Remaja Masjid Raya At- Taqwa
Kota Cirebon

Home

Hakikat Nama Allah swt dan Hakikat Nur Muhammad

Posted by Remaja Masjid Raya At- Taqwa on August 6, 2011 at 1:10 PM

Suhbat Mawlana Shaykh MuhammadHisham Kabbani

Rue Boyer 20 Paris, Minggu, 19 Maret 2006

Diambil dari www.m evlanasufi.blogspot.com

( Dalam Rangka Peringatan MawlidNabi Muhammad

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam

Allah Allah Allah Allah Allah Allah‘Aziiz Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah

Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah Allah Allah allah Allah Allah Sulthana Allah

Allah SWT Huwa Sulthan, Dia-lah SangSulthan.

A’uudzu billahi minasysyaithanirrajiim,

Bismillahirrahmanirrahiim. Nawaytul Arba’in Nawaytul

I’tikaf, Nawaytul Khalwah, Nawaytul ‘Uzlah, Nawaytur

Riyadhah Nawaytus suluuk lillahi ta’ala l-‘Azhiim fii

hadzal masjid.

Sangatlah penting untuk mengetahuibahwa Allah SWT

adalah Sang Sulthan, lihatlah apa yang tertulis di

sana [Mawlana Shaykh Hisham menunjuk ke kaligrafi

“Allah” dan “Muhammad” yang tergantung di tembok]

Allah dan di sampingnya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam -. Artinya, tak seorang pun akan

ditanya melainkan ia yang disisi Sang Pencipta.

Karena di mahkamah pengadilan zaman sekarang, kalian

tak akan langsung ditanyai, melainkan yang akan

ditanyai adalah ia yang bertanggung jawab atas sang

terdakwa, yaitu sang pengacara. Kalian tak bertanya

langsung pada sang terdakwa, melainkan bertanya pada

orang yang mewakilinya. Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, Allah SWT

telah meninggikan derajat beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – untuk ditanyai mewakili

keseluruhan ummat.

Para Sahabah ra, keseluruhan darimereka tahu akan

hirarki mereka. Artinya, hirarki itu ada, dan mereka

tidak melangkahi batas hirarki mereka, setiap orang

mengetahui batasan mereka seluruhnya hingga mencapai

Sayyidina Abu Bakar ra, dan kemudian dari Sayyidina

Abu Bakar ra untuk mencapai Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah -, suatu saat

ketika beliau menjadi khalifah, pernah seorang wanita

datang kepadanya sebagai seorang terdakwa dalam

perzinahan. Beliau pun hendak menghukum qisas wanita

tersebut, ketika sayyidina ‘Ali – karramAllahu wajah -

berkata pada beliau, “Hentikan! Ya, ‘Umar, apa yang

kau lakukan?”

Mereka saling mendengarkan pada satusama lainnya,

tidak seperti orang-orang zaman sekarang. Beliau

[‘Umar] tahu hal ini bahwa Nabi – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – pernah bersabda, “Ana madinatul

‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuhaa”, ‘Aku adalah Kota

Pengetahuan dan ‘Ali adalah Pintunya”. Beliau [‘Umar]

tahu akan hirarki yang ada, “Ya, ‘Aliy, apa yang mesti

kulakukan?” ‘Ali pun menjawab, “Biarkan dia melahirkan

bayinya terlebih dahulu, karena bayi tersebut tidaklah

bersalah. Setelah itu, baru kau dapat menimbang apa

yang akan kau lakukan [atasnya]”.

Ini menunjukkan pada kita betapamereka, para Sahabat,

saling menghormati satu sama lainnya, dan menunjukkan

pula bahwa mereka memahami akan hirarki. Sayyidina

‘Umar – radiyAllahu ‘anhu wa ardhah – berkata, “’Ali

telah menyelamatkan diriku dua kali”, yaitu yang

pertama dalam kisah tentang wanita yang berzina

tersebut di atas, dan kali yang kedua dalam kisah

tentang sahabat Uwais al-Qarani. Saya akan menjelaskan

tentang hal kedua itu, insya Allah. Jadi ada dua hal

tadi, dan juga di kali lain tentang Batu Hitam [Hajar

al-Aswad].

