Remaja Masjid Raya At- Taqwa
Kota Cirebon

Home

KONSEKUENSIISTIKMAL RAJAB 1432H

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on July 6, 2011 at 5:27 AM

KONSEKUENSIISTIKMAL RAJAB 1432H

 

“Laporan dari daerah-daerah menyatakan bahwa ru’yah jum’at petang 1 Juli2011 tidak berhasil melihat hilal. Maka atas dasar istikmal, awal sya’ban 1432Hjatuh pada ahad 3 Juli 2011. Trmksh atas partisipasi Nahdliyyin sekalian."(LFPBNU)

 

ISTIKMAL RAJAB DAN RUKYAT AWAL SYA’BAN 1432H

 

Informasi di atas merupakan sebuah pesan singkat dari KH. Ghozalie Masrurieselaku ketua Lajnah Falakiyyah PBNU (LFPBNU) yang mengabarkan hasil pelaksanaanrukyat yang dilaksanakan oleh warga Nadhliyyin diberbagai pelosok Indonesiayang tidak dapat menyaksikan kemunculan hilal.

 

Sehingga, sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam,Rajab digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari dan 1 Sya’ban bertepatan denganhari Ahad, 3 Juli 2011.

 

Pelaksanaan Rukyat Awal Sya’ban memiliki posisi penting karena bulan setelahSya’ban adalah Bulan Suci Ramadhan dimana umat Islam diwajibkan untukmelaksanakan puasa selama satu bulan penuh.

 

Pada dasarnya, Istikmal pada akhir Rajab 1432H sudah dapat diperkirakan denganpasti melalui perhitungan (Hisab) posisi bulan pada tanggal 29 Rajab 1432H(bertepatan dengan tanggal 1 Juli 2011). Pada tanggal 1 Juli 2011 Ijtima’diperkirakan terjadi pada jam 15:54 LT dan matahari tenggelam pada jam 14:54LT. Hal ini berarti Ijtima’ terjadi setelah matahari tenggelam sehingga hilaldikatakan belum wujud sehingga dapat dipastikan hilal tidak dapat dirukyat.Oleh karenanya, berdasar ketentuan NU maupun Muhammadiyah, bulan Rajabdigenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

 

Jika hilal belum wujud pada tanggal 1 Juli 2011, maka hilal Sya’ban 1432H baruakan bisa dilihat untuk pertama kalinya pada tanggal 2 Juli 2011. Dari datahisab posisi hilal diperoleh ketinggian hilal pada saat matahari tenggelam padatanggal 2 Juli 2011 sebesar +12°:41':07". Dengan Ketinggian tersebut,Hilal sering dikatakan pasti dan mudah terlihat, JIKA tidak tertutup awan.Karena jika tertutup awan, Bulan Purnama dan Mataharipun tidak akan dapatdilihat. Namun apakah hilal dengan posisi tersebut memang mudah terlihat?

 

Dengan kondisi cuaca berawan, Tim rukyat PBNU dan PWNU DKI Jakarta telahmelakukan pengujian data hisab dan perangkat rukyat yang ada di NUMO (NahdlotulUlama’ Mobile Observatory) . Hal ini ditujukan untuk lebih memantapkan jatuhnyaawal Sya’ban 1432H meskipun hasil yang diperoleh tidak mempunyai implikasihukum pada penetapan awal bulan Sya’ban. Dari pelaksanaan rukyat tersebutdiperoleh kesaksian 4 perukyat dapat mengenali keberadaan hilal melaluiteleskop tersebut. Meskipun menggunakan sistem teleskop yang memiliki kemampuanrobotic yang dapat mengarah dan mengikuti gerak bulan secara otomastis tersebuthilal dapat dikenali untuk pertama kalinya pada jam 18:02 WIB pada ketinggiansekitar 8 derajat. Hal ini berarti hilal baru dapat dilihat sekitar 12 menitsetelah matahari tenggelam atau turun sekitar 4 derajat dari ketinggian semula.Dan tidak satupun dari perukyat yang hadir dapat mengenali hilal tersebutsecara langsung dengan mata telanjang. Sehingga hilal dengan ketinggian diatas10 derajat meskipun dapat dipastikan dapat dilihat ternyata hilal tidak mudahuntuk dirukyat. Sayang sekali karena kendala masalah teknis di lapanganpenampakan hilal tersebut tidak dapat didokumentasikan melalui kamera yang ada.

 

KONSEKUENSI AWAL RAMADHAN DAN SYAWAL 1432H

 

Baik dari hasil istikmal ataupun hasil rukyat yang telah dilaksanakan dapatdipastikan dengan haqul yakin, 1 Sya’ban 1432H bertepatan dengan tanggal 3 Juli2011. Hal ini akan menjadikan tanggal 31 Juli 2011 bertepatan dengan tanggal 29Sya’ban 1432H. Sehingga kewajiban melaksanakan rukyat Syar’i juga dilaksanakanpada tanggal 31 Juli 2011 tersebut.

