Remaja Masjid Raya At- Taqwa
Kota Cirebon

Home

view:  full / summary

Hakikat Nama Allah swt dan Hakikat Nur Muhammad

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on August 6, 2011 at 1:10 PM Comments comments (0)

Suhbat Mawlana Shaykh MuhammadHisham Kabbani

Rue Boyer 20 Paris, Minggu, 19 Maret 2006

Diambil dari www.m evlanasufi.blogspot.com

( Dalam Rangka Peringatan MawlidNabi Muhammad

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam

Allah Allah Allah Allah Allah Allah‘Aziiz Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah SWT Huwa Sulthan, Dia-lah SangSulthan.

A’uudzu billahi minasysyaithanirrajiim,

Bismillahirrahmanirrahiim. Nawaytul Arba’in Nawaytul

I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur

Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii

hadzal masjid.

Sangatlah penting untuk mengetahuibahwa Allah SWT

adalah Sang Sulthan, lihatlah apa yang tertulis di

sana [Mawlana Shaykh Hisham menunjuk ke kaligrafi

“Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok]

Allah dan di sampingnya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam -. Artinya, tak seorang pun akan

ditanya melainkan ia yang disisi Sang Pencipta.

Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian

tak akan langsung ditanyai, melainkan yang akan

ditanyai adalah ia yang bertanggung jawab atas sang

terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya

langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada

orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, Allah SWT

telah meninggikan derajat beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – untuk ditanyai mewakili

keseluruhan ummat.

Para Sahabah ra, keseluruhan darimereka tahu akan

hirarki mereka. Artinya, hirarki itu ada, dan mereka

tidak melangkahi batas hirarki mereka, setiap orang

mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai

Sayyidina Abu Bakar ra, dan kemudian dari Sayyidina

Abu Bakar ra untuk mencapai Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat

ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita

datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam

perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita

tersebut, ketika sayyidina ‘Ali – karramAllahu wajah -

berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar, apa yang

kau lakukan?”

Mereka saling mendengarkan pada satusama lainnya,

tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau

[‘Umar] tahu hal ini bahwa Nabi – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – pernah bersabda, “Ana madinatul

‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota

Pengetahuan dan ‘Ali adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar]

tahu akan hirarki yang ada, “Ya, ‘Aliy, apa yang mesti

kulakukan?” ‘Ali pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan

bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah

bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa

yang akan kau lakukan [atasnya]”.

Ini menunjukkan pada kita betapamereka, para Sahabat,

saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan

pula bahwa mereka memahami akan hirarki. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah – berkata, “’Ali

telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang

pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina

tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah

tentang sahabat Uwais al-Qarani. Saya akan menjelaskan

tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal

tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar

al-Aswad].

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa

semua orang yang ada di sini adalah bagaikan

bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga

memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga

memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur

pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan

warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah,

jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian

akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan

setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak

akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun

tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu

bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja,

itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal.

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam -, Allah SWT telah membusanai beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – dengan

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia SWT

telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Allah ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia SWT

berfirman [dalam suatu hadits qudsi, red.], “Kuntu

Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul

khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin

Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah

ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu

ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa

keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan

ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang

Allah Ta’ala akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga

[sebagaimana difirmankan Allah SWT], “Allahu Nurus

Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS.

An-Nuur 24:35], Allah-lah Cahaya Lelangit dan Bumi

[untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan

Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan

berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan

berbagai warna pelangi yang demikian beragam.

Sebenarnya, tadinya saya hendakmenceritakan tentang

Sayyidina ‘Umar ra dan ‘Ali ra untuk menjelaskan hal

tertentu, tapi saya pikir mereka mengalihkan

[pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar dan ‘Ali

yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Shaykh Nazim qs

[semoga Allah melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan

mengaruniakan beliau panjang umur]… Saya akan

kembali ke topik tersebut, tapi beliau sedikit

mengalihkan [pembicaraan kita].

Saat Allah SWT adalah suatu ‘HartaTersembunyi’,

artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui,

yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala,

Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat

memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat

memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah Ta’ala ingin

agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia SWT pun

‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk

mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara

berkesinambungan tanpa ada henti. Dan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta

Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak

mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali

Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan

diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di

zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna

Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi

wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr

59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka

berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada

hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat

dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat

tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu

pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat

mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun

dapat mendeskripsikan air ini [Mawlana menunjuk ke

suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu

gelas, tapi kalian jika kalian tak mencicipi air

tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat

kelezatan air yang menyegarkan itu.

Allah SWT ingin untuk diketahui.Maka, untuk

diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu

ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah SWT

Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah Ta’ala mengetahui

Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah Ta’ala tahu akan

Diri-Nya, Allah tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya,

Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang

Indah tahu akan Dzat, tapi tak setiap Nama tahu satu

bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu

Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama

memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat

mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah.

Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah,

kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li

l-Asma’ was Sifat.”

“Allah” adalah Nama yang meliputikeseluruhan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan

Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami

Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan

haruslah muncul agar rahmat Allah SWT ini, yang berupa

suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau

dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda

ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah

ciptakan pertama-tama. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – menjawab, “Ia SWT pertama-tama

menciptakan cahayaku” untuk mengenakan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala ini. Jadi, cahaya tersebut

diciptakan dengan tujuan untuk mengemban

manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad

tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi

dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam

Muhammad, dalam an-Nur Muhammad tersebut, Cahaya dari

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Cahaya Muhammadaniyyah.

Nur Muhammadi yang memantulkanCahaya dari Nama-Nama

dan Sifat-Sifat Indah Allah tersebut, memantulkan ke

siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan

cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya

matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, An Nuur

Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi

suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia

pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang

dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena

itulah salah satu nama beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – adalah Muhammad, karena esensi/dzat

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – tak

dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat

digambarkan, kecuali hanya melalui

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala.

Jadi, Nabi Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – pun harus memanifestasikan diri beliau pada

sesuatu. Maka, Allah Ta’ala pun menciptakan dari

Cahaya beliau, Adam ‘alayhissalam untuk muncul melalui

diri beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam, karena

itu Allah SWT menciptakan Adam dari manifestasi

nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, melalui

manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah SWT. Ia SWT menciptakan Adam dari Cahaya

itu. Dan, karena itu pula, beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam

bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang Nabi

ketika Adam masih di antara tanah liat dan air”,

karena Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

telah mengetahui siapa dirinya.

Karena manifestasi dari Nama-Namadan Sifat-Sifat

Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar

suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar,

berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi,

dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi,

hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah

generator. Suatu generator jika diputar amat cepat,

akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran

listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat

menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu

pula, Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini

dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Hakikat Sayydina Muhammad –sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah

Ta’ala pun mencelupkan cahaya Muhammad dengan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya

[literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat

beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun

berputar, dan berputar, berdasarkan Hadits Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di atas

[tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – berputar, dan

berputar, memancarkan energi, yang dari energi

tersebut, Adam muncul.

Jadi, karena itulah Adam‘alayhissalam diciptakan dan

dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Saat Allah

berkehendak menciptakannya, Ia SWT memerintahkan

Jibril ‘alayhissalam untuk pergi ke Bumi dan mengambil

segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya,

sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, “Wa laqad

karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr,

wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum

‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS.

Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan

manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di

Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari

hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka

dari sekalian ciptaan Kami lainnya”.

Allah Ta’ala memuliakan sayyidinaAdam dengan membawa

tubuhnya, Ia Ta’ala membawa tubuhnya dari Bumi ke

mana? Ke Langit! Allah SWT membawa dari Bumi, tubuh

Adam, realitas Adam, Hakikat Adam, tubuh dari Adam

dibawa dari Bumi, dan Allah Ta’ala memuliakan manusia

dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam

‘alayhissalam. Di sana, Ia SWT membentuknya dengan

nama-nama dan sifat-sifat mulia dari sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di

dahi Adam. Dan saat cahaya Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – tersebut muncul di

dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi.

Iblis demikian marahnya karena iamengharap untuk

menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud,

Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah SWT

pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, melalui cahaya tersebut. Iblis

menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah

dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal

Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap

jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah.

Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tapi

akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan

mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi

Adam ‘alayhissalam dengan membisikkan [was-was] ke

telinganya untuk membuatnya turun.

Kita akan berbicara tentang masalahini, tentang Iblis

dan Adam, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan

dengan sesuatu yang lain. Jadi, ketika cahaya

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – tersebut tengah berputar, dan bagaikan

sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan

yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi

tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber

asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan

dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual

tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah

disiapkan oleh Allah SWT. Karena itulah Allah SWT

berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi”[QS.

As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam, dari Ruh-Ku,

Cahaya-Ku, atau dari Ruh, dari Manifestasi-manifestasi

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah

dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – dan muncul keluar sebagai

suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam, dengan cara

itulah Adam bergerak dan ruh itu keluar.

Karena Adam dibentuk pada suatutempat tertentu, dan

para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang,

melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”

“Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari

bentuk fisik Adam, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk

ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak

dengan cahaya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, An-Nuuru Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -. Sumber dari ciptaan yang Allah SWT

menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru

l-Muhammadi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Jadi, apakah rahasia di balik NuuriMuhammadi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – yang membuat

Adam ‘alayhissalam bergerak?

Setiap malam kalian mencatu energitelepon selular

kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di

tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi

komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun

mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu.

Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti.

Saat Adam ‘alayhissalam dicatu energi dengan Nur

Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia

berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan

manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum,

hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang

dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin

dan Mawlana tertawa].

Setiap kalinya ada 500 juta sperma.Dan salah satu

dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan

terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah!