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah bahwa

semua orang yang ada di sini adalah bagaikan

bunga-bunga yang tumbuh di suatu taman. Setiap bunga

memiliki aromanya yang berbeda, dan setiap bunga juga

memiliki warnanya yang khas pula. Dan seorang insinyur

pertanian tahu akan kekhasan setiap bunga berdasarkan

warna dan aromanya masing-masing. Dan, karena itulah,

jika kalian berkunjung ke suatu kebun raya, kalian

akan mendapati insinyur pertanian yang tahu akan

setiap bunga yang ada di kebun tersebut, dan ia tak

akan luput perhatiannya pada satu bunga pun di kebun

tersebut. Ia tak boleh melupakan atau melewatkan satu

bunga pun, karena jika sampai ia melewatkan satu saja,

itu berarti ia bukanlah seorang insinyur yang handal.

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam -, Allah SWT telah membusanai beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – dengan

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat-Nya yang Indah. Ia SWT

telah memanifestasikan Diri-Nya sendiri melalui

Nama-Nama- dan Sifat-Sifat Indah-Nya melalui sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Allah ingin memanifestasikan Diri-Nya, ketika Ia SWT

berfirman [dalam suatu hadits qudsi, red.], “Kuntu

Kanzan Makhfiyan Fa aradtu an u’raf, fakhalaqtul

khalq.” “Aku adalah ‘Harta Tersembunyi’ dan Aku ingin

Diri-Ku dikenali, maka Ku-ciptakan ciptaan”. Allah

ingin diketahui. Untuk diketahui, haruslah oleh suatu

ciptaan, dan ciptaan tersebut mestilah membawa

keindahan Sang Pencipta. Dan untuk membawa keindahan

ciptaan, haruslah seseorang, sesuatu, suatu cara, yang

Allah Ta’ala akan mewujudkanya, sedemikian rupa hingga

[sebagaimana difirmankan Allah SWT], “Allahu Nurus

Samawati wal Ardh Matsalu Nuurihi kamisykaatin…” [QS.

An-Nuur 24:35], Allah-lah Cahaya Lelangit dan Bumi

[untuk meliputi bundel Cahaya tersebut]; perumpamaan

Cahaya-Nya adalah bagaikan suatu bundel yang berisikan

berbagai manifestasi yang memiliki lampu dengan

berbagai warna pelangi yang demikian beragam.

Sebenarnya, tadinya saya hendakmenceritakan tentang

Sayyidina ‘Umar ra dan ‘Ali ra untuk menjelaskan hal

tertentu, tapi saya pikir mereka mengalihkan

[pembicaraan] saya. Bukan Sayyidina ‘Umar dan ‘Ali

yang mengalihkan saya, tapi Mawlana Shaykh Nazim qs

[semoga Allah melimpahkan barakah-Nya pada beliau dan

mengaruniakan beliau panjang umur]… Saya akan

kembali ke topik tersebut, tapi beliau sedikit

mengalihkan [pembicaraan kita].

Saat Allah SWT adalah suatu ‘HartaTersembunyi’,

artinya Esensi-Nya, Dzat-Nya, tak dapat diketahui,

yaitu Haqiqat uz-Dzaat il-Buht liLlaahi Ta’ala,

Haqiqat dari Esensi Ilahiah yang tak seorang pun dapat

memahami Dzat tersebut, artinya, tak seorang pun dapat

memahami apa hakikat Sang Pencipta. Allah Ta’ala ingin

agar Dzat-Nya, Esensi-Nya diketahui, Ia SWT pun

‘menciptakan’ Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah untuk

mendeskripsikan Esensi/Dzat tersebut secara

berkesinambungan tanpa ada henti. Dan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama serta