Tabel 1 menunjukkan data hisab posisi bulan pada tanggal 31 Juli 2011 yangdihitung untuk markaz Jakarta. Dari table tersebut dapat dilihat bahwa posisihilal pada tanggal 31 Juli 2011 memenuhi kriteria penanggalan yang digunakanoleh MABIMS. Sehingga berdasar kriteria tersebut hilal pada posisi MEMUNGKINKANuntuk dapat dilihat . Terlebih jika posisi hilal tersebut dibandingkan denganposisi ‘rekor hilal’ yang dapat terekam oleh penulis ketika melakukanpengamatan hilal bersama TIM SIHIRU DPEKOMINFO-ITB maka posisi hilal padatanggal 31 Juli 2011 mempunyai peluang untuk dapat diamati, tentunya jika hilaltidak tertutup awan. Meskipun demikian, dari pengalaman merukyat hilal padatanggal 2 Juli 2011 tentunya hilal penentu awal ramadhan 1432H akan lebih sulituntuk dikenali dengan teleskop terlebih jika menggunakan mata telanjang.

 

Dengan kondisi cuaca yang tidak dapat dipastikan tersebut masih memberikankemungkinan hilal akan tertutup oleh awan. JIkalau hal ini yang terjadi, apakahketetapan Istikmal yang akan diikbarkan? Berdasar kriteria MABIMS, kemungkinanbesar Pemerintah melalui kemenag akan menetapkan awal Ramadhan jatuh padatanggal 1 Agustus 2011. Tentunya kita berharap, hilal dapat dirukyat pada akhirrajab 1432H sehinga pelaksanaan puasa Ramadhan 1432H dapat dilaksanakan secaraserentak di Indonesia.

 

Hal yang lebih rentan akan perbedaan justru dimungkinkan terjadi padapelaksanaan rukyat hilal akhir Ramadhan 1432H.

Berdasar data hisab yang terdapat pada tabel1 dapat dilihat posisi hilal untukmarkaz Jakarta tidak semuanya memenuhi kriteria MABIMS. Bahkan dalampenanggalan NU, ketinggian hilal masih di bawah 2 derajat. Hal ini dapatberimplikasi kesaksian yang ada akan ditolak oleh Lajnah Falakiyyah PBNUsebagaimana kasus Bangkalan dikarenakan awal bulan MABIMS merupakan kriteriaminimal untuk dapat menerima kesaksian hilal. Jika hal ini yang terjadi makadimungkinkan bulan Ramadhan 1432H akan diistikmalkan menjadi 30 hari dan IedulFitri 1432H akan bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.

 

Pada dasarnya ketinggian 2 derajat masih merupakan posisi yang sangat sulit(kalau boleh dibilang mustahil) untuk dapat dirukyat. Terlebih mengingatpengalaman hilal awal sya’ban 1432 yang baru dapat dikenali 10 menit setelahmatahari tenggelam dengan menggunakan alat bantu Teleskop. JIka dilakukanasumsi yang sama, dimana hilal baru dapat dikenaliu 10 menit setelah mataharitenggelam maka Hilal awal syawal akan tenggelam terlebih dahulu sebelummenampakkan wujudnya pada mata para perukyat. Terlebih jika rukyat tersebutdilaksanakan di Jakarta yang kondisi usuknya sering kali tidak dapat dilihatkarena pengaruh polusi smog.

 

Pada dasarnya kemungkinan terjadinya perbedaan dalam mengawali bulan-bulanhijriyyah senantiasa terbuka lebar jika ketinggian hilal positif, berapapunketinggiannya karena kriteria yang digunakan saat ini dapat dikategorikansebagai kriteria minimal untuk menerima sebuah kesaksian hilal. Hal inimerupakan sebuah kemajuan yang luar biasa dalam Lajnah Falakiyyah PBNU yangoleh ketua Lajnah Falakiyyah PBNU, KH. Ghozalie Masrurie, disebut telah berlaricepat. Pada mulanya NU hanya menggunakan rukyat, kemudian juga menggunakanhisab untuk memandu rukyat, dan mulai menggunakan kriteria imkan rukyat sebagainilai minimal diterimanya kesaksian rukyat. LFPBNU juga meningkatkan kemampuanrukyatnya melalui berbagai pelatihan dan perlengkapan rukyat yang baik hal inibisa dilihat dengan adanya NUMO (Nahdlotul Ulama Mobile Ulama’;).

 

Beragam langkah kemajuan tersebut menunjukkan LFPBNU dinamis untuk mencari yangpaling baik sebagaimana kaidah yang dipegang “al-Mukhafadhotul ‘alal QodimisSholih wal Akhdu bil jaded al-Aslah”.

 

Semoga Allah memanjangkan umur kita untuk menjumpai Bulan penuh berkah, BulanSuci Ramadhan 1432H. [oleh : Hendro Setyanto]

 

Tabel1. Data posisi Hilal pada tangal 2 Juli 2011, 31 Juli 2011 dan 29 Agustus2011 yang diperkirakan bertepatan dengan tanggal 30 Rajab 1432H, 29 Sya’ban1432H dan 29 Ramadhan 1432H. 

 


By : yansen ([email protected])

Sumber : http/nu.or.id/page/id/dinamic_detil/14/32814/Teknologi/Hilal_Ramadhan.html

 

 


Categories: Kajian Forum Silaturahmi Pelajar Muslim Cirebon

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Recent Videos

65 views - 0 comments