|
|
Assalamualaikum...
Maaf ya baru ngisi artikel lagi...!!! ![]()
Syekh Atha’ as-Silmi dikenal sebagaiguru mengaji yang tulus. Selain itu, ia juga dikenal sebagai seorang yangpandai menenun pakaian. Sekali dalam seminggu, ia membawa hasil tenunannya kepasar untuk dijual. Syekh Atha’ as-Silmi sangat yakin bahwa tenunannya sangatapik dan tak ada cacat.
Di tengah hiruk-pikuk keramaianpasar, kalimat tasbih dan tahmid mengiringi hembusan-hembusan napasnya.Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan melihat-lihat pakaian tenunannya.Orang tersebut adalah seorang penjahit. Kemudian, orang itu berkata, “Baju inicukup bagus. Namun sayang, ada cacatnya, ini, ini, dan ini.”
Dengan tanpa kata, Syekh Atha’menyahut pakaiannya dari tangan orang itu. Kemudian, dia duduk dan menangisterisak-isak. Orang itu bingung melihat Syekh Atha’ menangis. Namun, penyesalantampak di wajahnya atas apa yang diucapkan. Dia meminta maaf bila ucapan tadimelukai hati. Dan, dia mau membeli tenunan itu berapa pun harganya.
Kemudian, Syekh Atha’ berkata,“Sebab yang menyebabkan aku menangis bukan seperti yang kamu kira. Aku telahbersungguh-sungguh menenun baju ini. Tenunan baju ini tidak seperti baju-bajulain yang telah aku buat. Aku membuatnya lebih halus, lalu kemudian akutambahkan keindahan di dalamnya. Setelah itu, aku periksa dengan amat telitiuntuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya.
Tapi, ketika hasil tenunanku inidiperiksa oleh manusia, terlihat ada cacat di bagian yang mana aku tidakmenyadarinya. Lalu, bagaimana nanti dengan amal-amal perbuatan kita tatkaladiperiksa oleh Allah, Zat yang Maha Tahu di Hari Kiamat nanti? Berapa banyakcacat dan dosa yang akan tampak dari amal ibadah kita, dan itu yang tidak kitasadari!”
Kisah di atas menggambarkan bahwaorang yang bertakwa, sangat sensitif dalam keimanan. Apa yang terjadi dihadapannya langsung mengetuk hatinya untuk ingat terhadap kebesaran dankekuasaan Allah. Mereka sangat takut akan segala kekurangan ibadah kepadaAllah. Mereka sangat sedih bila amal ibadah yang dikerjakannya selama initerdapat kekurangan dan ketidaksempurnaan. Hal itu, dapat menyebabkanberkurangnya pahala atau bahkan tertolaknya amalan yang dikerjakan. Jika ituterjadi, niscaya sia-sialah amal ibadahnya.
Imam Ibnu Jauzi menuturkan,“Ketakwaan dan keimanan akan mempertajam mata hati pelakunya. Apa pun peristiwayang terjadi di sekitar, ia akan dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.Panasnya musim kemarau mengingatkan pada api neraka, gelapnya malammengingatkan gelap gulitanya alam kubur, hawa sejuk dan indahnya musim semimengilhami untuk mencari rezeki yang halal.”
Ketajaman mata hati hanya dapatdiasah dengan taqarrub, mujahadah, dan bertawakal kepada Allah. Maka, tidakheran jika ada beberapa alim ulama yang mampu menguak rahasia di balikperistiwa karena mereka memiliki mata hati yang tajam.
Sumber : http://tarbiyahislamiyah.com/2010/mata-hati-yang-tajam/
By Zian ([email protected])
Categories: Kajian Forum Silaturahmi Pelajar Muslim Cirebon
The words you entered did not match the given text. Please try again.
Oops!
Oops, you forgot something.