Sifat-Sifat Indah nan Mulia ini, tak mungkin, tak

mungkin seorang pun mampu memahami mereka, kecuali

Nama-Nama dan Sifat-Sifat tersebut memanifestasikan

diri mereka pada orang tersebut. Karena jika orang, di

zaman ini, membaca Asma-ullahi l-Husna

Huwallahulladizii laa ilaha illah huwa ‘aalimul ghaybi

wash shahaadati huwa ar-Rahmanu r-Rahiim…[QS. Al-Hasyr

59:22-24], mereka memberikan suatu arti, mereka

berusaha mendeskripsikan maknanya. Namun, pada

hakikatnya, Nama-Nama tersebut tidaklah dapat

dilukiskan atau dijelaskan, Nama-Nama dan Sifat-Sifat

tersebut haruslah menjadi suatu cita-rasa, suatu

pengalaman yang dirasakan. Kalian dapat

mendeskripsikan apa pun yang kalian suka. Saya pun

dapat mendeskripsikan air ini [Mawlana menunjuk ke

suatu gelas berisi air] sebagai suatu air atau suatu

gelas, tapi kalian jika kalian tak mencicipi air

tersebut, kalian pun tak dapat merasakan hakikat

kelezatan air yang menyegarkan itu.

Allah SWT ingin untuk diketahui.Maka, untuk

diketahui, haruslah ada suatu ciptaan. Tanpa suatu

ciptaan, maka diketahui oleh siapa? Allah SWT

Mengetahui Essensi, Dzat-Nya. Allah Ta’ala mengetahui

Diri-Nya sendiri. Bahkan Allah Ta’ala tahu akan

Diri-Nya, Allah tahu akan Sang Esensi, Esensi-Nya,

Dzat-Nya; dan Nama-Nama serta Sifat-Sifat-Nya yang

Indah tahu akan Dzat, tapi tak setiap Nama tahu satu

bagian (kita dapat mengatakannya bagian) atau satu

Elemen dari Esensi/Dzat, tidak semuanya. Setiap Nama

memiliki signifikansinya masing-masing, tak dapat

mengetahui Nama yang lain. Itulah Keagungan Allah.

Setiap Nama adalah unik bagi dirinya. Karena itulah,

kita mengucapkan “Allah”, Nama “Al-Ismu l-Jami’ li

l-Asma’ was Sifat.”

“Allah” adalah Nama yang meliputikeseluruhan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat. “Allah” mendeskripsikan

Dzat. Dan Nama itu, “Allah”, meliputi dan memahami

Sang Esensi, Dzat. Jadi, untuk hal ini, suatu ciptaan

haruslah muncul agar rahmat Allah SWT ini, yang berupa

suatu pelangi dari Nama-Nama dapat dianugrahkan atau

dibusanakan pada seseorang. Dan, karena itulah Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda

ketika beliau ditanya tentang apakah yang Allah

ciptakan pertama-tama. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – menjawab, “Ia SWT pertama-tama

menciptakan cahayaku” untuk mengenakan

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala ini. Jadi, cahaya tersebut

diciptakan dengan tujuan untuk mengemban

manifestasi-manifestasi [tajalli] dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat indah tersebut. Cahaya dari Muhammad

tersebut, An-Nuuru l-Muhammadi, adalah manifestasi

dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah yang muncul dalam

Muhammad, dalam an-Nur Muhammad tersebut, Cahaya dari

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Cahaya Muhammadaniyyah.

Nur Muhammadi yang memantulkanCahaya dari Nama-Nama

dan Sifat-Sifat Indah Allah tersebut, memantulkan ke

siapakah? Beliau adalah suatu cermin yang memantulkan

cahaya tersebut bagaikan bulan yang memantulkan cahaya

matahari. Karena itulah, Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, An Nuur

Muhammad tersebut, Cahaya Muhammadi tersebut menjadi

suatu Pelangi Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah, dan ia

pun mesti memanifestasikan dirinya pada sesuatu yang

dapat membawa cahaya tersebut selanjutnya. Karena

itulah salah satu nama beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – adalah Muhammad, karena esensi/dzat

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – tak

dapat dilukiskan, tak dapat dijelaskan, tak dapat

digambarkan, kecuali hanya melalui

manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah Ta’ala.

