|
|
Assalamualaikum...???
DR. Muhammad Hikam StafPengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia
Beliau adalah PraktisiNaqshbandi-Haqqani (Murid Mawlana Syaikh Hisham Kabbani qs dan Shaykh MuhammadNazim Adil al-Haqqani)) dari : http://www.gusmus.net/
23 Desember 200511:08:28
Judul ini bisa langsungdigugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atautasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlahal qalb (pembersihkanhati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupanspiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkaninteraksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementerseperti quark, elektron, dan proton sampaibenda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan denganmateri yang tangible (dapat dipegang) atau hal-halyang dapat diterangkan secara rasional.
Titik kontras yang lainadalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikansebagai suatu bentuk kehidupan yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorangsufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan,meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampaiekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untukbercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kalidihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat danperilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan dilaboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yangobyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atauyang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapatdilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufiseseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.
Sekilas tampak sekalisusah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadimakin jelas antara Fisika klasik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampakdari luar dari Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufismeternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisikamodern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suaturealitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoksdan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yangtersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahamanmanusia.
Sebelum masuk lebihjauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada baiknya gambaran tentang Fisikaklasik kita lihat kembali. Konsep filosofis Fisika klasik adalah analitik,mekanistik dan deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkanalam semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian inisemua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkanhukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaandiketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka perilakusuatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan.Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuhbebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satucontoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalahramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik danternyata cocok dengan hasil pengamatan.
Tidak dapat disangkalbahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yangdimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disainyang berdasarkan perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatananfilosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secaraterus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik sepertiperan dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halustidak ada lagi dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untukdinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangatdireduksi sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untukberputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.
Kesuksesan FisikaNewtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis, dunia kasat mata danpada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Diawal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomenamikroskopik pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika,muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani olehBohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yangdiungkapkan Einstein.
Fisika Kuantum mempunyaiimplikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentangatom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser danchips mikroskopis yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan dibidang teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapatditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperolehgambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar)dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.
Implikasi filosofisFisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang prinsip ketidakpastianHeisenberg dan participating observer (hasil eksperimen selalu tergantung padapengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benarmengamatinya). Dalam dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatukepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandanganterakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukupramai.
Dalam teori Kuantumsetiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkansuatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikeldapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapatditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan initidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatueksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebutmeramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda,tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan.Partikel tersebut tidak punya sifat “asli”.
Oleh para Fisikawankonsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah“eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing inibisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu sajasemua ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untukmenerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut sepertikeadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensipengembangan teori Kuantum.
Albert Einstein sendirisangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanyaEinstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efekfotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensifilosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”.Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentangdeterminisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantumyang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapatmenerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupansehari-hari.
Lebih jauh tentangkonsep participating observer,pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan olehpengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitiansosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatubenda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh karenaitu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (consciousness) untukmenjadikan sesuatu benda menjadi “real”. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidakakan ada.
Disini mulai jelastitik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau mistisisme Timurlainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair Rumi:
"Aku adalahkehidupan dari yang kucintai
Tempatku tanpa tempat,jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa;semua adalah kehidupan dari yang kucintai".
Juga kita dapat lihatpendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:
"Kosmos berdiridiantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murniwujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan,dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dankalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk".
Bahasa Rumi “Tempatkutanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangatmemiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang“hidup yang juga mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yangdigunakan disini.
Selanjutnya dalamkerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu:masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik–ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapatdikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan“dunia lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkanmany worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yangdiungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kitatempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumitentang hati yang bisa menuju ke “Pintu-pintu ke dunia lain.”
Rumi menulis dalampuisi yang lain “Sang Sufi bermi'raj ke 'Arsy dalam sekejap, sang zahidmembutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikitmenunjukkan nada yang agak sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkanadanya keserupaan dengan konsep relativitas pada Fisika modern.
Para ahli astrofisikamodern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaanpenciptaan —big bang— dan galaksi-galaksi tersebut dalamkosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitukelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang,seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasarseperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulangdalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semuadalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secarasederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naikmenuju (cosmic ascent) kepada Allah.
Pencarian padananantara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalahyang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu,ketidakpastian, “hidup tetapi mati”, kesadaran dapat mempengaruhi materi, “adatetapi tidak ada”, siklus kehidupan dan asal usul semesta.
Beberapa hal dapatdengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasametafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkahkesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuanlogis manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yangdiungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku adalah hartatersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapatdiketahui”
Kita biarkan pertanyaanini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti “semangat teoriKuantum” yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusiameskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakahsekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisikamodern?
Sudah saatnya parafisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di Fisika namun merujuk padaentitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu energi. Di Fisika, istilah energimenunjukkan suatu besaran yang sangat real, sementara di sufisme istilah inilebih abstrak. Para ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena adakeserupaan, meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbuktisecara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energimetafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan sepertipenyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidakmengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnyamelakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasanhal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapatmempengaruhi materi (mind over matter).
Hal ini hanya merupakansalah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Akan muncul sekali banyakmanfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme danFisika modern.
Wallahu a’lam bishawab.
Categories: Kajian Forum Silaturahmi Pelajar Muslim Cirebon
The words you entered did not match the given text. Please try again.
Oops!
Oops, you forgot something.