Lihat, lottere/undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun

ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam

Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa].

Apakah kalian bermain lottere? Kita semua bermain

lottere.

Saya mendengar dari Grandshaykh,semoga Allah

merahmati ruhnya, Mawlana Shaykh ‘Abdullah

ad-Daghestani, dan dihadiri pula oleh Mawlana Shaykh

Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, Sulthanul Awliya’;

pada saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan dari

Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa

Allah SWT kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’

Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang

kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di

buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah SWT

ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di hari Kiamat

nanti dan betapa besar Ummah beliau – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Ia berkata bahwa Awliya’

Allah baru saja [di masa Grandshaykh saat itu]

menerima ilham pada Awliya’Allah dari qalbu Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bahwa Allah SWT untuk menunjukkan betapa besar Ummatun

Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dari

setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian

melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak

ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak

sperma yang keluar, Allah Ta’ala akan menciptakan

manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi

anak-anak kalian.

Allah SWT untuk menunjukkankeagungan Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

kata Grandshaykh (semoga Allah melimpahkan barakah

pada ruhnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya,

apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa

banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta,

Allah pun akan menciptakan 500 juta manusia yang

mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan

mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku,

Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan mereka

akan menjadi bagian dari Ummatun Nabi – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Karena itulah Ummah ini

di Hari Pembalasan nanti akan menjadi Ummah terbesar,

yang meliputi setiap tempat.

Marilah kita kembali ke kisah Adam‘alayhissalam Kita

mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon

selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita

mencatu energinya. Jadi, Allah SWT pun memerintahkan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk

termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – sebagai

Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah

tersebut. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah SWT ingin untuk

memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia SWT pun akan memandang pada

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini

menjadi milik Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -.

Allah menghiasi diri beliau denganNama-Nama Indah dan

apa pun yang Allah SWT inginkan untuk membusanai dan

menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – pun memanifestasikan hal

tersebut pada Adam melalui Cahaya itu, yang bergerak

ke dalam [tubuh] Adam dan mulai membuatnya

bergerak…. Tapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat

penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula

mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh

ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung

Sayyidina Nabi Adam as, mereka pun dicatu (oleh Cahaya

itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu

energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma

tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma

(atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur

kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya

lewat Cahaya itu.

Karena itulah, kalian melihat padaorang-orang, untuk

suatu sperma yang mungkin cuma dicatu/ditetapkan

selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yang

setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu

mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun,

yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50

tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun…

Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah

dicatukan atau ditetapkan pada sperma-sperma ini dari

Cahaya tersebut.

Jadi, Cahaya tersebut, Energitersebut, saat ia

berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat

baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang,

kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan

kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata

pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat

seseorang mati, karena energinya, baterainya telah

habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai

baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan

energinya pun berbeda untuk hal ini.

Jadi, karena itulah, kekuatan atauenergi itu, saat

diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu

tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak

dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari

jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak,

bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya

pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi

kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang

kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut,

atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang

memiliki kekuatan/daya.

Dan siapakah yang memberikannya padaAdam

‘alayhissalam? Allah, dari Allah pada Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

dan dari Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – kepada Sayyidina Adam ‘alayhissalam

Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS

Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh

Allah, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya

Sayyidina Adam, cahaya Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan Cahaya dari Allah

SWT. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa

inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156]

“Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kepada

Allah-lah kita akan kembali”.

Cahaya itu harus kembali keSumbernya. Dan karena itu

pula Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku

mengamati ‘amal Ummat-ku, jika aku mendapati kebaikan

padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah, dan jika aku

melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili

mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – adalah

seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan

ditanya tentangnya. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – haruslah memelihara cahaya itu dan

mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni

seperti keadaan awalnya, saat Allah SWT mengirimkannya

ke Muhammad, dan Muhammad ke Adam.

Karena itu Nabi – sallaLlahu ‘alayhiwa aalihi

wasallam – bersabda dalam hadits tersebut, “Tu’radhu

‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran

hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik

fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda, “Aku mengamati

amal Ummat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu

mendampingi Ummah. Dan Ummah beliau tidaklah hanya

ummah [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga

ke masa Adam ‘alayhissalam.

Karena itulah, pada Adam, Allah SWTmemberikan padanya

nama Adam yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan

Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah, apa

itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama

Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf

Dal. Artinya, Allah, huruf pertama pada “Adam” adalah

dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf

terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal,

jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh

ciptaan. Jadi dari Allah SWT menciptakan suatu

ciptaan, memberikannya pada Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan itulah Adam. Sesuatu

yang diwakili oleh Adam ‘alayhissalam

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang

Pencipta, mewakili seluruh Ummah. Kita, keseluruhan

diri kita, adalah pengikut dari Shaykh kita, dan

Syaikh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad

- sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, tentang

keseluruhan diri kita.Setiap malam, beliau ditanya,

Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah melimpahkan

barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat

Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salatun

Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang,

semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan

mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa

pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban

mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah.

Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal

ini.

Saya pikir sudah cukup apa yang kitaperbincangkan.

Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani

esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya

disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin

di antara satu sama lain, disiplin di antara murid.

Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat

Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu

disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin.

[Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur

berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri…

dan berusaha untuk… Mereka melihatnya sebagai suatu

jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus,

ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda,

berbagai cara untuk menggambar garis, …dan

orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas

darinya.

Saya akan mengulas tentang hal ini,insya Allah. Ada

disiplin linear, ada disiplin circular. Dan insya

allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan

apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu

teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi. Dan

kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syaikh

Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya,

Abdallah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di

sini… Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna

Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh.. [Dilanjutkabn Dzikir

Khatm Khawajagan]

Wa min Allah at tawfiq

Wassalam, (arief hamdani)

 


Pengetik Ulang : yansen([email protected])

Sumber : Berbagai sumber

BIOGRAFI MAULANA SYEKH NAZIM HAQQANI

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 29, 2011 at 7:24 AM Comments comments (0)

oleh Dr. G. F. Haddad

Damaskus, 12 Rabi'ul Awwal 1425 H, 1 Mei 2004

Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada samudera Rahmat dari Kebenaran-Mu dan Cahaya-Mu. Allaahumma! Kirimkan barakah dan salam kedamaian bagi junjungan kami Muhammad saw., Penutup para Nabi dan Utusan-Mu, yang membawa Perjanjian Terakhir Quran al-Karim, juga bagi keluarga Beliau dan seluruh Sahabat-Sahabat Beliau, dan pewaris-pewaris Beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa kini, terutama pewaris dan wakil utama Beliau di zaman ini.

Hamba yang lemah ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syaikh Nazim q.s. dalam beberapa kata-kata anda sendiri tentang kehidupan dan ajaran-ajaran Beliau dan pengalaman anda bersama Beliau. Bulan ini adalah bulan Rabi'ul Awwal 1425H (Mei 2004) adalah saat paling tepat untuk melakukan hal ini. Semoga Allah swt. mengilhami baik penulis maupun pembaca tentang Mawlana Syaikh Nazim q.s. agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap subjek yang mulia ini. Tak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan-Nya. Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim 'Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi q.s., semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya. Kunya (nama panggilan) beliau adalah Abu Muhammad dari nama anak laki-laki tertua beliau selain itu beliau pula adalah ayah dari Baha'uddin, Naziha, dan Ruqayya.

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar. Beliau mengatakan pada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Diceritakan pula pada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi q.s. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad saw., dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dari sisi ibundanya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia. Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syaikh Jamal al-Din al-Alsuni q.s. (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau. Mawlana juga belajar tasawwuf dan Thariqat Naqsybandi dari Syaikh Sulayman Arzarumi q.s. (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syams (Syria).

Mawlana melanjutkan studi Syari'ah-nya ke Halab (Aleppo) Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyyah dan madrasah masjid sahabat besar Khalid ibn Al-Walid y di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syaikh Muhammad 'Ali 'Uyun al-Sud q.s. dan Syaikh Abd al-Jalil Murad q.s., dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syaikh Abd al-'Aziz ibn Muhammad 'Ali 'Uyun al-Sud al-Hanafi q.s.

Perlu dicatat bahwa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa'i Hafizh di Aleppo, Syaikhul Islam Abd Allah Siraj al-Din q.s. (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syaikh Abdullah Faiz Daghestani q.s. ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan yang memberikan bay'at dalam Thariqat Naqsybandi pada Mawlana Syaikh Nazim q.s., ketika Mawlana Syaikh Nazim q.s. mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan pada saya oleh Ustadz Muhammad 'Ali ibn Mawlana al-Syaikh Husayn 'Ali q.s. dari Syaikh Muhammad Faruq Itqi al-Halabi q.s. yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu.

Mawlana Syaikh Nazim q.s. juga belajar di bawah bimbingan Syaikh Sa'id al-Siba'i q.s. yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syaikh Abdullah Faiz Ad-Daghestani q.s. ke Syria. Setelah kedatangan awal beliau ke Syria dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syaikh Abdullah q.s. tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs. Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syaikh Sa'id al-Siba'i q.s. yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid. Syaikh Sa'id q.s. menulis pada beliau (Mawlana Syaikh Abdullah q.s.), Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang tengah belajar pada kami. Mawlana Syaikh Abdullah q.s. menjawab padanya, Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami! Sang murid itu adalah guru kita, Mawlana Syaikh Nazim q.s., yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay'at beliau pada Grandsyaikh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syaikh Abdullah q.s. pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Syria pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syaikh Husayn ibn Ali ibn Muhammad Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syaikhani al-Husayni q.s. (lahir 1336H/1917M) semoga Allah swt. mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damaskus, yang Allah swt. berfirman tentangnya; "Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Sinai!" (QS. 95:1-2). Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak. Diriwayatkan oleh Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.