Jadi, Nabi Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – pun harus memanifestasikan diri beliau pada

sesuatu. Maka, Allah Ta’ala pun menciptakan dari

Cahaya beliau, Adam ‘alayhissalam untuk muncul melalui

diri beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Diriwayatkan bahwa Allah SWT menciptakan Adam, karena

itu Allah SWT menciptakan Adam dari manifestasi

nama-nama dan sifat-sifat luhur yang dimiliki Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, melalui

manifestasi-manifestasi Nama-Nama dan Sifat-Sifat

Indah Allah SWT. Ia SWT menciptakan Adam dari Cahaya

itu. Dan, karena itu pula, beliau – sallaLlahu ‘alayhi

wa aalihi wasallam – bersabda, “Kuntu nabiyyan wa adam

bayna l-maai wa t-tin”, “Aku adalah seorang Nabi

ketika Adam masih di antara tanah liat dan air”,

karena Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

telah mengetahui siapa dirinya.

Karena manifestasi dari Nama-Namadan Sifat-Sifat

Indah tersebut adalah seperti ketika kalian memutar

suatu mesin, atau suatu turban, dan ia berputar,

berputar, dan berputar, hingga menghasilkan energi,

dan menghasilkan energi, dan menghasilkan energi,

hingga energi tersebut menjadi layaknya sebuah

generator. Suatu generator jika diputar amat cepat,

akan memberikan aliran listrik. Dan dengan aliran

listrik yang dihasilkan tersebut, kalian pun dapat

menggunakannya untuk berbagai keperluan. Seperti itu

pula, Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

saat Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah ini

dimanifestasikan pada Realitas Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

Hakikat Sayydina Muhammad –sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -, Haqiqatul Muhammadaniyyah¸ Allah

Ta’ala pun mencelupkan cahaya Muhammad dengan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat ini dalam Bahrul Qudrah-Nya

[literal bermakna “Samudera Kekuatan”-Nya, red.]. Saat

beliau dicelupkan dalam Bahrul Qudrah ini, beliau pun

berputar, dan berputar, berdasarkan Hadits Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di atas

[tentang penciptaan cahaya beliau, red.]. Beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – berputar, dan

berputar, memancarkan energi, yang dari energi

tersebut, Adam muncul.

Jadi, karena itulah Adam‘alayhissalam diciptakan dan

dibentuk/dicetak dengan cahaya Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -. Saat Allah

berkehendak menciptakannya, Ia SWT memerintahkan

Jibril ‘alayhissalam untuk pergi ke Bumi dan mengambil

segumpal tanah liat dari Bumi, dan membawanya,

sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, “Wa laqad

karramna Bani Adam, wa hamalnahum fil barri wal bahr,

wa razaqnahum mina t-tayyibaati, wa fadhdhalnaahum

‘ala katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan”[QS.

Al-Isra’ 17:70] “Dan sungguh telah Kami muliakan

manusia (Anak Adam), dan Kami perjalankan mereka di

Daratan dan Lautan, dan Kami beri mereka rizqi dari

hal-hal yang baik, serta Kami lebihkan diri mereka

dari sekalian ciptaan Kami lainnya”.

Allah Ta’ala memuliakan sayyidinaAdam dengan membawa

tubuhnya, Ia Ta’ala membawa tubuhnya dari Bumi ke

mana? Ke Langit! Allah SWT membawa dari Bumi, tubuh

Adam, realitas Adam, Hakikat Adam, tubuh dari Adam

dibawa dari Bumi, dan Allah Ta’ala memuliakan manusia

dengan mengirim mereka ke Surga melalui Adam

‘alayhissalam. Di sana, Ia SWT membentuknya dengan

nama-nama dan sifat-sifat mulia dari sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan karena itulah, An-Nuurul Muhammadi terdapat di

dahi Adam. Dan saat cahaya Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – tersebut muncul di

dahinya, saat itulah masalah dengan Iblis pun terjadi.

