bersabda dalam hadits tersebut, “Tu’radhu

‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran

hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik

fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda, “Aku mengamati

amal Ummat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu

mendampingi Ummah. Dan Ummah beliau tidaklah hanya

ummah [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga

ke masa Adam ‘alayhissalam.

Karena itulah, pada Adam, Allah SWTmemberikan padanya

nama Adam yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan

Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah, apa

itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama

Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf

Dal. Artinya, Allah, huruf pertama pada “Adam” adalah

dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf

terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal,

jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh

ciptaan. Jadi dari Allah SWT menciptakan suatu

ciptaan, memberikannya pada Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan itulah Adam. Sesuatu

yang diwakili oleh Adam ‘alayhissalam

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang

Pencipta, mewakili seluruh Ummah. Kita, keseluruhan

diri kita, adalah pengikut dari Shaykh kita, dan

Syaikh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad

- sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, tentang

keseluruhan diri kita.Setiap malam, beliau ditanya,

Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah melimpahkan

barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat

Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salatun

Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang,

semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan

mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa

pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban

mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah.

Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal

ini.

Saya pikir sudah cukup apa yang kitaperbincangkan.

Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani

esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya

disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin

di antara satu sama lain, disiplin di antara murid.

Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat

Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu

disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin.

[Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur

berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri…

dan berusaha untuk… Mereka melihatnya sebagai suatu

jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus,

ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda,

berbagai cara untuk menggambar garis, …dan

orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas

darinya.

Saya akan mengulas tentang hal ini,insya Allah. Ada

disiplin linear, ada disiplin circular. Dan insya

allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan

apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu

teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi. Dan

kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syaikh

Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya,

Abdallah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di

sini… Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna

Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh.. [Dilanjutkabn Dzikir

Khatm Khawajagan]

Wa min Allah at tawfiq

Wassalam, (arief hamdani)

 


Pengetik Ulang : yansen([email protected])

Sumber : Berbagai sumber


Recent Videos

65 views - 0 comments