Mawlana Syaikh Nazim q.s. juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyaikh dan bersama Mawlana Syaikh Husayn q.s., membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyaikh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami', di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyyah Grandsyaikh, di tempat mana, hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat disiapkan dalam kendi-kendi yang besar dan dibagi-bagikan bagi kaum fuqara dan miskin dua kali dalam seminggu.

Kemudian Mawlana Syaikh Nazimk tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyaikh, hingga Grandsyaikh wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus beberapa tahun sebelum kemudian pindah ke Siprus.

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyaikh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus Syamiyyun dan tinggal di distrik orang-orang salih (as-saalihiin) yang disebut Salihiyya! Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyaikh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh barakah dan terlindungi melalui para Nabi dan Awliya.

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad (rantai) yang sahih bahwa Nabi suci e bersabda, Kalian harus pergi ke Syam. Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah swt. di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini. Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah swt. telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya! Imam al-Nawawi berkata dalam kitab beliau Irsyad Tullab al-Haqa'iq ila Ma'rifati Sunan Khayr al-Khala'iq (s): "Hadits ini berkenaan dengan fadhillah (keistimewaan) yang besar dari Syams dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!"

Direktur pimpinan Dar al-Ifta (secara literal bermakna Rumah Fatwa, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syaikh Salahud Diin Fakhri q.s. mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,

Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabi'ul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syaikh Abd Allah al-Daghistani q.s.rahimahullah (semoga Allah swt. merahmatinya) di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syaikh Mukhtar al-'Alayli q.s. rahimahullah Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah pula paman dari Syaikh Hisyam Kabbani q.s., penulis], Syaikh Husayn Khalid q.s., imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir rahimahumallah (semoga Allah swt. merahmati keduanya); Syaikh Husayn Sa'biyya q.s. [saat ini direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syaikh Mahmud Sa'd q.s.; Syaikh Zakariyya Sya'r q.s.; dan Hajj Mahmud Sya'r. Syaikh Abdullah q.s. menerima kami dengan amat baik dan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Syaikh Nazim al-Qubrusi q.s. semoga Allah swt. merahmati dan menjaga beliau juga berada di situ saat itu!

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Dzuhur, sementara Syaikh (Grandsyaikh Abdullah Faiz ad-Daghestani q.s., penerj.) rahimahullah menjelaskan tentang Syams (Syria), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah swt. akan mengumpulkan seluruh manusia di dalamnya untuk penghakiman dan hisab. Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh dan tergerak, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan dalam praktik maupun dalam teori antara tasawwuf dengan Syari'ah Semoga Allah swt. membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan suhbat dengan Awliya-Nya yang shiddiq. Aamiin, yaa Rabbal 'Aalamiin!

Masih ada banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya Syams yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syaikh Muhammad Bahjat al-Baytar q.s. (1311-1396), Syaikh Sulayman Ghawji al-Albani q.s. (wafat 1378 H), ayah dari guru kami, Syaikh Wahbi q.s., Syaikh Tawfiq al-Hibri q.s., Syaikh Muhammad al-'Arabi al-'Azzuzi q.s. (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syaikh utama dari guru kami Syaikh Husayn 'Usayran q.s., al-'Arif Syaikh Syahid al-Halabi q.s., al-'Arif Syaikh Rajab at-Ta'i q.s., Syaikh al-Qurra' q.s. (ahli qira'at Quran, penerj.) Syaikh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi q.s., al-'Arif Syaikh Muhammad an-Nabhan q.s., Syaikh Ahmad 'Izz ad-Din al-Bayanuni q.s., al-'Arif Syaikh Ahmad al-Harun q.s. (1315-1382H), Syaikh Muhammad Zayn al-'Abidin al-Jadzba q.s., dan lain-lain semoga Allah swt. merahmati mereka semuanya!

Dari tiga puluh tahun suhbat (asosiasi) yang barakah antara Mawlana dan Grandsyaikh tersebut, muncullah Mercy Oceans (secara literal berarti Samudera Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan suhbat Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani q.s., penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik/pencari dengan judul-judulnya: Endless Horizons (Cakrawala tanpa Batas, penerj.), Pink Pearls (Mutiara-Mutiara Merah Muda, penerj.), Rising Suns (Matahari-Matahari yang tengah terbit, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan suhbat awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan da'wah Islam seorang diri Mawlana Syaikh Nazim q.s. di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah swt.!

Semoga Allah swt. melimpahkan lebih banyak barakah-Nya pada Mawlana Syaikh Nazim q.s. dan mengaruniakan pada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan bagi kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad saw., yang bersabda,

"Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah swt. akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu! Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang! Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!"

Tempat pertama yang kudatangi untuk mencari pengetahuan Nabawi (pengetahuan kenabian) ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah aku bersyahadat laa ilaaha illa Allah (bahwa tiada tuhan selain Allah swt.), Muhammadun Rasulullah e (Muhammad saw. adalah utusan Allah swt.). Di sanalah, aku meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay'at (sumpah setia) setelah diperkenalkan pada Thariqat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syaikh Hisyam Kabbani q.s. semoga Allah swt. membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!

Aku mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan melihat pula beliau di Damaskus. Di antara hadiah Suhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H Oktober 2001 di rumah dan zawiyah beliau di kota Cypriot Turki, Lefke. Catatan akan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fi Suhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Suhbat.

Pada saat itulah, dan juga saat-saat kemudian, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, ke Inggris, di Siprus, dan Damaskus, aku mendapatkan dari Mawlana, petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:

"Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad saw. dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah swt. mendukung kita!"

Dari sini, aku mengerti bahwa Murid yang sesungguhnya dalam Thariqat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad saw., dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.

Ketika seorang Waliyyu-llah yang telah berumur delapan puluh tahun-an di Johor, Malaysia, al-Habib 'Ali ibn Ja'far ibn 'Abd Allah al-'Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arab-nya yang tak fasih. Ketika kami memohon du'a beliau bagi negeri-negeri kita yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, "Ummah ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syaikh Nazim q.s. telah kau dapati kebercukupan!"

Dus, dengan setiap perjumpaan dari murid yang sederhana dan rendah hati dari Mawlana dengan Awliya dari Ummat ini; Mereka (para Awliya tersebut, penerj.) semuanya menunjukkan rasa hormat tertinggi serta kerendahan hati yang amat dalam bagi Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara harfiah (penampakan luar) berada pada jalan (thariqat) yang berbeda, seperti al-Habib 'Ali al-'Aydarus q.s. di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn Alawi al-Maliki q.s. di Makkah, al-Habib 'Umar ibn Hafiz q.s. di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa'i q.s. di Kuwait, Syaikh Isa al-Himyari q.s. di Dubai, Sayyid Afif ad-Din al-Jailani q.s. dan Syaikh Bakr as-Samarra'i q.s. di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir q.s. di Maroko tengah, Grandmufti Syria (alm.) Syaikh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syaikh Amin q.s. dan sahabat-sahabatnya Syaikh Bashir al-Bani q.s., Syaikh Rajab Dib q.s., dan Syaikh Ramazan Dib q.s.; Syuyukh Kattani q.s. dari Damaskus; Syaikh (alm.) Abd Allah Siraj ud-Din q.s. dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din Itr; Mawlana as-Syaikh Abd ur-Rahman as-Shaghuri q.s.; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus semoga Allah swt. selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita! Aku telah bertemu dengan setiap nama yang kusebut di atas kecuali Syaikh Sirajud-Din q.s. dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syaikh Nazim q.s., mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon do'a beliau atau do'a pengikut-pengikut beliau;

"Dan cukuplah Allah swt. sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah swt."

(QS. 48:28-29)

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah swt., penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dana, maksudnya kira-kirad diperuntukkan bagi, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan "amanat"-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (sampai, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain. Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridhaan Allah swt. dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan jama'ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.

Sebagaimana Allah swt. berfriman: "Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma'as shadiqiin" "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah swt. dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!"; dan Nabi Suci kita bersabda, "Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi'in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi'it tabi'in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela Tapi kalian mestilah tetap berada pada Jama'ah dan berhati-hatilah dari perpecahan!"

Jama'ah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah swt. untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi e, penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah swt. yang mengkaruniakan! Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah swt., tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah swt.

Ya Allah swt., jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!

Aku mendengar Mawlana Syaikh Nazim q.s. berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya Mawlana as-Syaikh Abd Allah swt.bn Muhammad 'Ali ibn Husayn al-Fa'iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami as-Salihi q.s. (ca. 1294-1393 H)[1]

dari Syaikh Syaraf ud-Din Zayn al-Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi q.s. (wafat 1354 H), dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syaikh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi q.s.[2], dari Syaikh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj 'Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri q.s. (wafat 1299 H)[3], dari Syaikh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni q.s. (wafat 1292 H)[4], juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali q.s. (wafat 1260 H)[5], dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani q.s. (wafat 1254 H)[6], dari Syaikh Diya'uddin Isma'il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani q.s. (wafat ???), dari Syaikh Isma'il al-Anarani q.s. (wafat 1242 H), dari Mawlana Diya'uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-'Utsmani ibn 'Utsman ibn 'Affan Dzun-Nurayn q.s. (1190-1242 H) dengan rantai isnad-nya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari q.s. yang berkata,

Thariqat kami adalah SHUHBAH (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA'AH (kelompok)

Semoga Allah swt. meridhai diri mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, kalbu-kalbu kita, dan keseluruhan wujud diri kita, Amin!

Beberapa kritik dari "Calon Sufi" atas Thariqat Haqqani mengatakan atas thariqat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai "kurang dalam sisi ilmu". Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu! Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah. Tak ada maaf baik bagi ia yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun ia yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertaubat-lah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah swt. dan pada ma'rifatullah (pengenalan akan Allah swt.) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam kalbunya kebanggaan sekalipun hanya setitik debu. Semoga Allah swt. melindungi diri kalian dan diri kami!