Iblis demikian marahnya karena iamengharap untuk

menjadi cahaya tersebut. Karena al-Maqam al-Mahmud,

Kedudukan Yang Terpuji itu telah diberikan Allah SWT

pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, melalui cahaya tersebut. Iblis

menginginkan cahaya itu. Karena itulah, ia beribadah

dan melakukan sajdah [sujud, red.] di setiap jengkal

Surga, dan di setiap ruang di Alam Semesta, setiap

jengkal tangan, satu sajdah, satu sajdah, satu sajdah.

Ia berharap untuk dapat meraih cahaya tersebut, tapi

akhirnya setelah ia mengetahui bahwa ia tak akan

mendapatkan cahaya tersebut, ia pun mulai memusuhi

Adam ‘alayhissalam dengan membisikkan [was-was] ke

telinganya untuk membuatnya turun.

Kita akan berbicara tentang masalahini, tentang Iblis

dan Adam, pada waktu lain. Malam ini, kita melanjutkan

dengan sesuatu yang lain. Jadi, ketika cahaya

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – tersebut tengah berputar, dan bagaikan

sebuah generator yang darinya memancar keluar kekuatan

yang demikian dahsyatnya, ia mengeluarkan energi

tersebut. Dan dari energi tadi, terciptalah sumber

asal-muasal dimensi spiritual dari cahaya manusia, dan

dengan kekuatan tersebut, masuklah [energi spiritual

tersebut] ke dalam tanah liat, suatu bentuk yang telah

disiapkan oleh Allah SWT. Karena itulah Allah SWT

berfirman, “Wa nafakha fiihi min ruuhihi”[QS.

As-Sajdah 32:9] “Aku tiupkan dalam Adam, dari Ruh-Ku,

Cahaya-Ku, atau dari Ruh, dari Manifestasi-manifestasi

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah” yang telah

dimanifestasikan pada Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – dan muncul keluar sebagai

suatu Sumber Energi yang bertiup ke Adam, dengan cara

itulah Adam bergerak dan ruh itu keluar.

Karena Adam dibentuk pada suatutempat tertentu, dan

para Malaikat datang, melihat dan pergi, lalu datang,

melihat dan pergi, sambil bertanya-tanya, “Apa itu?”

“Apa itu?” Tak nampak suatu gerakan apa pun [dari

bentuk fisik Adam, red.]. Begitu cahaya tersebut masuk

ke dalamnya, ia pun bergerak. Artinya, ia bergerak

dengan cahaya Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -, An-Nuuru Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam -. Sumber dari ciptaan yang Allah SWT

menciptakan alam semesta ini darinya, dari An-Nuuru

l-Muhammadi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Jadi, apakah rahasia di balik NuuriMuhammadi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – yang membuat

Adam ‘alayhissalam bergerak?

Setiap malam kalian mencatu energitelepon selular

kalian [Mawlana memegang sebuah telepon selular di

tangannya]. Setiap malam kalian mencatu energi

komputer kalian. Jika catu dayanya habis, kalian pun

mencatunya dengan apa? Dengan energi di malam itu.

Jika itu habis, maka peralatan kalian pun berhenti.

Saat Adam ‘alayhissalam dicatu energi dengan Nur

Muhammadi tersebut, seluruh sperma-sperma manusia

berada di punggungnya, berenang di punggungnya. Dan

manusia, saat ini, berapa banyak sperma [tersenyum,

hadirin tertawa], berapa banyak sperma yang

dikeluarkan seorang laki-laki setiap kalinya? [hadirin

dan Mawlana tertawa].

Setiap kalinya ada 500 juta sperma.Dan salah satu

dari 500 juta sperma ini, salah satunya akan

terhubungkan dengan suatu sel telur. Subhanallah!

Lihat, lottere/undian, bahkan dalam rahim sang ibu pun

ada suatu undian. Artinya undian diperbolehkan dalam

Islam [dengan nada bergurau… hadirin pun tertawa].

Apakah kalian bermain lottere? Kita semua bermain

lottere.

Saya mendengar dari Grandshaykh,semoga Allah

merahmati ruhnya, Mawlana Shaykh ‘Abdullah

ad-Daghestani, dan dihadiri pula oleh Mawlana Shaykh

Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, Sulthanul Awliya’;

pada saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan dari

Bahasa Turki ke Bahasa Arab, beliau berkata, bahwa

Allah SWT kepada Awliya’ Allah, yaitu bagi Awliya’

Allah, hal ini tidak ada di buku mana pun. Apa yang

kita bicarakan di sini, tak akan kalian temui di

buku-buku mana pun. Beliau berkata bahwa Allah SWT

ingin menunjukkan kebesaran Sayyidina Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – di hari Kiamat

nanti dan betapa besar Ummah beliau – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Ia berkata bahwa Awliya’

Allah baru saja [di masa Grandshaykh saat itu]

menerima ilham pada Awliya’Allah dari qalbu Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bahwa Allah SWT untuk menunjukkan betapa besar Ummatun

Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dari

setiap sperma yang kalian keluarkan setiap kali kalian

melakukannya, jika seorang anak muncul, atau pun tak

ada anak yang muncul, tergantung dari berapa banyak

sperma yang keluar, Allah Ta’ala akan menciptakan

manusia dalam jumlah yang sama yang akan menjadi

anak-anak kalian.

Allah SWT untuk menunjukkankeagungan Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

kata Grandshaykh (semoga Allah melimpahkan barakah

pada ruhnya), bahwa setiap kali kalian melakukannya,

apakah kalian memiliki anak atau tidak, seberapa

banyak sperma yang keluar dari diri kalian, 500 juta,

Allah pun akan menciptakan 500 juta manusia yang

mereka akan menjadi anak-anak kalian yang akan

mengerubuti diri kalian sambil berkata, “Ayahku,

Ayahku” di Hari Kiamat nanti, di hadapan Nabi -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan mereka

akan menjadi bagian dari Ummatun Nabi – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -. Karena itulah Ummah ini

di Hari Pembalasan nanti akan menjadi Ummah terbesar,

yang meliputi setiap tempat.

Marilah kita kembali ke kisah Adam‘alayhissalam Kita

mencatu energi ke alat ini setiap malam, ke telepon

selular ini, atau ke komputer, atau apa pun jua. Kita

mencatu energinya. Jadi, Allah SWT pun memerintahkan

Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah-Nya untuk

termanifestasikan, dan menciptakan Muhammad -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – sebagai

Manifestasi dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Indah

tersebut. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah itu. Saat Allah SWT ingin untuk

memandang pada Manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Mulia-Nya, Ia SWT pun akan memandang pada

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -.

Dan manifestasi-manifestasi dari Nama-Nama dan

Sifat-Sifat Indah yang dibusanakan pada Nabi ini, kini

menjadi milik Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi

wasallam -.

Allah menghiasi diri beliau denganNama-Nama Indah dan

apa pun yang Allah SWT inginkan untuk membusanai dan

menghiasai diri beliau. Kini, Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – pun memanifestasikan hal

tersebut pada Adam melalui Cahaya itu, yang bergerak

ke dalam [tubuh] Adam dan mulai membuatnya

bergerak…. Tapi, sesuatu hal yang sesungguhnya amat

penting, adalah bahwa Cahaya tersebut turut pula

mencatu daya ke sperma-sperma manusia, dari seluruh

ras manusia yang saat itu tengah berada di punggung

Sayyidina Nabi Adam as, mereka pun dicatu (oleh Cahaya

itu) seperti charger ini. Setiap sperma dicatu

energinya oleh Cahaya tersebut. Dan begitu sperma

tersebut dicatu energinya oleh Cahaya tersebut, sperma

(atau bakal manusia tersebut, red.) memiliki umur

kehidupan sesuai dengan energi yang dicatukan padanya

lewat Cahaya itu.