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah swt. yang Dia timpakan pada hati.

Imam as-Syafi'i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma'ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta'i, yang merupakan murid dari Habib 'Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), "Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu)," Imam Ahmad pun berkata, "Mah! Semoga Allah swt. mengampunimu! Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma'ruf?!"

Kritik lain berisi keberatan atas Rabitah atau Ikatan, suatu karakteristik khusus dari Thariqat Naqsybandi. Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabitah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau Penggambaran dalam rabitah yang meminta Murid untuk menggambarkan citra sang Syaikh dalam hatinya di permulaan maupun selama dzikir. Tetapi Allah swt. telah berfirman, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah e itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah swt. dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah swt." [33:21] dan Dia berfirman pula, "Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; " [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi e melalui ash-Shiddiq y, dan datang kepada yang terakhir ini melalui Salman y, dan masuk kepada yang terakhir ini melalui Qasim y, dan kepada yang terakhir ini melalui Sayyid Ja'far, dan seterusnya. Karena Ulama adalah pewaris para Nabi", dapat dipahami bahwa sang Mursyid adalah teladan kita akan teladan dari Nabi tersebut (di ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (sang Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi bersabda, "Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah swt.!" Hadits ini diriwayatkan dari Ibn Abbas , Asma' bint Zayd, dan Anas (semoga Allah swt. ridha atas diri mereka semua), juga dari Tabi'in Sa'id ibn Jubayr, 'Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana sang Murid dalam diri Syaikh, atau fana fis-Syaikh. Mereka berkata, "Syaikhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana'-mu pada diri Rasulullah !" Tetapi, adalah salah untuk menyamakan sang Syaikh pembimbing sama seperti yang lain. Syaikh Ahmad Sirhindi q.s. qaddas-Allahu sirrahu - berkata: "Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada Thariqat yang paling Mulia ini adalah dengan ikatan (rabitah) dan cinta pada Syaikh yang kita ikuti. Syaikh seperti itulah yang berjalan di Jalan ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah). Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat ruhani. Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu" Dus, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisba) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam Jalan ini melalui ikatan cintanya pada sang Syaikh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya. Dalam pola seperti ini, pengetahuan akan proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat. Buah semangka matang oleh panas Sang Surya jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari Sang Semangka semakin matang, namun pengetahuan macam apakah yang dimiliki sang semangka akan proses ini? Apakah sang Surya bahkan mengetahui bahwa dirinya tengah mematangkan dan menghangatkan sang Semangka? Sebagaimana disebutkan di atas, berkeberatan atas konsep fana' fis-Syaikh adalah berarti pula berkeberatan akan cinta pada sang Syaikh. Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syaikh kita dan mengetahui bahwa ia-lah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.

Sebagaimana sang penyair berpuisi:

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku mengatakan:

Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

Sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADA] apa pun, selain cintamu,

Tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain "aku cinta padamu".

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini, Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci. Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, 'Awliya'. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita 'Cinta'. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA' bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA'AT bermakna [hanya] untuk mengikuti. Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.

"Nah, Allah swt. menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah swt. mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya. Dan setiap orang yang mencintai Awliya' dan Anbiya', melalui Awliya' akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah swt."

"Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi. Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah swt. akan mencintai kalian?"

"Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta. Mereka adalah orang-orang yang kering tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi. Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka. Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia. Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya."

"Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman. Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!" (akhir suhbat Mawlana).

Dengan dan melalui Mawlana, Allah swt. telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah. Kita amat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini. Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat. Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam ayat yang Agung, "Allah swt. menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah swt.)." [2:269] Semoga Allah swt. mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia sukai bagi diri kita! Semoga Allah swt. mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid yang Sejati demi kehormatan dari Ia yang paling terhormat, Nabi Muhammad saw.!

 

Fisika Modern Dan Sufisme

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 29, 2011 at 6:51 AM Comments comments (0)

Assalamualaikum...???


DR. Muhammad Hikam StafPengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia

 

Beliau adalah PraktisiNaqshbandi-Haqqani (Murid Mawlana Syaikh Hisham Kabbani qs dan Shaykh MuhammadNazim Adil al-Haqqani)) dari : http://www.gusmus.net/

23 Desember 200511:08:28

 

 

Judul ini bisa langsungdigugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atautasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlahal qalb (pembersihkanhati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupanspiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkaninteraksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementerseperti quark, elektron, dan proton sampaibenda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan denganmateri yang tangible (dapat dipegang) atau hal-halyang dapat diterangkan secara rasional.

 

Titik kontras yang lainadalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikansebagai suatu bentuk kehidupan yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorangsufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan,meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampaiekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untukbercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kalidihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat danperilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan dilaboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yangobyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atauyang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapatdilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufiseseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.

 

Sekilas tampak sekalisusah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadimakin jelas antara Fisika klasik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampakdari luar dari Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufismeternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisikamodern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suaturealitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoksdan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yangtersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahamanmanusia.

 

Sebelum masuk lebihjauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada baiknya gambaran tentang Fisikaklasik kita lihat kembali. Konsep filosofis Fisika klasik adalah analitik,mekanistik dan deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkanalam semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian inisemua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkanhukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaandiketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka perilakusuatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan.Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuhbebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satucontoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalahramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik danternyata cocok dengan hasil pengamatan.

 

Tidak dapat disangkalbahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yangdimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disainyang berdasarkan perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatananfilosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secaraterus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik sepertiperan dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halustidak ada lagi dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untukdinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangatdireduksi sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untukberputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.

 

Kesuksesan FisikaNewtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis, dunia kasat mata danpada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Diawal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomenamikroskopik pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika,muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani olehBohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yangdiungkapkan Einstein.

 

Fisika Kuantum mempunyaiimplikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentangatom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser danchips mikroskopis yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan dibidang teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapatditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperolehgambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar)dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.

 

Implikasi filosofisFisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang prinsip ketidakpastianHeisenberg dan participating observer (hasil eksperimen selalu tergantung padapengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benarmengamatinya). Dalam dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatukepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandanganterakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukupramai.

 

Dalam teori Kuantumsetiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkansuatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikeldapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapatditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan initidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatueksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebutmeramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda,tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan.Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.

 

Oleh para Fisikawankonsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah“eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing inibisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu sajasemua ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untukmenerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut sepertikeadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensipengembangan teori Kuantum.

 

Albert Einstein sendirisangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanyaEinstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efekfotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensifilosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”.Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentangdeterminisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantumyang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapatmenerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupansehari-hari.

 

Lebih jauh tentangkonsep participating observer,pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan olehpengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitiansosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatubenda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh karenaitu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (consciousness) untukmenjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidakakan ada.

 

Disini mulai jelastitik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau mistisisme Timurlainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair Rumi:

 

"Aku adalahkehidupan dari yang kucintai

Tempatku tanpa tempat,jejakku tanpa jejak,

Bukan raga atau jiwa;semua adalah kehidupan dari yang kucintai".

 

Juga kita dapat lihatpendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:

 

"Kosmos berdiridiantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murniwujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan,dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dankalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk".

 

Bahasa Rumi “Tempatkutanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangatmemiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang“hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yangdigunakan disini.

 

Selanjutnya dalamkerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu:masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik–ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapatdikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan“dunia lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkanmany worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yangdiungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kitatempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumitentang hati yang bisa menuju ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”

 

Rumi menulis dalampuisi yang lain “Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahidmembutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikitmenunjukkan nada yang agak sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkanadanya keserupaan dengan konsep relativitas pada Fisika modern.

 

Para ahli astrofisikamodern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaanpenciptaan —big bang— dan galaksi-galaksi tersebut dalamkosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitukelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang,seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasarseperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulangdalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semuadalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secarasederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naikmenuju (cosmic ascent) kepada Allah.

 

Pencarian padananantara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalahyang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu,ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat mempengaruhi materi, “adatetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal usul semesta.

 

Beberapa hal dapatdengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasametafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkahkesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuanlogis manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yangdiungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku adalah hartatersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapatdiketahui”

 

Kita biarkan pertanyaanini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti “semangat teoriKuantum” yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusiameskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakahsekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisikamodern?

 

Sudah saatnya parafisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di Fisika namun merujuk padaentitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu energi. Di Fisika, istilah energimenunjukkan suatu besaran yang sangat real, sementara di sufisme istilah inilebih abstrak. Para ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena adakeserupaan, meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbuktisecara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energimetafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan sepertipenyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidakmengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnyamelakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasanhal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapatmempengaruhi materi (mind over matter).  

Hal ini hanya merupakansalah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Akan muncul sekali banyakmanfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme danFisika modern.

 

Wallahu a’lam bishawab. 