Karena itulah, kalian melihat padaorang-orang, untuk

suatu sperma yang mungkin cuma dicatu/ditetapkan

selama satu jam, maka darinya muncul seseorang yang

setelah kelahirannya hanya hidup selama satu jam, lalu

mati; orang yang lain mungkin mati setelah 10 tahun,

yang lain setelah 20 tahun, dan yang lain setelah 50

tahun, sementara yang lain setelah 100 tahun…

Bergantung pada seberapa banyak [energi] telah

dicatukan atau ditetapkan pada sperma-sperma ini dari

Cahaya tersebut.

Jadi, Cahaya tersebut, Energitersebut, saat ia

berakhir, energi pencatunya berakhir, seperti saat

baterai habis, maka ia pun mati, dan kadang-kadang,

kita tak dapat mencatunya lagi. Maka, apa yang akan

kalian lakukan? Melemparnya, habis! Mereka berkata

pada kalian, “Kau perlu baterai baru”. Artinya, saat

seseorang mati, karena energinya, baterainya telah

habis, maka ia pun wafat, dan ia perlu kini, baterai

baru lainnya di alam kuburnya. Mekanisme pencatuan

energinya pun berbeda untuk hal ini.

Jadi, karena itulah, kekuatan atauenergi itu, saat

diberikan, tidaklah menjadi miliknya. Energi itu

tetaplah milik dari Sang Sumber Utama. Kalian tak

dapat mengambil aliran listrik begitu saja dari

jalanan. Mereka berkata pada kalian, “Tidak, tidak,

bukan kalian yang punya itu, kami akan memberikannya

pada kalian, dan kami akan menaruh suatu meteran bagi

kalian, untuk memberikan pada kalian sebanyak yang

kalian butuhkan”. Dan sumber utama energi tersebut,

atau sumber dari cahaya itu adalah pada ia yang

memiliki kekuatan/daya.

Dan siapakah yang memberikannya padaAdam

‘alayhissalam? Allah, dari Allah pada Sayyidina

Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -,

dan dari Sayyidina Muhammad – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – kepada Sayyidina Adam ‘alayhissalam

Karena itulah “Wa laqad karramna Bani Aadam…”[QS

Al-Isra’ 17:70] Diri kita, manusia dimuliakan oleh

Allah, karena kita tercipta dari tiga cahaya: cahaya

Sayyidina Adam, cahaya Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan Cahaya dari Allah

SWT. Cahaya ini pun mesti kembali, “Inna lillahi wa

inna ilayhi raji’uun” [QS. Al-Baqarah 2:156]

“Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kepada

Allah-lah kita akan kembali”.

Cahaya itu harus kembali keSumbernya. Dan karena itu

pula Nabi – sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -

bersabda, “Tu’radhu ‘alayya a’malu ummatii” “Aku

mengamati ‘amal Ummat-ku, jika aku mendapati kebaikan

padanya, aku pun berdoa dan memuji Allah, dan jika aku

melihat keburukan padanya, aku beristighfar mewakili

mereka.” Artinya apa pun yang kalian lakukan, beliau -

sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam – adalah

seseorang yang bertanggung jawab atasnya, yang akan

ditanya tentangnya. Beliau – sallaLlahu ‘alayhi wa

aalihi wasallam – haruslah memelihara cahaya itu dan

mengembalikannya dalam keadaan suci bersih dan murni

seperti keadaan awalnya, saat Allah SWT mengirimkannya

ke Muhammad, dan Muhammad ke Adam.

Karena itu Nabi – sallaLlahu ‘alayhiwa aalihi

wasallam – bersabda dalam hadits tersebut, “Tu’radhu

‘alayya a’malu ummatii, fa in wajadtu khayran

hamadtullah, wa in wajadtu ghayru dzalik

fastaghfartullah”. Dan Sayyidina Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam – bersabda, “Aku mengamati

amal Ummat-ku dalam kuburku.” Artinya, beliau selalu

mendampingi Ummah. Dan Ummah beliau tidaklah hanya

ummah [akhir zaman] ini, melainkan keseluruhan hingga

ke masa Adam ‘alayhissalam.