 

Hakikat Kenabian Dan Ciri-cirinya

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 17, 2011 at 5:45 AM Comments comments (0)

Engkau harus mengetahui bahwa tingkat tertinggi manusia adalah “orang-orang yang diberi pemahaman” (mufahhamun), dan mereka adalah orang yang dapat menggabungkan dua kekuatan – kemalaikatan dan kebinatangan – yang ia miliki, dan sisi kemalaikatannya lebih mendominasi. Mereka diutus untuk menciptakan tatanan yang dikehendaki oleh seruan langit (da’iyah haqqaniyyah), dan ilmu Ilahi, serta berbagai keadaan Dewan malaikat tertinggi yang memancar kepada mereka. Ciri-ciri “orang yang diberikan pemahaman” di antaranya adalah: ia memiliki watak yang seimbang dan watak yang harmonis dan bahwa wataknya itu tidak digerakkan secara berlebihan oleh pendapat-pendapat yang parsial (ara juz’iyyah), tidak oleh pemikiran yang berlebihan sehingga ia ditarik dengan cara apapun dari yang universal kepada yang parsial, atau dari ruh kepada bentuk. Di dalam dirinya juga tidak terdapat kebodohan berlebihan yang tidak dapat ditanggalkan untuk kemudian beranjak dari yang parsial menuju yang universal, dan dari bentuk kepada ruh. Ia adalah seorang yang sangat patuh menjalankan perbuatan-perbuatan yang mendapat petunjuk, memiliki tingkah laku yang baik di dalam perbuatan-perbuatan ibadah, dan adil  dalam memperlakukan manusia. Ia mencintai keteraturan alam semesta dan cenderung kepada kemaslahatan umum; tidak menyakiti seorangpun kecuali dalam suatu keadaan ketika kebaikan umum tergantung kepadanya atau ketika kemaslahatan umum memaksanya untuk menyakitinya. Ia tetap konsisten dalam kecenderungan kepada Yang Gaib. Pengaruh kecenderungannya ini dapat dilihat dalam perkataannya dan wajahnya, juga dalam semua wataknya, sehingga ia senantiasa mendapat pertolongan dari Yang Gaib. Perbuatan spiritual yang paling sedikit yang terbuka baginya adalah kedekatan kepada Allah dan ketenangan (sakinah) yang tidak tersingkapkan bagi orang lain.

 

Orang-orang “yang diberi pemahaman” (Mufahhamuun) ada beberapa macam dan kapasitas mereka berbeda-beda:

 

1.     1. Orang yang mencapai kapasitas paling tinggi dalam menerima ilmu-ilmu dari Allah untuk memperbaiki jiwa dengan jalan beribadah. Orang seperti ini adalah “orang yang sempurna” (kamil).2.     2. Orang yang mencapai keadaan paling tinggi dalam menerima kebaikan-kebaikan yang diusahakan dan ilmu-ilmu tentang pengaturan urusan-urusan domestic dan sebagainya. Orang yang seperti ini adalah “orang yang bijaksana” (hakim).3.      3. Orang yang biasanya memahami kebijakan-kebijakan yang komprehensif, kemudian berhasil menegakkan keadilan di antara manusia dan membela mereka dari kezaliman. Orang yang seperti ini disebut “Khalifah”.4.      4. Orang yang telah mendapatkan kunjungan Dewan Malaikat Tertinggi, mendapatkan pengajaran mereka, berbicara dengan mereka, melihat penampakan mereka, dan orang yang mampu menjelmakan berbagai macam kemuliaan spiritual (karamat). Mereka ini dikenal sebagai “orang yang telah dibantu oleh ruh suci”.5.      5. Orang yang lidah dan hatinya telah disinari, sehingga manusia disekitarnya mendapat keuntungan dari perkumpulan yang ia selenggarakan dan dari khutbah-khutbahnya. Ia juga mampu mentransfer ketenangan dan cahaya kepada murid-murid dan sahabat-sahabatnya, sehingga mereka mencapai, berkat perantaraannya, tingkat kesempurnaan yang tinggi, sementara ia sendiri tidak pernah berhenti memberikan petunjuk dan bimbingan kepada mereka. Orang seperti ini disebut “pemberi petunjuk yang murni” (hadi muzakki).6.     6. Orang yang ilmunya terutama berisi pengetahuan mengenai peraturan-peraturan bagi masyarakat keagamaan serta berbagai keuntungan darinya, dan orang yang mendorong (mereka) untuk melakukan peraturan-peraturan itu. Orang seperti ini disebut “pemimpin” (imam).7.      7. Orang yang diberi ilham untuk memberitahu manusia mengenai bencana yang telah ditentukan bagi mereka di dunia ini, atau orang yang mengetahui bahwa Allah telah mengutuk suatu umat dan memberitahu mereka mengenai hal ini, atau yang melepaskan diri dari jiwa rendahnya pada waktu-waktu tertentu, sehingga ia mampu mengetahui apa yang akan terjadi di dalam kubur dan pada hari kiamat, dan yang memberitahu mereka mengenai hal-hal ini. Orang pada tingkatan ini disebut “pemberi peringatan” (mundzir).8.      8. Jika kebijaksanaan Ilahi mengharuskan bahwa orang “yang diberikan pemahaman” diutus kepada umat manusia, sehingga ia menjadi sebab bagi dikeluarkannya umat dari kegelapan ke dalam cahaya, maka Allah mengharuskan hamba-hambaNya untuk menerima orang ini, lahir dan batin. Dewan Malaikat Tertinggi akan merasa puas dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang mengikuti dan menyertai dia, dan mereka menyediakan kutukan bagi orang-orang yang menentang dan menolaknya. Allah telah memberitahu umat mengenai hal ini dan membuat mereka mematuhinya. Orang yang seperti itu adalah “seorang nabi”. Tingkatan nabi yang terbesar adalah yang risalahnya mempunyai dimensi tambahan yang sesuai dengan tujuan Allah swt. Untuknya, yaitu bahwa ia harus menjadi sebab untuk dikeluarkannya umat “dari kegelapan kepada cahaya” dan bahwa umatnya menjadi “umat terbaik yang dikeluarkan bagi umat manusia”, sehingga risalah yang ia sampaikan harus dilengkapi dengan risalah tambahan.

 

Syah Waliyullah al-Dihlawi, Argumen Puncak Allah, Judul aslinya Hujjah Allah al Balighah pada Bab 55 Hakikat Kenabian dan Ciri-Cirinya (Serambi: hal. 356-359).


Pengetik Ulang : zian ([email protected])

Sumber : http://1artikelislam.blogspot.com/2011/04/hakikat-kenabian-dan-ciri-cirinya.html

HIV dan AIDS Bukan Penyakit ? KUTUKAN? Oleh : Syaeful Badar, MA (Direktur The Abyan Institute Warga Siaga Cirebon)

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 15, 2011 at 7:19 AM Comments comments (0)

“ Janganlah suatu kaum merendahkankaum yang lain, karena boleh jadi merekan yang direndahkan adalah lebih baikdari mereka yang merendahkan. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantarakamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah MahaMengetahui dan Maha Mengenal “  (QS :al-Hujurat (49) : 11 dan 13)

 

Fantastis,bila melihat peta social perjalanan HIV dan AIDS di Indonesia hampir data yangada terus bergerak cepat hingga dari tahun ke tahun terus meninggkat, Hinggaakhir Maret 2011 Data kasus HIV dan AIDS di Indoensia mencapai  24.482orang dengan  kematian mencapai 4.603 orang. Sementara ada 3provinsi yang data kasus HIV dan AIDS nya cukup tinggi yaitu DKI Jakarta :6.797 orang  Meninggal : 576 orang   Jawa Barat : 6.434 orang Meninggal : 665orang Jawa Timur : 4.821 orangMeninggal : 779 orang. Sedangkan di Kota Cirebon kasus HIV dan AIDS hinggaakhir Maret 2011 mencapai 466 orang yang meliputi 4 Anak Balita dan 8 Orang IbuHamil, serta jumlah yang meninggal mencapai 42 Orang.

Pada bulan Juli 1981, New York Timesmelaporkan suatu kejadian yang langka bentuk kanker di kalangan laki-laki gaydi New York dan California, pertama disebut sebagai "gay kanker";tetapi medis yang dikenal sebagai Kaposi Sarcoma. Tentang waktu yang sama,Kamar Darurat di New York City mulai melihat anguh tampaknya laki-laki mudasehat dengan presentasi fevers, seperti gejala flu, dan radang paru-paru yangdisebut Pneumocystis. Tentang satu tahun kemudian, pada CDC (PusatPengendalian) link terhadap penyakit darah dan uang logam istilah AIDS(Acquired Immune Deficiency Syndrome). Pada tahun pertama lebih dari 1.600kasus yang didiagnosis dengan hampir 700 kematian.

Institut Pasteur dari Prancismenemukan apa yang disebut mereka tertular virus HIV, tetapi tidak sampai satutahun kemudian AS ilmuwan, Dr Robert Gallo dikonfirmasi bahwa HIV adalahpenyebab AIDS. Di Indonesia mulai tahun  1983Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitianterhadap 30 waria di Jakarta. Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejalaklinis, Dr. Zubairi menyatakan dua di antaranya kemungkinan AIDS. Pada tahun1984 Di Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) VI, padaJuli, dilaporkan bahwa dari15 orang diperiksa, tiga memenuhi kriteria minimaluntuk diagnosis AIDS. Pada 1 Agustus 1985, Dr. Zubairi menyatakan bila penyakitAIDS sampai menyerang masyarakat akan sulit dicegah. Pada hari berikut, Menkesmembenarkan adanya kemungkinan AIDS sudah masuk ke Indonesia. Dr. ArjatmoTjokrnegoro PhD, ahli imunologi di FK-UI, menduga mungkin orang Indonesia kebalterhadap AIDS karena aspek rasial. Pada 8 Agustus, RSCM dan FK-UI membentuksatuan tugas untuk mengkaji masalah AIDS. Pada 2 September, Menkes menyatakansudah ada lima kasus AIDS ditemukan di Bali.  Pada tahun 1986, seorang perempuan berusia 25tahun yang didiagnosis HIV pada September 1985 meninggal dunia di RSIJ, tesdarahnya memastikan bahwa dia terinfeksi HTLV-III, dan dengan gejala klinisyang menunjukkan AIDS. Tahun 1987 Seorang wisatawan asal Belanda meninggal diRS Sanglah, Bali. Kematian pria berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkanAIDS. Indonesia masuk dalam daftar WHO sebagai negara ke-13 di Asia yangmelaporkan kasus AIDS. Pada Oktober, dilakukan Kongres tentang Penyakit AkibatHubungan Kelamin di Bali sekaligus Konferensi International Union AgainstVenerial Diseases and Treponematoses untuk kawasan Asia dan Pasifik.

Sekedarmengingatkan kembalai bahwa HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Accured Immune Deficiency Syndrome) bila ditafsirkan dalam bahasa socialsebagai berikut “ Sekumpulan Virus Yang Menyerang Sistem Kekebalan Tubuh”.Adapun HIV dan AIDS menular melalui Darah, Cairan Vagina (Perempuan), CairanMani (Laki-Laki) dan Air Susu Ibu akibat adanya kontak langsung terhadap darah,Cairan Vagina, Cairan Mani dan Air Susu Ibu (apabila ibu yang menyusui sudahter-infeksi HIV dan AIDS) selain cara-cara tersebut HIV dan AIDS tidak menular.Karena HIV dan AIDS tidak menular melalui aktivitas social seperti makan danminum bersama, menggunakan kamar mandi dan kamar tidur secara bergantian,renang, menggunakan HP, bersalaman, serta menggunakan baju dan celana secarabergantian, diskusi, ngobrol, rapat, tadarus dan sholat berjama’ah

Dulu yang dianggap kelompok resiko tinggi ataurentan tertular HIV dan AIDS adalah Pengguna Narkoba Suntik, karenakecenderungan mereka dalam melakukan kegiatan selalu menggunakan jarum suntiksecara bersama-sama, sehingga cara ini berpotensi dapat menularkan HIV dan AIDSkarena terjadi kontak langsung terhadap darah. Disamping juga kelompok rentantertular HIV dan AIDS yang lain seperti WPS (Wanita Penjual Sek), PelangganWPS, Waria dan kelmpok GAY atau yang sering berganti-ganti pasangan sek,kecenderungan mereka dalam melakukan kontak sek tidak menggunakan pengaman ataukondom. Namun saat ini justru yang rentan tertular HIV dan AIDS adalah IbuRumah Tangga, Bayi dan Anak. Kenapa hal ini bisa terjadi karena kelompok yangselama ini di anggap rentan terhadap virus HIV dan AIDS yaitu kelompok PenggunaNarkoba Suntik, Gay dan Waria sudah mampu memproteksi diri dengan menggunanakjarum suntik steril dan alat pengaman sek (kondom), sementara masih ada duakelompok rentan tertular virus HIV dan AIDS yang lain yaitu WPS danPelanggannya belum mampu memproteksi diri terhadap ancaman virus HIV tesebut.Sungguh mengejutkan data kasus IMS atau Infeksi Menular Sek yang merupakanpintu masuk virus HIV dan AIDS ke tubuh manusia, data IMS di Jawa Barat padaakhir Desember 2010 menyerang ke 500 orang Ibu Rumah Tangga, sementara hanyaada 200 WPS yang terkena IMS di Jawa Barat, bila melihat kasus IMS tersebut,maka bisa jadi ke 500 orang Ibu Rumah Tangga yang terkena IMS ditularkan olehsuaminya ?

Tanpa disadari kini disekitar kita, mungkin jugatetangga, kerabat, sahabat, keluarga atau komunitas terdekat kita sudah adayang tertular virus HIV dan AIDS, karena memang orang yang terkena HIV dan AIDStampak sehat dan tidak dampak dalam gejala fisik, karena untuk mengetahui seseorangtertular HIV dan AIDS hanya dengan satu cara yaitu TES DARAH serta melaluiKonseling & Testing Sukarela (VCT). Selain kedua cara tersebut virus HIVdan AIDS tidak bisa di deteksi sehingga seseorang yang sudah tertular terkadangtidak merasakannya, baru setelah beberapa tahun kemudian ketika daya tahantubuhnya semakin menurun maka semua potensi penyakit akan mudah masuk ketubuhnya.

Dari jumlah data kasus HIV dan AIDS di Kota Cirebonyang mencapai 466 orang yang berani tes darah dan Konseling & TestingSukarela (VCT) diperkirakan baru sekitar 10% nya. Artinya yang 90% nya masihbelum mengetahui bahwa dirinya sudah tertular virus HIV dan AIDS, hal ini yangkemudian secara terus menerus jumlah kasus HIV dan AIDS akan menerus meningkatdatanya. Dalam kasus HIV dan AIDS mengenal rumus fenomena Gunung Es artinyadari data yang ada di kalikan 100, jadi kalau di Kota Cirebon terdapat 466orang yang terinfeksi virus HIV dan AIDS maka 466 X 100 = 46.600 jadi secaraestimasi data di Kota Cirebon kasus HIV dan AIDS diperkirakan mencapai 46.600orang dari jumlah penduduk Kota Cirebon yang hanya mencapai  295.764 jiwa (BPS tahun 2010).

Lantas bagaimana kita menyikaspifenomena social yang terjadi terhadap kasus HIV dan AIDS disekitar kita ?. Duacara memandang dalam kasus HIV dan AIDS, yang pertama kita katogorikan bahwamereka yang tertular adalah KORBAN, sehingga wajib di bantu dan difasiliatsiagar mereka dapat hidup layak sebagaimana manusia yang lainnya, mereka dapat beribadahdengan tenang, bekerja dengan tenang dan hidup dengan nyaman dilingkungannya,karena mereka manusia juga yang sama derajatnya dalam pandangan ALLAH SWT. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orangyang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal “.Adapun kedua kita hindari perilaku atau perbuatan yang mengarah kepadakecenderungan untuk bisa tertular virus HIV dan AIDS, jangan menggunakannarkoba dan jangan berbuat zinah, karena sesungguhnya Islam telah meng-HARAM-kankeduanya.

            Adapun bagi penderita HIV dan AIDS,KH. Husein Muhammad dalam bukunya yang berjudul FIQH HIV dan AIDS mengatakanada dua hal yang wajib dilakukan oleh penderita HIV dan AIDS yaitu BER-TOBATdan BER-OBAT artinya segera berperilaku yang baik dan benar sesuai norma agamaserta berperilaku hidup sehat secara ter-atur dan terus menerus. Sementarauntuk keluarga yang salah satu anggota keluarganya tertular HIV dan AIDS JANGANDIKUCILKAN ! beri MOTIVASI agar tetap terus hidup dan sehat sehingga akan mampuberibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan agama, sedangkan untukmasyarakat yang mungkin dilingkungan tempat tinggalnya ada salah seorang ataukeluarga yang terkena virus HIV dan AID maka beri dukungan agar terus berupayauntuk hidup sehat dan mandiri. Karena HIV dan AIDS bukan KUTUKAN.  


Pengetik Ulang : Zian ([email protected])

Sumber : (dari berbagai sumber)


KONSEKUENSIISTIKMAL RAJAB 1432H

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 6, 2011 at 5:27 AM Comments comments (0)

KONSEKUENSIISTIKMAL RAJAB 1432H

 

“Laporan dari daerah-daerah menyatakan bahwa ru’yah jum’at petang 1 Juli2011 tidak berhasil melihat hilal. Maka atas dasar istikmal, awal sya’ban 1432Hjatuh pada ahad 3 Juli 2011. Trmksh atas partisipasi Nahdliyyin sekalian."(LFPBNU)

 

ISTIKMAL RAJAB DAN RUKYAT AWAL SYA’BAN 1432H

 

Informasi di atas merupakan sebuah pesan singkat dari KH. Ghozalie Masrurieselaku ketua Lajnah Falakiyyah PBNU (LFPBNU) yang mengabarkan hasil pelaksanaanrukyat yang dilaksanakan oleh warga Nadhliyyin diberbagai pelosok Indonesiayang tidak dapat menyaksikan kemunculan hilal.

 

Sehingga, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam,Rajab digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari dan 1 Sya’ban bertepatan denganhari Ahad, 3 Juli 2011.

 

Pelaksanaan Rukyat Awal Sya’ban memiliki posisi penting karena bulan setelahSya’ban adalah Bulan Suci Ramadhan dimana umat Islam diwajibkan untukmelaksanakan puasa selama satu bulan penuh.

 

Pada dasarnya, Istikmal pada akhir Rajab 1432H sudah dapat diperkirakan denganpasti melalui perhitungan (Hisab) posisi bulan pada tanggal 29 Rajab 1432H(bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2011). Pada tanggal 1 Juli 2011 Ijtima’diperkirakan terjadi pada jam 15:54 LT dan matahari tenggelam pada jam 14:54LT. Hal ini berarti Ijtima’ terjadi setelah matahari tenggelam sehingga hilaldikatakan belum wujud sehingga dapat dipastikan hilal tidak dapat dirukyat.Oleh karenanya, berdasar ketentuan NU maupun Muhammadiyah, bulan Rajabdigenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

 

Jika hilal belum wujud pada tanggal 1 Juli 2011, maka hilal Sya’ban 1432H baruakan bisa dilihat untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Juli 2011. Dari datahisab posisi hilal diperoleh ketinggian hilal pada saat matahari tenggelam padatanggal 2 Juli 2011 sebesar +12°:41':07". Dengan Ketinggian tersebut,Hilal sering dikatakan pasti dan mudah terlihat, JIKA tidak tertutup awan.Karena jika tertutup awan, Bulan Purnama dan Mataharipun tidak akan dapatdilihat. Namun apakah hilal dengan posisi tersebut memang mudah terlihat?