Karena itulah, pada Adam, Allah SWTmemberikan padanya

nama Adam yang terdiri atas tiga huruf: Alif, Dal, dan

Mim. Jika kalian melihat pada huruf pertama Allah, apa

itu? Alif. Jika kalian melihat pada huruf pertama

Muhammad, apa itu? Miim. Dan di tengahnya adalah huruf

Dal. Artinya, Allah, huruf pertama pada “Adam” adalah

dari huruf pertama Sang Pencipta yaitu Alif, huruf

terakhir adalah Miim, dan huruf di tengah adalah Daal,

jadilah “ADAM”. Daal adalah Dunya, yaitu seluruh

ciptaan. Jadi dari Allah SWT menciptakan suatu

ciptaan, memberikannya pada Muhammad – sallaLlahu

‘alayhi wa aalihi wasallam -, dan itulah Adam. Sesuatu

yang diwakili oleh Adam ‘alayhissalam

Sayyidina Muhammad – sallaLlahu‘alayhi wa aalihi

wasallam – adalah ia yang akan ditanya di hadapan Sang

Pencipta, mewakili seluruh Ummah. Kita, keseluruhan

diri kita, adalah pengikut dari Shaykh kita, dan

Syaikh kita akan ditanya di hadapan Sayyidina Muhammad

- sallaLlahu ‘alayhi wa aalihi wasallam -, tentang

keseluruhan diri kita.Setiap malam, beliau ditanya,

Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah melimpahkan

barakah-Nya pada beliau. Dan karena itu pula, Salat

Najat dilakukan, karena di saat Sajdah setelah Salatun

Najat tersebut, beliau mempersembahkan setiap orang,

semua selama 5 menit. Dan beliau harus mempersembahkan

mereka dalam keadaan bersih suci, tanpa ada noda apa

pun pada diri mereka. Dan beliau harus memikul beban

mereka pada diri beliau sendiri. Itulah Awliya’ Allah.

Dan, kita tak akan berbicara lebih lanjut tentang hal

ini.

Saya pikir sudah cukup apa yang kitaperbincangkan.

Kita akan berbicara tentang Sayyidina Uways Al-Qarani

esok. Dan, saya akan menjelaskan tentang pentingnya

disiplin. Disiplin dalam segala sesuatunya, disiplin

di antara satu sama lain, disiplin di antara murid.

Sebagaimana alam semesta ini memiliki disiplin lewat

Geometri, keseluruhan sistem ini memiliki suatu

disiplin. Kalian tak dapat menghancurkan disiplin.

[Tanpa disiplin,] segala sesuatunya akan hancur

berantakan. Begitu banyak orang mengambil geometri…

dan berusaha untuk… Mereka melihatnya sebagai suatu

jalan dispilin, karena pada geometri ada garis lurus,

ada lingkaran, atau dimensi-dimensi yang berbeda-beda,

berbagai cara untuk menggambar garis, …dan

orang-orang berusaha mendefinisikan spiritualitas

darinya.

Saya akan mengulas tentang hal ini,insya Allah. Ada

disiplin linear, ada disiplin circular. Dan insya

allah, kita akan memberikan bukti-bukti ilmiah akan

apa yang telah mereka temukan di zaman ini, suatu

teori yang kini banyak dipakai oleh para Sufi. Dan

kita punya seorang fisikawan PhD di sini [Syaikh

Abdullah Grenoble]. Kita akan bertanya padanya,

Abdallah, beberapa pertanyaan. Insya Allah, besok, di

sini… Asyhadu An Laa ilaaha illaLlaah wa asyhadu Anna

Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh.. [Dilanjutkabn Dzikir

Khatm Khawajagan]

Wa min Allah at tawfiq

Wassalam, (arief hamdani)

 


Pengetik Ulang : yansen([email protected])

Sumber : Berbagai sumber

Categories: Kajian Forum Silaturahmi Pelajar Muslim Cirebon

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

0 Comments

Recent Videos

65 views - 0 comments