 

Dengan kondisi cuaca berawan, Tim rukyat PBNU dan PWNU DKI Jakarta telahmelakukan pengujian data hisab dan perangkat rukyat yang ada di NUMO (NahdlotulUlama’ Mobile Observatory) . Hal ini ditujukan untuk lebih memantapkan jatuhnyaawal Sya’ban 1432H meskipun hasil yang diperoleh tidak mempunyai implikasihukum pada penetapan awal bulan Sya’ban. Dari pelaksanaan rukyat tersebutdiperoleh kesaksian 4 perukyat dapat mengenali keberadaan hilal melaluiteleskop tersebut. Meskipun menggunakan sistem teleskop yang memiliki kemampuanrobotic yang dapat mengarah dan mengikuti gerak bulan secara otomastis tersebuthilal dapat dikenali untuk pertama kalinya pada jam 18:02 WIB pada ketinggiansekitar 8 derajat. Hal ini berarti hilal baru dapat dilihat sekitar 12 menitsetelah matahari tenggelam atau turun sekitar 4 derajat dari ketinggian semula.Dan tidak satupun dari perukyat yang hadir dapat mengenali hilal tersebutsecara langsung dengan mata telanjang. Sehingga hilal dengan ketinggian diatas10 derajat meskipun dapat dipastikan dapat dilihat ternyata hilal tidak mudahuntuk dirukyat. Sayang sekali karena kendala masalah teknis di lapanganpenampakan hilal tersebut tidak dapat didokumentasikan melalui kamera yang ada.

 

KONSEKUENSI AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL 1432H

 

Baik dari hasil istikmal ataupun hasil rukyat yang telah dilaksanakan dapatdipastikan dengan haqul yakin, 1 Sya’ban 1432H bertepatan dengan tanggal 3 Juli2011. Hal ini akan menjadikan tanggal 31 Juli 2011 bertepatan dengan tanggal 29Sya’ban 1432H. Sehingga kewajiban melaksanakan rukyat Syar’i juga dilaksanakanpada tanggal 31 Juli 2011 tersebut.

Tabel 1 menunjukkan data hisab posisi bulan pada tanggal 31 Juli 2011 yangdihitung untuk markaz Jakarta. Dari table tersebut dapat dilihat bahwa posisihilal pada tanggal 31 Juli 2011 memenuhi kriteria penanggalan yang digunakanoleh MABIMS. Sehingga berdasar kriteria tersebut hilal pada posisi MEMUNGKINKANuntuk dapat dilihat . Terlebih jika posisi hilal tersebut dibandingkan denganposisi ‘rekor hilal’ yang dapat terekam oleh penulis ketika melakukanpengamatan hilal bersama TIM SIHIRU DPEKOMINFO-ITB maka posisi hilal padatanggal 31 Juli 2011 mempunyai peluang untuk dapat diamati, tentunya jika hilaltidak tertutup awan. Meskipun demikian, dari pengalaman merukyat hilal padatanggal 2 Juli 2011 tentunya hilal penentu awal ramadhan 1432H akan lebih sulituntuk dikenali dengan teleskop terlebih jika menggunakan mata telanjang.

 

Dengan kondisi cuaca yang tidak dapat dipastikan tersebut masih memberikankemungkinan hilal akan tertutup oleh awan. JIkalau hal ini yang terjadi, apakahketetapan Istikmal yang akan diikbarkan? Berdasar kriteria MABIMS, kemungkinanbesar Pemerintah melalui kemenag akan menetapkan awal Ramadhan jatuh padatanggal 1 Agustus 2011. Tentunya kita berharap, hilal dapat dirukyat pada akhirrajab 1432H sehinga pelaksanaan puasa Ramadhan 1432H dapat dilaksanakan secaraserentak di Indonesia.

 

Hal yang lebih rentan akan perbedaan justru dimungkinkan terjadi padapelaksanaan rukyat hilal akhir Ramadhan 1432H.

Berdasar data hisab yang terdapat pada tabel1 dapat dilihat posisi hilal untukmarkaz Jakarta tidak semuanya memenuhi kriteria MABIMS. Bahkan dalampenanggalan NU, ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat. Hal ini dapatberimplikasi kesaksian yang ada akan ditolak oleh Lajnah Falakiyyah PBNUsebagaimana kasus Bangkalan dikarenakan awal bulan MABIMS merupakan kriteriaminimal untuk dapat menerima kesaksian hilal. Jika hal ini yang terjadi makadimungkinkan bulan Ramadhan 1432H akan diistikmalkan menjadi 30 hari dan IedulFitri 1432H akan bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.

 

Pada dasarnya ketinggian 2 derajat masih merupakan posisi yang sangat sulit(kalau boleh dibilang mustahil) untuk dapat dirukyat. Terlebih mengingatpengalaman hilal awal sya’ban 1432 yang baru dapat dikenali 10 menit setelahmatahari tenggelam dengan menggunakan alat bantu Teleskop. JIka dilakukanasumsi yang sama, dimana hilal baru dapat dikenaliu 10 menit setelah mataharitenggelam maka Hilal awal syawal akan tenggelam terlebih dahulu sebelummenampakkan wujudnya pada mata para perukyat. Terlebih jika rukyat tersebutdilaksanakan di Jakarta yang kondisi usuknya sering kali tidak dapat dilihatkarena pengaruh polusi smog.

 

Pada dasarnya kemungkinan terjadinya perbedaan dalam mengawali bulan-bulanhijriyyah senantiasa terbuka lebar jika ketinggian hilal positif, berapapunketinggiannya karena kriteria yang digunakan saat ini dapat dikategorikansebagai kriteria minimal untuk menerima sebuah kesaksian hilal. Hal inimerupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dalam Lajnah Falakiyyah PBNU yangoleh ketua Lajnah Falakiyyah PBNU, KH. Ghozalie Masrurie, disebut telah berlaricepat. Pada mulanya NU hanya menggunakan rukyat, kemudian juga menggunakanhisab untuk memandu rukyat, dan mulai menggunakan kriteria imkan rukyat sebagainilai minimal diterimanya kesaksian rukyat. LFPBNU juga meningkatkan kemampuanrukyatnya melalui berbagai pelatihan dan perlengkapan rukyat yang baik hal inibisa dilihat dengan adanya NUMO (Nahdlotul Ulama Mobile Ulama’;).

 

Beragam langkah kemajuan tersebut menunjukkan LFPBNU dinamis untuk mencari yangpaling baik sebagaimana kaidah yang dipegang “al-Mukhafadhotul ‘alal QodimisSholih wal Akhdu bil jaded al-Aslah”.

 

Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk menjumpai Bulan penuh berkah, BulanSuci Ramadhan 1432H. [oleh : Hendro Setyanto]

 

Tabel1. Data posisi Hilal pada tangal 2 Juli 2011, 31 Juli 2011 dan 29 Agustus2011 yang diperkirakan bertepatan dengan tanggal 30 Rajab 1432H, 29 Sya’ban1432H dan 29 Ramadhan 1432H. 

 


By : yansen ([email protected])

Sumber : http/nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/32814/Teknologi/Hilal_Ramadhan.html

 

 


Takut Miskin Adalah Bisikan Setan

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 2, 2011 at 4:57 AM Comments comments (0)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, والصلاةوالسلام على أشرف المرسلين. أما بعد :

Tahun ini lulus sekolah atau kuliah. bingung akan kerja apanantinya setelah lulus. melihat jaman sekarang yang serba tidak menentu.datanglah rasa was-was dalam diri, bisikan ditelinga yang mengatakan,"akan kerja apa kamu nanti? kamu lulus cuma dapat ijazah dan nilai kamu juganggak bagus-bagus. mau jadi PNS? yang antri ribuan. mau jadi pengusaha? udahbanyak saingan. mau kerja apa sedangkan kamu g punya skill. kalo nggak punyapekerjaan bakal jadi orang miskin. makan aja susah, apa lagi infaq."

 

Bangsa yang besar. masa depannya yang seharusnya berada ditangan mereka, justrugenerasi tersebut sedang dihantui oleh ketidak pastian masa depan. apa lagimembawa bangsa ini kepada kejayaan. pasti tidak terpikirkan. lalu apa yangseharusnya dilakukan oleh generasi muda bangsa ini?

Setan menakut-nakuti kamu dengankemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikanuntukmu ampunan daripada-Nya dan karunia (rizki)

 

Sebagai muslim dan bangsa yang bermartabat, kita harus akar permasalah itu.bahwa rasa was-was dan ketakutan tidak adanya masa depan itu hanya datang darisetan. dan setan adalah musuh yang nyata bagi kita. dan sekarang, tergantungsikap kita bagaimana menghadapi bisikan musuh tersebut. apakah kita menyerahsaja dengan musuh, atau kita akan terus melawan karena bisikan setan sangatlahlemah dan yakin bahwa Allah tidak pernah ingkar janji. Allah berfirman :

الشَّيْطانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَوَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلاًوَاللَّهُ واسِعٌ عَلِيمٌ

 

Artinya : "Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan danmenyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmuampunan daripada-Nya dan karunia (rizki). Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya)lagi Maha Mengatahui." (QS Al-Baqarah : 268)

 

Kita sering mendengar sebuah kata bahwa kegagalan itu hanya selangkah darikeberhasilan. jadi kenapa langkah kita selalu terhenti ketika menghadapikegagalan?! tingkat keberhasilan seseorang diukur dari usaha yang dia kerjakandan iman yang benar-benar dia yakini.

 

Sudah menjadi sunnatullah bahwa sebuah biji akan tumbuh menjadi tunas barukemudian membesar dan terus tumbuh menjadi lebih besar. tidak ada usahaseseorang yang dimulai dari nol kemudian seketika itu menjadi besar. semua adaproses dan membutuhkan waktu, seperti jika kita menghitung bilangan dari nolkemudian langsung sepuluh pasti akan salah. bahkan anak kecil pun akan bisamenyalahkan kita karena dia tahu angka setelah nol adalah satu, setelah satuadalah dua dan seterusnya.

 

Kita tidak boleh loncat dari angka nol langsung ke angka sepuluh karenadiantara itu masih banyak angka yang harus disebut. begitu juga masa depan dankeberhasilan, akan benar-benar tercapai tergantung kemampuan kita menghitungangka-angka setelah nol dan kesabaran akan usaha kita sehingga sampailahhitungan kita ke bilangan sepuluh.

 


Pengetik ulang : Yansen ([email protected])

Tanggal : 02 juli 2011 (16:13)

Read more: http://www.artikelislami.com/2011/06/takut-miskin-adalah-bisikan-setan.html#ixzz1QqHYMO7p

 

Fungsi Pendidikan Agama Islam Dalam Berbagai Aspek

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on June 27, 2011 at 10:38 AM Comments comments (0)

Pembahasan tentang pendidikan agama memang bisa jadi sangat luas, akan tetapi bisa diperinci menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek-aspek yang ada. Pada kesempatan ini Kafeilmu.com membahas pendidikan akama Islam dari segi fungsinya. Dalam membahas fungsi pendidikan agama Islam, kita patut mengungkapkan uraian-uraian yang terkandung dalam kurikulum pendidikan agama Islam, karena pada dasarnya, disanalah tertuang fungsi-fungsi pendidikan tersebut.

Kurikulum pendidikan agama Islam untuk sekolah / madrasah mempunyai beberapa fungsi. Fungsi tersebut adalah garis-garis besar penjabaran dari fungsi pendidikan agama Islam. Adapun fungsi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Fungsi Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada Allah SWT. yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga. Pada dasarnya dan pertama - tama kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan oleh setiap orang tua dalam keluarga. Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih lanjut dalam diri anak melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaan tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.Fungsi Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.Fungsi Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.Fungsi Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam kehidupan sehari-hari.Fungsi Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia seutuhnya.Fungsi Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.Fungsi Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.Menjabarkan Fungsi Pendidikan Agama Islam Dalam SekolahAda beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengaplikasikan fungsi pendidikan agama Islam dalam bentuk praksis. Feisal berpendapat bahwa fungsi pendidikan agama Islam di sekolah dapat diupayakan dalam beberapa model berikut:

Pendekatan nilai universal (makro) yaitu suatu program yang dijabarkan dalam kurikulum.Pendekatan meso, artinya pendekatan program pendidikan yang memiliki kurikulum, sehingga dapat memberikan informasi dan kompetisi pada anak.Pendekatan ekso, artinya pendekatan program pendidikan yang memberikan kemampuan kebijakan pada anak untuk membudidayakan nilai agama Islam.Pendekatan makro,artinya pendekatan program pendidikan yang memberikan kemampuan kecukupan keterampilan seseorang sebagai profesional yang mampu mengemukakan ilmu teori, informasi, yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.Demikianlah sekelumit pembahasan mengenai fungsi pendidikan agama Islam, memang masih banyak yang bisa diperjelas dan diperlebar, namun saat ini untuk lebih fokus pada pembahasan, kafeilmu lebih terfokus pada masalah fungsi saja. Pada kesempatan yang lain, kami akan membahas wacana-wacana yang lain.

 


Pengetik ulang : Yansen ([email protected])

Read more: http://kafeilmu.com/2011/05/fungsi-pendidikan-agama-islam.html#ixzz1QUHDWj7O
Tanggal : 27 juni 2011

 


Kandungan Iman Kepada Malaikat

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on June 24, 2011 at 3:39 AM Comments comments (0)

Assalamualaikum.. wr. wb.

Beriman kepada malaikat tidak hanyasebatas ucapan yang dilafadzkan lisan, atau hanya berdasarkan pengakuan belaka.Tetapi ada beberapa hal yang terkandung didalamnya.

1. Mengimani wujud mereka

Oleh karena itu siapa yang mengingkari keberadaan mereka maka sungguh ia telah mengingkari apa yang telah datang didalam Al-Quran. ALLAH ''Azza Wa Jalla berfirman:

"Barang siapa yang kafir kepada ALLAH, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya , Rasul-rasul-Nya dan Hari Akhir maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh" (QS. An-nisa' : 136)

2. Mengimani nama-nama mereka

Yaitu kita diperintahkan untuk mengimani dan meyakini akan nama-nama malaikat yang telah disebutkan secara gamblang, baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah seperti jibril, mikail, israfil, malakul maut, zabaniyah, malik,DLL. Adapun nama-nama yang tidak disebutkan secara gamblang maka wajib kita imani secara ijmal (global).

3. Mengimani sifat-sifat mereka

ALLAH menciptakan makhluk-Nya dengan sifat-sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu sifat malaikat berbeda dengan sifat manusia. Dan diantara sifat-sifat yang disebutkan didalam Al-Quran dan As-Sunnah adalah :

Mereka memiliki sayap, ALLAH berfirman :

"Segala puji bagi ALLAH Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan,
(Untuk mengurus berbagai urusan) yang memiliki sayap masing-masing ada (yang) satu, dua, tiga, empat" 

(QS. Fathir : 1)

Dan Rasulullah Shollallahu 'alaihi  wassalam memberi tahu bahwa tahu bahwa Jibril memiliki 600 sayap.

Dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah melihat Jibril memiliki 600 sayap (HR Bukhori dan Muslim)

  • Malaikat adalah hamba-hamba yang patuh, taat dan tidak pernah membangkan terhadap perintah ALLAH. ALLAH berfirman :
    "Mereka (para malaikat) takut kepada Rabb (yang berkuasa) diatas mereka dan mereka melaksanakan apa yang di perintahkan kepada mereka"  (QS. An-Nahl : 50)

    Dan juga firman ALLAH 'Azza Wa Jalla dalam surat At-Tahrim. :
    "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada ALLAH terhadap apa yang Dia perintahakan dan juga selalu mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka"  (QS. At-Tahrim : 6)
  • Malaikat dapat berubah wujud menjadi seorang laki-laki dengan izin ALLAH, seperti Jibril tatkala menjumpai Maryam dan memberikan kabar gembira baginya dengan kelahiran Nabi Isa. ALLAH Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

    "Dan kami mengutusJibril kepadanya, maka dia menampakkan diri dihadapannya (maryam) dalam bentuk manusia yang sempurna"  (QS. Maryam : 17)

4. Mengimani akan tugas-tugas mereka

Para malaikat melaksanakan tugas-tugas mereka secara umum, seperti beribadah, bertasbih siang dan malam tanpa rasa jenuh dan bosan.

ALLAH Ta'ala berfirman dalam dalam ayat-Nya :

"Dan milik-Nyalah siapa saja yang dilangit dan bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang diisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka (para malaikat)bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang"  (QS. Al-Anbiya : 19-20)

Di antara mereka adapula yang diserahi tugas khusus seperti :

  1. Menyampaikan wahyu kepada Rasul-rasul ALLAH yaitu;Jibril
  2. Menurunkan hujan, yaitu;mikail
  3. Meniup sangkakala Ketika hari kiamat, yaitu Israfil
  4. Mencabut nyawa, yaitu Malakul Maut
  5. Meniup ruh dalam janin dan menetapkan baginya 4 hal (rizki, ajal, amal dan tempat kembalinya). Dan lain-lain yang telah shahih ditetapkan oleh nsash-nash.

Selain tugas yang berkaitan dengan manusia seperti yang telah disebutkan  di atas, juga ada para malaikat yang tugasnya berkaitan dengan alam seperti malaikat yang mengurusi (menjaga) gunung, matahari, awan, bulan, bintang, dan hujan.


tanggal : 24-juni-2011

Sumber : Buletin Dakwah At-Ta'lim.

Pengetik ulang : yansen ([email protected])

IMAN KEPADA MALAIKAT

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on June 23, 2011 at 11:48 PM Comments comments (0)

Assalamualaikum wr. wb.

Para pembaca yang budiman , di antara rukun iman yang enam, yang kaum muslimin diperintahkan oleh ALLAH dan Rasul-Nya, baik melalui ayat-ayat Al-Quran maupun dalam hadist-hadist Rasulullah adalah beriman kepada malaikat, makhluk yang ALLAH ciptakan dari cahaya.

Syeikh Al-Utsaimin rahimahumullah berkata : Malaikat merupakan (salah satu) dari makhluk ghoib, hamba-hamba ALLAH yang tidak memiliki kekhususan sedikitpun dalam hal Rububiyah (Sifat Ke-Tuhan-an) dan Uluhiyah (Sifat Ke-Ilahian). Mereka diciptakan dari cahaya, dianugerahi sifat tunduk, dan patuh akan perintah (ALLAH) serta dibekali kemampuan untuk melaksanakan perintah tersebut.

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan adam diciptakan dari apa yang telah disifati untuk kalian [tanah]." (HR Muslim dan Ahmad)

Syeikh Sholih bain Fauzan hafidzahullah berkata : kata "AL-MALAIKAH" adalah bentuk jamak dari kata "Al-MALAK"  mereka termasuk makhluk ALLAH yang ghoib. ALLAH menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, mereka berkelompok masing-masing diberi tugas lalu mereka mengerkajakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Dan juga tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali ALLAH, sebagaimana dfirmankan dalam Al-Quran :

"Dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali DIa"  (QS Al-Muddatstir : 31)

Juga sebagaimana yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kabarkan kepada kita tatakala beliau dimi'rajkan, beliau melihat baitul Ma'mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu(70.000) malaikat untuk sholat di dalamnya dan kemudian tidak keluar lag. Maka bagaimana kita bisa menghitung dan menentukan jumlah mereka?.


Tanggal : 24-juni-2011(10:41)

Sumber : Buletin Dakwah At-Ta'lim(Pembelajaran Tanpa Henti)

Pengetik ulang : Yansen ([email protected])


Rss_feed

Recent Videos

65 views - 0 comments